DPUPRP Parigi Moutong, Bersihkan Pintu Air Bendungan Dolago

Parigi Moutong –  Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP), membersihkan pintu air bendungan Dolago yang terletak diwilayah Kecamatan Parigi Selatan. Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Dilansir dari pu-parigimoutong.com, hal ini disampaikan Sekretaris yang juga sebagai pelaksana harian Kepala Dinas (Kadis) DPUPRP Parigi Moutong, Rivai, Rabu (22/7). Dia mengatakan, kondisi bendungan yang dipenuhi tumpukan kayu, membuat pintu air bendungan dolago tersebut mulai tertutup.

“Dibendungan ini kayu-kayu memenuhi pintu air sehingga menghambat aliran air ke sawah-sawah penduduk. Diperkirakan pekerjaan dibendung dolago ini sekitar dua sampai tiga hari,” ujarnya.

Sebelumnya kata dia, dengan mengerahkan alat berat excavator, pembersihan dilakukan di dua lokasi yang berbeda, sejak Selasa (21/7 red). Tim bergerak membersihkan saluran pembuangan di Desa Masari dan Desa Dolago Padang, yang notabene kedua desa tersebut berada diwilayah Pemerintah Kecamatan Parigi Selatan.

Pada saat membersihkan saluran pembuangan di desa Masari lanjut dia, pihak DPUPRP Parigi Moutong, mendapat bantuan pinjaman alat berat dari Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Parigi Moutong.

“Untuk pembersihan di saluran pembuang Masari, kita dapat pinjaman alat berat dari dinas tanaman pangan dan holtikultura.” Tutup Rivai. 

Untuk diketahui, Instensitas curah hujan yang tinggi beberapa waktu terakhir, membuat sungai dibeberapa titik wilayah Kabupaten Parigi Moutong, tidak mampu menampung debit air yang meningkat. Hal ini mengakibatkan banjir bandang disejumlah wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

Akibatnya, ratusan Kepala Keluarga (KK) harus mengungsi. Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu juga membuat rumah puluhan rumah warga mengalami kerusakan.   

Selain Bersihkan Bendungan Dolago, DPUPRP Parigi Moutong Mulai Normalisasi Sejumlah Sungai Pasca Banjir Bandang

Pasca banjir bandang tersebut, DPUPR mulai mengerahkan sejumlah alat berat untuk melakukan normalisasi sungai disejumlah titik.

Masih dilansir dari situs resminya, DPUPRP Parigi Moutong menurunkan alat berat berupa excavator untuk normalisasi wilayah aliran sungai di Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat yang notabene hulu sungai berada di Desa Parigimpu’u Kecamatan Parigi Barat.

Diwaktu yang sama, normalisasi Sungai di Desa Olobaru Kecamatan Parigi Selatan, juga dilakukan pihak DPUPRP Parigi Moutong.

“Untuk normalisasi sungai Tindaki masih menunggu pergantian buket excavator. Diperkirakan besok mulai dikerjakan.” ujar Sekretaris DPUPRP Parigi Moutong, yang juga menjabat sebagai Plt Kadis, Rivai, Rabu (15/7 red).

Kemudian, pada Sabtu (18/7 red), normalisasi sungai tindaki juga mulai dikerja oleh DPUPRP Parigi Moutong. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Sumber Daya Air, Mohammad Aflianto, via pesan singkat whatsaap.

Dia mengatakan,  normalisasi saat itu masih difokuskan di area sekitar sungai tindaki. Nantinya kata dia, akan dilanjutkan di sekitar wilayah perumahan nelayan.

“yang dikerjakan sungai tindaki sekitar jembatan dan akan dilanjutkan ke sekitar muara perumahan nelayan tindaki,” ungkapnya.

