e-KTP Pemohon Pemula Parigi Moutong, Masih Prioritas Disdukcapil

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com  – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun ini masih mempriotitaskan bagi pelayanan cetak e-KTP pemohon pemula Parigi Moutong atau masyarakat yang umurnya telah mencapai 17 tahun.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Administrasi Data Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Yamin, kepada redaksi kabarSAURUS di ruang kerjanya, Jum’at (04/06/2021).

Ia mengatakan, pihaknya masih memprioritaskan keping blanko e-KTP bagi pemohon pemula di Kabupaten Parigi Moutong yang baru saja memasuki usia 17 tahun.

Prioritas Disdukcapil ini, juga diperuntukkan bagi e-KTP pemohon pemula Parigi Moutong yang ingin mengubah status.

“Blanko e-KTP masih kami prioritaskan untuk pemohon pemula dan yang mau mengubah statusnya dalam KTP. Kalau untuk pencetakan kembali KTP yang hilang, itu masih menunggu,” ujarnya.

Ia menuturkan, pihaknya lebih memprioritaskan pemohon pemula di Parigi Moutong, karena biasanya mereka membutuhkan KTP untuk melengkapi persyaratan melanjutkan pendidikan.

“Mereka lebih butuh. Mungkin ada yang mau melanjutkan pendidikan di luar daerah, dan juga untuk mengurus SIM,” tuturnya.

Ia menjelaskan, biasanya Disdukcapil Parigi Moutong harus menunggu penunggalan data dari pusat. Sehingga, membutuhkan waktu seminggu untuk pencetakan dokumen kependudukan tersebut.

“Setelah merekam pihak kami mengirim data pemohon itu ke pusat data untuk dilakukan penunggalan, karena biasanya terdapat NIK ganda. Misalnya, disebabkan pemohon pernah berpindah tempat tinggal. Setelah penunggalan, baru bisa dicetak,” jelasnya.

Biasanya, lanjut Yamin, dalam sehari ada sekitar 50an orang warga kategori itu, datang ke Dukcapil untuk mengurus dokumen tersebut.

“Setiap hari pasti ada pemohon yang usianya memasuki 17 tahun dan sudah wajib memiliki KTP. Rata-rata 50 pemohon per hari,” sebutnya.

Ia menambahkan, selama tahun 2021, Disukcapil Parigi Moutong sudah menggunakan hampir 20 ribu keping blanko e-KTP.

“Tahun 2021 mungkin sudah ada 20 ribu keping blanko KTP yang terpakai,” tutupnya.

Baca juga berita terkait lainnya : https://kabarsaurusonline.com/2020/11/19/disdukcapil-parigi-moutong-mutakhirkan-kk-terbitan-2011-2017/

Kesbangpol Sosialisasi Pemendagri 78/2020 ke DPC-PBB Parigi Moutong

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Parigi Moutong, menggelar sosialisasi tentang Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 78 tahun 2020 kepada DPC-PBB Parigi Moutong belum lama ini.

Perubahan Permendagri Nomor 36 tahun 2018 menjadi Permendagri 78 tahun 2020 semakin genjar dilaksanakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Untuk Kabupaten Parigi Moutong, sosialisasi tersebut melalui Kesbangpol yang merupakan stakeholder terkait politik dan ketahanan serta keamanan daerah.

Selain dalam rangka mensosialisasikan Permendagri tersebut, salah satu agenda Kaban Kesbangpol Parigi Moutong, Moh. Sakti Lasimpala, di sekretariat DPC-PBB Parigi Moutong, juga sebagai ajang silaturahmi.

Untuk diketahui, inti sari dalam Permendagri nomor 78 tahun 2020, berisikan perubahan atas Permendagri 36 tahun 2018 tentang tentang Tata Cara Penghitungan, Penganggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Selain itu, tertib Administrasi, pengajuan, penyaluran, serta Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik (Parpol).

Sakti mengatakan, berdasarkan Permendagri Nomor 78 Tahun Tahun. Dalam rangkaian peningkatan ketertiban administrasi tata cara pengelolaan bantuan keuangan Parpol.

Pemerintah mengharuskan seluruh anggota Parpol yang memiliki kursi Legislatif, untuk berperan aktif dalam penanggulangan pencegahan Covid-19.

“Sebagaimana amanat Permendagri Nomor 78 itu, yang menjadi konsep adalah pelibatan anggota partai politik untuk mendorong program-program pemerintah terhadap isu hangat yang sekarang. Seperti pencegahan penyebaran Covid-19,” ujar Sakti Lasimpala dalam kegiatan itu, Rabu pekan kemarin (02/06 Red).

Ia menyampaikan, berdasarkan Permendagri itu, peran parpol tidak semata untuk melibatkan diri membantu pemerintah melakukan pencegahan penyebaran Covid-19.

Tetapi juga kata Sakti, elemen-elemen dalam Parpol juga ditekankan untuk ikut bersama-sama mendorong masyarakat agar taat dan mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes).

“Disitu juga berupaya agar Covid-19 tidak menyebar secara bebas. Jadi, dalam Permendagri Nomor 78 tahun 2020 itu, banyak yang diamanahkan. Tetapi yang menjadi sentral nya itu adalah, bagaimana cara anggota parpol membantu pemerintah terkait isu pencegahan Covid-19 ini,” tuturnya.

Daerah, Lanjut Sakti. Kan, telah memiliki tim Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Jadi upaya dari pihak Kesbangpol selaku pembina lembaga politik daerah, akan terus melakukan pengawasan terkait isu sentral Covid-19 tersebut.

Selain Anggota DPC-PBB Parigi Moutong, Anleg DPRD Juga Hadir Dalam Sosialisasi Permendagri Tahun 2020 oleh Kesbangpol.

Ia menyebutkan, harapannya agar segenap Dewan Pengurus Cabang Partai Bulan Bintang (DPC-PBB) Parigi Moutong bisa membangun kolaborasi dan sinergitas dengan pemerintah daerah (Pemda) dalam mengatasi Pandemi Covid-19.

Sehingga, tambah Sakti Lasimpala, Parpol tidak hanya bergerak dalam ruang kerja partai semata.

“Harapan saya bahwa nanti itu akan bersinergi, sehingga Parpol tidak hanya bergerak dalam ruang kerja partai semata. Tetapi juga bisa berkolaborasi dengan pemerintah dalam melakukan pencapaian terhadap daerah,” tandas Sakti.

Dalam silahturahmi Kesbangpol Parigi Moutong ke sekretariat DPC-PBB Parigi Moutong tersebut, Selain sejumlah anggota pengurus DPC-PBB Parigi Moutong hadir, Wawan yang merupakan salah seorang Anggota Legislatif (Anleg) DPRD Kabupaten Parigi Moutong Periode 2019-2024, ikut hadir.

Kehadiran Wawan, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Bintang Indonesia DPRD Parigi Moutong dalam kegiatan tersebut, selaku salah seorang pengurus DPC-PBB Parigi Moutong.

P2L Parigi Moutong, Dukung Pengentasan Stunting

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Salah satu program mendukung pengentasan stunting. Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Parigi Moutong yaitu Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Kegiatan ini, adalah pemanfaatan pekarangan yang melibatkan ibu rumah tangga.

Program P2L Dinas Ketahanan pangan ini, dilaksanakan oleh kelompok masyarakat dengan bercocok tanam di lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan untuk meningkatan ketersediaan, aksesibilitas dan pemanfaatan, serta pendapatan keluarga.

Demikian penyampaian Kepala Seksi Peanekargaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Parigi Moutong Dwi Vira Ramadhani, kepada media kabarSAURUS, Senin (31/05).

Kata ia, kegiatan P2L ini dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan rawan pangan prioritas intervensi stunting dan/atau penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan dan pemantapan daerah tahan pangan.

Guna mengoptimalkan program P2L tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong, memberikan bantuan kepada setiap kelompok tani, yang anggaranya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan melekat pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) juga Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

“Kalau program kita P2L itu, dua sumber anggaran DAK yang melekat APBD dan APBN. Untuk pelaksanaanya prioritasnya lebih ke kelompok wanita tani,” bebernya.

Ia mengatakan, bantuan yang diberikan kepada kelompok wanita tani (KWT) yang bersumber dari dana DAK APBD, ada delapan kelompok di delapan kecamatan. Yakni, Kecamatan Sausu,Torue, Siniu, Ampibabo, Toribulu, Kasimbar, Tomini dan Kecamatan Taopa.