Baca juga : https://kabarsaurusonline.com/2020/07/05/dpuprp-parigi-moutong-gandeng-bumdes-tangani-spam/

Perda RTRW dan Pengembangan SPAM Disahkan

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comPerda RTRW dan pengembangan SPAM Kabupaten Parigi Moutong, akhirnya disahkan DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Keseriusan Pemda dan DPRD dalam penataan kawasan dan pengembangan daerah, nampak jelas saat membahas Dua Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) ini.

Akhirnya, Setelah melaui tahapan pembahasan yang panjang sejak mulai teragendakan pada Februari 2020. Ranperda RTRW dan Pengembangan SPAM tersebut, mendapat pengakuan sebagai Perda

Hal ini, tidak terlepas dari perhatian Pemda dan DPRD, yang serius melakukan penyusunan dalam setiap agenda pertemuan antara keduanya terkait pembahasan Raperda RTRW dan Raperda Pengembangan SPAM Kabupaten Parigi Moutong.

Pantauan Redaksi kabarSAURUSonline.com, kurang lebih Enam bulan lamanya pembahasan penyusunan Raperda itu. Akhirnya, DPRD dapat menggelar Paripurna penetapan dan pengesahan Dua Perda tersebut, pada Rabu (22/7).

Melansir dari situs resmi DPUPRP Parigi Moutong, menurut Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP) Parigi Moutong. Menurut Rivai, beberapa hal penting terkait pengembangan dan pembangunan daerah terdapat dalam Perda RTRW tersebut.

“Selain untuk penetapan luas wilayah Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KPPB). Perda ini juga, memuat penguatan mitigasi bencana,” ujarnya.

Bukan hanya hal itu kata Rivai, Perda RTRW yang baru saja mendapat pengesahan tersebut, juga memuat perubahan kawasan strategis kabupaten. Bahkan, perda itu juga mengatur terkait jaminan atas investasi.

Lanjut Rivai, Perda Pengembangan SPAM menjadi pedoman Pemda, dalam pengelolaan SPAM yang sudah ada pada sejumlah wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

Perda ini juga, menjadi pedoman untuk sejumlah wilayah Parigi Moutong, yang akan mendapat intervensi Pemerintah Daerah terkait pengadaan air minum.

Meski Sudah Mendapat Pengesahan Dari DPRD, Perda RTRW dan Pengembangan SPAM Parigi Moutong, Masih Perlu Evaluasi Pada Tingkat Provinsi

Ia menuturkan, meski Perda RTRW dan Pengembangan SPAM tersebut telah disahkan oleh DPRD Parigi Moutong, namun masih harus mendapat evaluasi dari Instansi terkait pada tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.

Ia menambahkan, untuk Perda Pengembangan SPAM, nantinya akan mendapat evaluasi dari bagian hukum Propinsi Sulawesi Tengah. Sedangkan Perda RTRW, akan mendapat evaluasi dari Tim Koordinator Penataan Ruang Daerah (TKPRD) Sulawesi Tengah.

“Masih ada proses yang harus kita lalui lagi, sebelum Bupati menandatanganinya,” tutupnya.

SMANSAPAR Ubah Tradisi Pengenalan Lingkungan Sekolah

Parigi Moutong – Bencana Non Alam yang disebabkan oleh Corona Virus Disease (Covid-19), membuat SMA Negeri 1 Parigi ( SMANSAPAR ) terpaksa harus merubah tradisi kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) terhadap seluruh siswa barunya.

Pantauan KabarSAURUSonline.com, nampak puluhan peserta didik yang masih mengenakan seragam putih biru lengkap dengan topeng pelindung atau masker menerima arahan dari guru diruang kelas.

Pemandangan tersebut berbeda dengan pelaksanaan pengenalan lingkungan sekolah yang digelar tahun – tahun sebelumnya.

Pasalnya, saat Covid-19 belum menjadi pandemi di Indonesia, PLS yang sebelumnya dikenal dengan istilah Masa Orientasi Siswa (MOS).

Dimana saat itu dipenuhi dengan sejumlah kegiatan terjadwal selama hampir dua pekan dimulai dari masa Pra-MOS.