Sementara, untuk dana APBN pelaksanaanya dilakukan dua tahap, yakni tahap penumbuhan dan tahap pengembangan. Tahap Pengembangan, merupakan kegiatan lanjutan dari KRPL untuk meningkatkan fungsi dan kapasitas kebun bibit, demplot dan pertanaman.

Selain itu, melaksanakan kegiatan pasca panen dan pemasaran sebagai kelanjutan pada tahap penumbuhan tahun sebelumnya. Sedangkan, tahap penumbuhan merupakan kelompok penerima manfaat kegiatan P2L pada daerah prioritas penanganan stunting dan/atau penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan dan/ atau pemantapan daerah tahan pangan.

“Kalau penumbuhan, ada tiga kelompok wanita tani di dua kecamatan, Kecamatan Ampibabo dan Kecamatan Siniu. Untuk tahap pengembangan, dua kelompok di dua kecamatan, yakni Kecamatan Sausu Tambu dan Kecamatan Ampibabo,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk bantuan terhadap kelompok wanita tani yang bersumber dari DAK APBD, sebesar Rp55 juta per kelompok wanita tani. Sedangkan untuk APBN bantuannya sebesar Rp60 juta.

Kalau untuk APBD ditentukan nilai pembelanjaan setiap komponenya, misalnya kata ia, pembelanjaan rumah bibit, sarana pembibitan, sarana demplot, pekarangan dan saat pasca panen.

Sementara itu lanjutnya, KWT yang diberikan bantuan harus memanfaatkan pekaranganya untuk ditanami tanaman yang produktif. Seperti cabai, tomat, bawang dan lain sebagainya yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ia menambahkan, setiap KWT yang ada di kecamatan tersebut memiliki penyuluh pertanian yang bekerja untuk melakukan pendampingan dalam pemanfaatan pekarangan rumah.

“Dengan adanya pangan lestari ini, ibu rumah tangga tidak perlu lagi jauh berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari apalagi di masa pandemi seperti saat ini,” tutupnya.

APBN 2021, DPUPRP Parigi Moutong Dapat 9 Proyek Jalan

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comBaru sekitar 20% proses pengerjaan Sembilan proyek jalan yang bersumber dari APBN tahun 2021 milik DPUPRP Kabupaten Parigi Moutong.

Pada pemanfaatan APBN tahun anggaran 2021. Pemerintah pusat mengucurkan Miliaran anggaran kepada DPUPRP Parigi Moutong untuk pengerjaan proyek jalan pada sejumlah wilayah daerah ini.

Kucuran APBN 2021 tersebut, dititipkan melalui APBD Parigi Moutong, sebagaimana seperti mekanisme pencairan keuangan daerah. Untuk pengerjaan proyek jalan pada DPUPRP Parigi Moutong, APBN 2021 ini, terkucurkan sebanyak kurang lebih Rp 31 Miliar.

“Tahun ini, Kita dapat Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 31 Miliar. Anggran itu unuk pembiayaan proses pengerjaan Sembilan proyek paket jalan di Parigi Moutong,” Ujar Robinson. Kepala Seksi Jalan, Bidang Bina Marga DPUPRP Parigi Moutong.

Kepada Redaksi kabarSAURUS yang menyambangi ruang kerjanya, Rabu (02/06). Robinson menyebutkan, untuk sembilan paket proyek jalan di Kabupaten Parigi Moutong yang bersumber dari APBN 2021 ini.

Diantaranya, Ruas jalan Balinggi Pantai, ruas Paranggi-Sidole, ruas Wanagading, ruas Siney Tengah, ruas Poli-Silutung. Kemudian, lanjutnya, ruas Gio-Tuladenggi, ruas dusun Kopi Lambunu, ruas Tinombo dan ruas Lambunu timur.

“Kalau di Lambunu itu ada tiga paket. Untuk pekerjaan sembilan paket jalan ini dananya bersumber dari DAK. Sedangkan, untuk setiap paket jalan tersebut, teranggarkan bervariasi, sesuai dengan berapa kilo jalan yang akan dikerjakan,” sebutnya.

Menurut Robinson, pekerjaan ke sembilan paket jalan itu berawal dari bulan Mei 2021. Paket Proyek jalan yang DPUPRP Parigi Moutong tangani saat ini, merupakan pengusulan tahun sebelumnya. Kemudian, kata Robinson, pada APBN 2021 ini, pengerjaan proyek paket jalan tersebut bariu bisa teranggarkan.