Kegiatan tersebut diantaranya, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, pengenalan dengan para guru melalui sejumlah materi kelas. Hingga, bina akrab antar sesama siswa baru maupun dengan siswa senior.

Namun, kondisi ini tidak terlihat pada kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMA Negeri 1 Parigi, Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong pasca pandemi covid-19.

Ini Penjelasan Ketua Panitia PLS SMANSAPAR

Kepada KabarSAURUSonline.com, ketua panitia pelaksanaan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) SMANSAPAR. Moh Rifai, menuturkan, pada pelaksanaan PLS di tahun ini, pihak sekolah merujuk pada protokol kesehatan.

Ketua Panitia Kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah, SMA Negeri 1 Parigi. Moh. Rifai. Sumber Foto : KabarSAURUSonline.com

“Ini hari terakhir untuk pelaksanaan PLS di sekolah kami. Saat ini ada tiga kelas yang mengikuti kegiatan PLS tersebut. Masing-masing kelas berjumlah 35 orang,” ujarnya.

Dijelaskannya, PLS yang dimulai sejak Selasa (14/7 red) merupakan pertemuan dan perkenalan antara wali kelas dengan para siswa baru secara luring.

Kegiatan itu dimulai sejak pukul 07.00 Wita sampai dengan 11.00 Wita.

Dalam pertemuan tersebut kata dia, para wali kelas mejelaskan tentang metode pembelajaran daring selama masa new normal pasca pandemi covid-19.

Lanjut dia, para wali kelas juga diminta untuk mendeteksi masing-masing anak wali mereka, yang dianggap berpotensi tidak dapat mengikuti pembelajaran secara daring.

“Hal itu bertujuan, agar nantinya para guru mata pelajaran mengunjungi langsung para siswa tersebut. Kemungkinan kondisi sampai dengan akhir 2020,” tandasnya.    

BAPPELITBANGDA Parigi Moutong Siapkan Aplikasi Ketahanan Pangan

Parigi Moutong Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah (BAPPELITBANGDA) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Saat ini sedang mempersiapkan Aplikasi terkait sistem ketahanan pangan yang mudah diakses publik.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi, BAPPELITBANGDA Parigi Moutong, Nur Noviyanti Bandha, saat ditemui KabarSAURUSonline.com, diruang kerjanya belum lama ini.

Dia mengatakan, dalam hal upaya transparansi sistem informasi ketahanan pangan berbasis aplikasi tersebut, BAPPELITBANGDA Parigi Moutong menggandeng Institut Pertanian Bandung (IPB).

Dalam hal kerjasama itu kata dia, pihak IPB bertindak sebagai perancang sekaligus pembuat aplikasi tersebut, agar mudah untuk diakses oleh publik.

Dalam aplikasi tersebut lanjut dia, akan memuat transparansi data terkait ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, yang bersumber dari dinas terkait.

“Sebenarnya, Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong sudah menyiapkan peta kerawanan pangan setiap dua tahun sekali dalam bentuk Dokumen yang memuat enam indikator. Sementara dalam aplikasi transparansi sistem informasi ini, ada Sembilan indikator,” terangnya.

Bukan Hanya Peta Kerawanan, Aplikasi Ketahanan Pangan Milik Parigi Moutong Menyediakan Informasi Terkait Kebutuhan Warga Miskin Dalam Bentuk Agregat

Dia menuturkan, untuk memenuhi Sembilan indikator itu. Pihaknya menghimpun data pendukung bersumber dari OPD lain. Hal ini untuk mendukung pemenuhan sembilan indicator tersebut.

Dia mengungkapkan, sejumlah OPD tersebut antara lain BPS, BPBD, Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan turut dimintai data yang dibutuhkan. Agar masih ucap dia, aplikasi tersebut tidak hanya bersifat transparansi karena mudah diakses. Tetapi, juga dapat memberikan inormasi yang jelas kepada publik.       

“Seperti, peta kerawanan pangan, data kemiskinan dan data agregat kemiskinan. Misalnya, warga yang belum mendapat akses air bersih. Jumlah tenaga kesehatan serta jumlah kejadian bencana disetiap kecamatan dan desa wilayah Kabupaten Parigi Moutong,” ujarnya.

Ditanya soal aplikasi itu adalah bagian dari upaya Pemerintah Daerah (Pemda) menyiapkan bank data untuk mengurai benang kusut data warga miskin di Parigi Moutong.

Novi sapaan akrabnya, mengaku aplikasi transparansi sistem informasi ketahanan pangan ini, berbeda dengan aplikasi sejenis bank data terkait warga miskin, yang sempat hangat diperbincangkan beberapa waktu lalu.   

Dia menambahkan, persiapan terkait aplikasi transparansi sistem informasi ketahanan pangan tersebut telah rampung sekitar 60 persen.

“Insya Allah, pada bulan Agustus nanti, aplikasi ini sudah siap launching,” tutupnya.

Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/2020/06/21/bappelitbangda-parigi-moutong-rencanakan-monitoring-desa-stunting/

Tahapan Pilkades Serentak di Parigi Moutong Dilanjutkan Bulan Agustus

Parigi Moutong Akibat Covid-19. Tahapan Pilkades Serentak tahun 2020 di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, baru akan dilanjutkan Agustus mendatang.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Parigi Moutong, Fit Dewana. Saat ditemui KabarSAURUSonline.com, diruang kerjanya belum lama ini.

Dia menuturkan, pasca ditetapkan Indonesia telah  memasuki fase New Normal akibat Pandemi Covid-19. Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong, sepakat memulai tahapan Pilkades tahun 2020 akan dilaksanakan pada bulan Agustus mendatang.

“Insya Allah bulan Agustus 2020 kami akan kembali melanjutkan tahapan Pilkades,” tuturnya.

Namun kata dia, pihaknya belum dapat memastikan penentuan jadwal pelaksanaan hari pencoblosan. Pasalnya, penanggulangan penyebaran Covid-19 membuat banyak anggaran DPMD Parigi Moutong terpaksa dipangkas.

“Kita tunggu saja dulu anggaran perubahan. Soalnya semua pos anggaran kami terpotong,” ungkapnya

Meskipun lanjut dia, hal tersebut telah dikonsultasikan dengan bagian anggaran. Namun pihak anggaran mengaku masih harus menunggu di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.

Dia mengakui, anggaran bagi Panitia Pelaksana Pemilihan Kepala Desa (P2KD) tingkat Desa, disejumlah desa yang bakal melasanakan Pilkades 2020 sudah dicairkan.

Hanya saja pada pelaksanaan Pilkades tahun ini, Pemda Parigi Moutong membentuk tim P2KD daerah. Hal inilah yang membuat pelaksanaan Pilkades masih harus membutuhkan anggaran.

“Sebenarnya sih, kalau hanya untuk pelaksanaan tingkat desa sudah tidak masalah. Tapi, anggaran untuk P2KD kabupaten dan petugas pengamanan yang sudah kita bentuk sebelumnya, saat ini belum tersedia,” jelasnya.

Untuk diketahui, sejumlah polemik muncul mulai dari awal sampai akhir tahapan pelaksanaan Pilkades serentak di Parigi Moutong yang dihelat tahun 2019, yang dilaksanakan puluhan desa diwilayah ini.

Baca Juga: https://kabarsaurusonline.com/2019/10/12/dpmd-parigi-moutong-akan-evaluasi-pengelolaan-bumdes/https://kabarsaurusonline.com/2019/10/12/dpmd-parigi-moutong-akan-evaluasi-pengelolaan-bumdes/

Gelondongan Kayu Jadi Panorama Amukan Sungai Boyantongo

Parigi Moutong Untuk yang kesekian kalinya, Sungai Desa Boyantongo Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah mengamuk.