“Pengusulannya tahun lalu, kemudian dikerjakan tahun ini. Karena harus menunggu pengusulan mana yang disetujui untuk dikerjakan,” Jelasnya.

Ia menerangkan, akibat Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020. Membuat tahun ini, penganggaran Nya terbagi menjadi dua, yaitu rusak ringan dan rusak berat.

Pergeseran Anggaran Karena Pandemi, Bikin Proses Pengerjaan Proyek Paket Jalan DPUPRP Parigi Moutong Bersumber dari APBN 2021, Baru Sekitar 20%

Sehingga, tambahnya, Pergeseran anggaran itu berdampak pula pada waktu pelaksanaan proses pengerjaan sejumlah paket pekerjaan yang DPUPRP Parigi Moutong Tangani dan bersumber dari APBN 2021.

“Kalau untuk pengusulan yang rusak ringan itu mungkin hanya pengrehabilitasian saja, kalau untuk rusak berat mungkin perbaikan jalan. Kemarin kan ada pergeseran, jadi progressnya ini sudah masuk 15 hingga 20 persen,” tandas Robin.

Kejar Capaian PAD Parigi Moutong dari Retribusi Parkir

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Dalam upaya mengejar PAD Parigi Moutong dari sektor Retribusi Parkir Pasar, Dishub akan melakukan uji petik terhadap hal tersebut. Hal ini juga, sebagai upaya mencegah kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor itu.

Berdasarkan informasi yang terhimpun media ini, aroma potensi kebocoran PAD Parigi Moutong dari kegiatan ini, telah tercium sejumlah anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong.

Hal tersebut sempat terungkap dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah pada 2020.

Ketua Pansus Raperda tersebut, H.Suardi, sempat meminta agar Dishub Parigi Moutong membuat analisa terhadap real target pendapatan dari objek parkir.

Hal itu nampaknya menjadi salah satu alasan sehingga Dinas Perhubungan (Dishub) Parigi Moutong berencana melaksanakan uji petik dpada kawasan Pasar Sentral Parigi.

Uji petik ini juga dalam upaya mengejar peningkatan capaian PAD Parigi Moutong dari sektor retribusi parkir.

Kepada Redaksi kabarSAURUS. Roby selaku Kepala Bidang (Kabid) Darat Dishub Kabupaten Parigi Moutong menyampaikan, kegiatan uji petik untuk menunjang peningkatan PAD daerah ini.

“Kita lakukan uji petik supaya bisa mengetahui berapa PAD Parigi Moutong dari sektor retribusi parkir, yang seharusnya kita tarik,” ujar, Senin (01/6).

Pasalnya, kata Roby, dalam dua tahun terakhir setelah terjadinya Pandemi Virus Corona Disease 2019 (Covid-19). PAD Parigi Moutong dari retribusi sektor parkir terus mengalami kemerosotan, karena tidak maksimal.

“Kan ada instruksi dari presiden dan bupati yang melarang masyarakat untuk berkerumun, makanya ini tidak jalan. Mungkin jalan tetapi tidak maksimal,” tuturnya.

Ia menerangkan, uji petik yang terlaksana selama enam hari di kawasan Pasar Sentral Parigi. Nantinya, lanjut Roby, hal ini bisa menjadi permulaan untuk bisa mengetahui berapa PAD yang bisa dihasilkan dari retribusi sektor parkir.

Dishub Berharap, Tokoh Masyarakat Memaksimalkan Pengawasan Dalam Upaya Capaian PAD Parigi Moutong dari Sektor Retribusi Parkir

Ia menyebutkan, untuk penargetan PAD itu bervariasi, tahun sebelumnya pihaknya bisa mencapai hingga 60 ataupun 40 juta. Tetapi, lanjut Roby, dengan adanya kondisi seperti saat ini, pencapaian target itu tidak bisa terpenuhi.

“Tahun-tahun sebelumnya itu kami bisa capai hingga 60 atau 40 juta. Namun karena kondisi saat ini yang ada larangan untuk berkerumun, sehingga retribusi dari sektor parkir untuk PAD itu mengalami penurunan. Atau tidak maksimal,” bebernya.