Pantauan KabarSAURUSonline.com di lokasi, Sabtu (11/7). Dibalik amukan banjir bandang yang terjadi Jumat malam, ada tumpukan gelondongan kayu, yang menjadi pemandangan menarik.

Hasil limbah dari sumberdaya hutan tersebut, kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga.

Dari hasil penelusuran media ini, banjir bandang yang kembali menghantam Desa Boyantongo berhulu dari aliran sungai di Desa Dolago.

Hal ini berbeda dengan kejadian beberapa tahun lalu yang membuat jembatan Boyantongo runtuh, dimana aliran sungai nersumber dari Desa Lemusa.

Kejadian, Jumat malam (10/7red), menimbulkan kerugian materi bagi warga setempat. Menurut penuturan warga yang ditemui di lokasi, sawah dan lokasi perkebunan sudah terendam lumpur.

Selain itu, satu unit rumah warga yang diketahui milik Aling yang berada di muara sungai hanyut dibawah banjir.

Selain itu, satu unit lainnya milik imam Masjid Al-Muhajirin Dusun I Boyantongo, tidak dapat lagi dihuni karena sudah membahayakan.

Bukan hanya itu, 1 unit tower air bersih milik TPI Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Kabupaten Parigi Moutong ikut hanyut dibawah banjir.

Kondisi saat ini bagi warga yang bermukim di pesisir pantai sudah mulai was-was. Ketakutan didasari posisi sungai sudah mengarah tepat keperumahan masyarakat yang tinggal beberapa meter dari sungai.

Anggota DPRD Parigi Moutong, Masrin M. Said yang ditemui di lokasi menegaskan, pihak instansi terkait secepatnya melakukan normalisasi sungai karena membahayakan perumahan warga.

“Segera instansi berwenang membuat laporan kepada Bupati. Kemudian bagi aparat desa mendata kerugian yang dialami warga,” ujarnya.

Peristiwa semalam itu patut mendapatkan perhatian serius bagi pemerintah. Ditambah lagi aktifitas masyarakat setempat sebagai nelayan kini takut melaut meninggalkan keluarga.

Alat Berat Terbatas, DPUPRP Parigi Moutong Lamban Normalisasi Sungai

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Keterbatasan alat berat membuat DPUPRP Parigi Moutong, lamban melakukan normalisasi sungai di Desa Boyantongo.

Hal ini pun menuai kritikan dari sejumlah kalangan, pasca banjir menghantam Desa Boyantongo, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (11/7).

Padahal, saat itu warga setempat pasca kejadian alam itu, sangat mengharapkan penanganan normalisasi sungai. Namun, menurut informasi yang terhimpun, sejumlah alat berat milik daerah masih beroperasi di wilayah lain.

Berdasarkan data BPBD Parigi Moutong, banjir tersebut mengakibatkan Tujuh rumah warga hanyut terseret derasnya air sungai.

Melansir dari website resmi DPUPRP Parigi Moutong, Rivai, yang kini menjabat sebagai PLT Kadis menjelaskan, dari lima alat berat milik DPUPRP Parigi Moutong, dua diantaranya mengalami rusak berat.

“Sudah ada perintah dari pak Bupati. Namun, saat ini dua alat berat milk kami sedang beroperasi di wilayah Utara. Sedangkan, satu lagi beroperasi di Desa Jononunu,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya tetap akan mendukung normalisasi sungai Desa Boyantongo. Makanya kata ia, saat ini DPUPRP sedang berupaya menyelesaikan perbaikan dua alat berat yang rusak.

Pihaknya juga lanjut Rivai, sudah berkoordinasi dengan Balai Sungai Provinsi Sulawesi Tengah, untuk memohon bantuan terkait banjir tersebut.

“Selain itu, Pak Bupati juga telah memerintahkan untuk menyewa alat berat yang berapa pada wilayah sekitar Parigi melalui BPBD. Karena terkait banjir ini merupakan tupoksi mereka, kita tetap berupaya berikan dukungan,” tandasnya.

Exit mobile version
%%footer%%