Ia berharap, dari hasil uji petik nantinya, pihak Dishub berharap bisa mencapai penargetan untuk PAD daerah ini. Sehingga, bisa membantu dalam mendukung pembangunan daerah. Ia juga berharap, agar pengawasan parkir pada Pasar Sentral Parigi yang masih melibatkan tokoh masyarakat, dapat memaksimalkan pekerjaanya.

“Sementara ini, peningkatan PAD itu menjadi prioritas kami di Dishub. Jadi ini harus digenjot terus menerus, sehingga kami berharap nantinya bisa menghasilkan PAD untuk membantu juga pembangunan daerah,” harap Roby.

Laboratorium Lingkungan DLH Parigi Moutong Bisa Tingkatkan PAD

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Pihak Lingkungan Hidup (DLH) sangat optimis Laboratorium lingkungan dapat tingkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Parigi Moutong.

Sesuai dengan fungsinya, laboratorium lingkungan merupakan penyedia data kualitas lingkungan yang akurat dan valid bagi kepentingan monitoring pencemaran lingkungan di suatu wilayah.

Selain itu, data yang diperoleh dari laboratorium lingkungan DLH Parjgi Moutong ini juga dapat menjadi alat bukti penegakan hukum lingkungan.

Pentingnya laboratorium lingkungan sering diibaratkan sebagai jantung pada manusia. Artinya, sistem pengelolaan lingkungan tidak berjalan efektif dan efisien tanpa didukung laboratorium.

Irfan Maraila selaku Kepala DLH Kabupaten Parigi Moutong Mengatakan, dengan adanya laboratorium lingkungan, PAD dapat diperoleh dari analisa yang dilakukan pada setiap sektor yang ada.

Misalnya kata ia, analisa terhadap uji kelayakan air untuk depot air minum isi ulang dan uji penggilingan padi. Pada sektor itu, diprediksi sudah bisa menghasilkan retribusi ke daerah sebesar Rp400 ribu.

Sehingga, lanjutnya, dalam kurun satu tahun, diperkirakan retribusi untuk PAD akan mencapai ratusan juta rupiah.

Lebih jauh ia menjelaskan mengenai analisis manajemen rumah sakit di mana rumah sakit merupakan salah satu sektor penghasil berbagai macam limbah di antaranya limbah padat, cair, dan gas.

Menurutnya hal ini mempunyai konsekuensi, sehingga perlu adanya pengelolaan limbah rumah sakit sebagai bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan.

“Untuk rumah sakit, setiap enam bulan harus ada laporan pengelolaan lingkunganya. Bagaimana kondisi air yang dipakai, penanganan sampah, dan lain sebagainya. Nanti laboratorium DLH bisa melakukan analisa,” ujarnya saat Redaksi kabarSAURUS, menyambangi ruang kerjanya, (25/05).

Kemudian, selain depot air minum isi ulang, penggilingan padi, dan lingkungan rumah sakit. Irfan menuturkan, hal lain yang penting ialah analisis terhadap tambak untuk mengetahui kualitas airnya.

DLH Parigi Moutong Bakal Minta Dukungan Kementerian Soal Alat Laboratorium yang Memadai

Irfan menambahkan, jika dalam proses analisa alat yang diperlukan tidak memadai, maka pihaknya akan meminta bantuan pada laboratorium Kementerian. Hal itu untuk melakukan analisa yang dibutuhkan.

“Jadi kalau ini terealisasi maka PADnya pasti besar,” pungkasnya.

Berita Terkait : https://kabarsaurusonline.com/2020/10/22/terkendala-akreditas-laboratorium-dlh-parigi-moutong-belum-beroperasi/

Desa Taipa Obal, Surga Kecil di Pedalaman Parigi Moutong

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Desa Taipa Obal, merupakan salah satu dari Lima desa yang terletak di daerah terpencil wilayah pemerintah Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Dibalik keistimewaannya yang merupakan wilayah tempat tanah kelahiran pemimpin daerah saat ini. Lima dari total 15 desa yang merupakan wilayah pemerintahan Kecamatan Tinombo, ternyata mempunyai keindahan ‘bagh surga’ dalam negeri dongeng.

Desa Taipa Obal, adalah salah satu dari Lima desa yang mempunyai keindahan dipandang mata tersebut, meski letaknya berada di pedalaman kawasan pegunungan Kecamatan Tinombo.

Sabtu 28 Mei 2021,Pukul 18.00 Wita jelang mentari menghilang dari singgasananya. Diantara senja yang secara perlahan menjelma, bercampur langit merah menandakan malam telah tiba. Saya bertolak ke Kecamatan Tinombo. Bersama ketiga rekan, saya menggunakan ‘Kuda besi’ roda dua berbahan bakar Premium ataupun Pertalite.

Dengan santainya, atau dengan kecepatan rata-rata 70 KM/Jam. ‘Kuda Besi’ yang notabene produk luar negeri itu kami pacu. Sekitar Dua jam perjalanan meninggalkan kediaman, kami pun beristirahat sejenak di pesisir pantai teluk Tomini Desa Posona yang merupakan wilayah Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong.

Malam itu, alam seakan bersepakat untuk menunjukkan salah satu pesonanya kepada kami, dari salah satu ruang sudut pandang di Desa Posona ini. Dari sisi pesisir pantai, saya bersama ketiga rekan ku pun, diberikan kesempatan untuk menikmati Keindahan laut yang memantulkan cahaya bulan.

Kami nyaris hanyut dalam ‘kenikmatan’ indahnya berada di Desa Posona yang begitu menikmati indahnya pemandangan laut dibalik selimuti yang menutupi wajah bulan sehingga kelihatan hampir sempurna di atas sana.

Ia (Sang rembulan) seakan menyemangati kami yang tenaganya mulai terkuras, sedang mencicipi segelas kopi tanpa gula, sembari mengumpulkan energi untuk kembali melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.

Desa Taipa Obal yang disebut Surga di Negeri Dongeng oleh sebagian orang, termasuk saya salah satunya. Bertaut tegukan akhir nikmatnya kopi yang tersuguhkan, kami pun meninggalkan lelah bersama dengan ampas kopi yang masih tertinggal di cangkir kopi tersebut.

Kami pun kembali mulai melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan yang ternyata belum melewati setengah perjalanan dari tujuan untuk beristirahat.

Menjelang waktu yang menunjukkan hampir separuh malam, atau sekitar pukul 23:30 WITA. Kami tiba ditempat yang menjadi tujuan peristirahatan kami. Hal itu untuk mengumpulkan tenaga dan menjaga fisik kami agar tetap fit sebelum bertemu dengan jalur dengan medan jalan yang berbatu dan menanjak.

Kediaman seorang saudara angkat dari rekan saya yang menjadi tujuan tempat peristirahatan kami itu terletak di Desa Baina’a, Kecamatan Tinombo. Hanya berjarak sekitar 8 KM dari Ibukota Kecamatan Tinombo.

Setelah malam yang begitu panjang berlalu, pulau kapuk (Kasur) menjadi sandaran kami menghabiskan malam tersebut. Hawa dingin ciri khas daerah wilayah Utara bumi Parigata ini, turut mengantarkan lelap kami di pembaringan.

Minggu 29 Mei 2021, merupakan hari kedua petualangan saya bersama ketiga rekan saya menuju Desa Taipa Obal surga negeri dongengnya sejumlah kalangan yang penat dengan hiruk pikuk aktivitas ibukota.

Meski Ibukota Kabupaten Parigi Moutong ini tidak seramai kota metropolitan. Namun, bagi orang yang memiliki profesi seperti saya, sudah sangat pasti akan membutuhkan refreshing otak dan mata yang lelah, terkuras dengan dinamika warga kekotaan dan tingkah laku netizen di sosial media.

Sekitar pukul 09:30 WITA. Kami pun kembali meneruskan perjalan menuju Ibukota Kecamatan Tinombo dan kemudian meneruskan ke Desa Lombok Kecamatan Tinombo yang terletak tepat di Kaki Pegunungan wilayah kecamatan ini.

Desa Lombok menjadi akses jalur utama warga yang bermukim di Lima desa terpencil wilayah pemerintah Kecamatan Tinombo. Sehingga, tak jarang, kalian akan menemukan sejumlah warga dari daerah terpencil tersebut, membawa hasil bumi menggunakan jasa angkut Ojek atau dengan memikul sambil berjalan kaki, menuju wilayah ibukota Kecamatan Tinombo.

Sekitar 10:00 WITA, kami pun tiba di Desa Lombok. Tidak menuggu waktu lama, salah seorang rekan saya yang sudah punya pengalaman ke wilayah pedalaman gunung Tinombo ini, langsung bergegas mencari orang yang menjajakkan jasa antar jemput (Ojek) kewilayah terpencil Kecamatan Tinombo ini.

Dengan ongkos Rp70.000 per orang, (hasil tawar menawar dengan si Om ojek, yang sebelumnya mematok tarif sebesar Rp100.000/orang) Saya, pun memacu adrenalin dijalur menanjak dan berbatu menuju Desa Taipa Obal, yang menurut warga sekitar, hanya berjarak sekitar 25 KM dari Desa Lombok.

Akhirnya, saya kembali merasakan sensasi yang memacu adrenalin saat ‘kuda besi’ roda dua yang saya naiki, mulai mengeluarkan suara khas nya yang terdengar seperti singa meraung. Saat melintas dijalur tanjakan berbatu dengan pemandangan dinding tebing yang kokoh pada bagian sisi kiri, serta jurang yang dalam pada bagian sisi kanan.

Kurang lebih satu jam, kami susuri jalur tersebut. Tibalah kami dengan selamat puncak Desa Taipa Obal. Mata ku pun tertuju pada deretan pemukiman warga Desa Taipa Obal tersebut, yang nyaris tidak terdapat bangunan rumah berdinding beton.

Kemudian, Mata saya pun sejenak terpaku melihat beberapa kondisi rumah warga menurut saya jauh dari kata layak untuk ditinggali. Sebagai Tamu yang baik, kami pun langsung turun di kediaman Sekretaris Desa Taipa Obal, Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Moutong.

Sembari menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami, kami pun meminta izin untuk menghabiskan waktu malam hari di tersebut. Bagh menyambut dengan tangan terbuka, Sekretaris Desa Taipa Obal yang merupakan seorang bapak dari tujuh orang anak dengan bertubuh gempal yang murah senyum itu, menerima keberadaan kami.

Kami pun dibuat senyaman mungkin oleh senyumnya tersebut. Bahkan, saya seakan tidak merasa canggung saat bercengkrama dengan beliau.

Suasana keakraban pun terjalin diantara kami, rasa lelah dan penatnya tubuh ini seakan hanyut dalam suasana candaan yang terbangun diantara kita. Desa Taipa Obal ini, sekitar 1.200 jiwa.

Mayoritas masyarakat Desa Taipa Obal ini beragama Islam dan bersuku Lauje. Desa ini terbagi atas tiga dusun.

Ditengah kegirangan kami bercengkrama di kediaman Sekretaris Desa Taipa Obal ini, sesekali mataku memandang keluar rumah dan mengagumi kehidupan kelompok manusia yang cukup damai dan sangat ramah satu sama lain, ditengah pemandangan alam yang hijau nan megah yang terpampang jelas di pelupuk mata.

Kedamaian dan ketenteraman yang saya rasakan secara nyata ini, didukung dengan masih sejuknya oksigen yang keluar dari rindangnya pepohonan dari perkebunan cengkeh milik warga sekitar.

Sempat membawa saya seakan hilang dari alam sadar untuk menikmati nikmat dari maha pencipta.

“Sungguh benar katanya, (salah seorang teman saya yang sudah punya pengalaman kesini) pedalaman gunung di kecamatan Tinombo ini, menyuguhkan keindahan serta kenikmatan yang cukup memuaskan kerohanian saya, sebagai makhluk ciptaan. Benar ini serasa disurga,” kata hatiku.

Menjelang malam irama lantunan adzan magrib pun berkumandang dari dua Masjid yang masing-masing terletak di Dusun Satu dan Dusun Tiga Desa ini. Anak-anak dan orang dewasa berbondong-bondong bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan sholat.

Kemilau cahaya bintang menghiasi langit Desa Taipa Obal saat itu, menunjukkan jika waktu telah memasuki gemerlap malam. Dari dalam kediaman Sekretaris Desa Taipa Obal ini, khayalan ku tentang pemandangan malam yang pekat dan mencekam di daerah terpencil, mulai mengisi ruang rongga otak ku.

Kami pun diarahkan untuk menginap di bangunan PAUD yang dibangun oleh pemerintah Desa Taipa Obal.

Saya pun sempat tercengang melihat kemilau cahaya yang terpancar dari bola lampu pada setia rumah warga setempat. Sumber cahaya tersebut, ternyata berasal dari Tenaga Surya bantuan pemerintah yang diberikan kepada masyarakat Desa Taipa Obal ini.

Sontak seluruh khayalan ku tentang pekatnya malam di salah satu wilayah terpencil ini buyar “kocar-kacir” meninggal rongga otakku. Diskusi yang di tutup dengan candaan manja sebelum tidur, menjadi pengalaman hebat kali ini. Setelah menempuh jarak yang teramat jauh kemudian fikiran yang terenggut tadi bercampur aduk menjadi lelah.

Kami pun mulai membaringkan badan bersama dua kalimat syahadat pengantar tidur agar lebih aman sepanjang malam.

Malam indah pun berganti dengan sahutan burung-burung di tangkai pohon tempat kami beristirahat, hal ini pertanda pagi hari telah tiba. Berteman embun pagi, seraya menghirup udara, saya bersama kedua rekan pun bergegas bangkit dari tempat tidur untuk bersiap meluncur berkeliling kampung.

Beberapa kegiatan pun kita mulai. Beberapa teman saya pun, memantau aktifitas warga, layaknya daerah pegunungan cangkul dan arit pun menjadi alat utama untuk pekerjaan mereka sebagai petani.

Saya pun mencoba untuk merangsek masuk bergaul dengan siswa siswi SD dan SMP yang kebetulan lokasi bangunannya berdiri di Desa Taipa Obal ini.

Sejumlah pintu dari bangunan para pedagang retail, campuran, pedagang baju, dan bengkel nampak terbuka lebar. Kondisi yang ramai itu, terjadi di sekitar jalur utama jalan desa tersebut.

Sesekali, kondisi itu mengarahkan ku kembali mengingat potret kehidupan masyarakat Parigi sekitar tahun 70an yang kulihat dari salah satu buku yang kuambil dari rak buku di Perpustakaan daerah beberapa tahun lalu.

Sekolah Dasar dan SMP yang berdekatan dengan kompleks perdagangan nyaris seperti pasar. Situasi itu mengarahkan ku untuk coba menghayal kan kondisi yang sama mungkin terjadi pada SMA Neg 1 Parigi dan SMP Neg 2 Parigi, Tempo dulu, yang masih berdekatan dengan pasar inpres Tagunu.

Kegiatan demi kegiatan selama hampir seharian penuh itu akhirnya selesai dan mendapat respon baik dari warga sekitar. Khususnya, anak-anak yang merupakan siswa SD di Desa Taipa Obal ini.

Kami pun bergegas menyiapkan kepulangan mengingat misi kita telah kami anggap berhasil kami laksanakan.

Sembari menyiapkan barang-barang untuk pulang, kami pun sempat berdiskusi soal rasa prihatin melihat kondisi bangunan ruang kelas SD di Desa Taipa Obal ini.

Jumlah siswanya yang begitu banyak, sudah tentu memperoleh Dana BOS yang besar pula. Sayangnya, kondisi bangunan nampak tidak terawat.

Bahkan salah satu bagian dinding dari ruang kelas Tiga nyaris tak punya penghalang dinding lagi. Beberapa bagian lantai kelas satu sampai kelas tiga SD tersebut nampak berlubang.

Kondisi plafon nyaris roboh dan cukup mengkhawatirkan. Parahnya lagi, siswa kelas dua terpaksa harus secara bergantian menggunakan ruang kelas tiga. Karena ruangan mereka tidak memiliki papan tulis.

Ditengah kondisi ini, hal yang membangkan muncul cari Para tenaga pendidik yang masih berstatus guru honor. Semangat mereka untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong, khusus mencerdaskan anak-anak penerus bangsa dari Desa Taipa Obal ini tidak pernah padam.

Padahal, mereka hanya mendapat imbalan gaji paling tinggi Rp 1 Juta (untuk guru honor dengan pendidikan terakhir S1).

Sementara, tak jarang gaji mereka tidak bisa ternikmati seluruhnya. Karena harus menyisihkan untuk perbaikan kendaraan pribadi mereka sebagai operasional dari wilayah ibukota Kecamatan Tinombo menuju desa tersebut.

Semangat terus yah, pahlawan tanpa tanda jasa di surga kecil Desa Taipa Obal Wilayah terpencil Kecamatan Tinombo.

Exit mobile version
%%footer%%