Pemdes Dolago Padang, Prioritaskan Pemulihan Ekonomi Masyarakat

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com –  Pandemi COVID-19 belum berakhir. Pemerintah pusat melalui Kementerian Desa masih menaruh perhatian serius untuk penanganan wabah corona termasuk pemulihan ekonomi masyarakat desa. Sehingga petunjuk penggunaan Dana Desa (DD) tahun ini, masih harus memperhatikan hal tersebut.

Terkait itu, Pemerintah Desa Dolago Padang Kecamatan Parigi Selatan mengaku masih mengalokasikan DD untuk menopang perekonomian masyarakatnya melalui program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang akan diterima sebanyak 61 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), berkurang dua KPM dari tahun sebelumnya akibat penyesuaian aturan kelayakan penerima BLT.

Juga untuk pemulihan ekonomi, Pemdes Dolago Padang mengalokasikan DD untuk program pemberdayaan masyarakat dan setengah dari DD tersebut untuk pemenuhan sarana prasaranan desa (infrakstruktur), namun dalam pelaksanaanya menggunakan metode padat karya tunai.

Informasi yang terhimpun media ini, APBDes Dolago Padang tahun 2021 sebesar Rp. 770.148.000.00.

“Memenuhi petunjuk dari pemerintah dalam melaksanakan program padat karya tunai, kita Pemdes Dolago Padang akan libatkan masyarakat terutama yang kurang mampu untuk program pembangunan sarana dan prasarana desa,” ujar Kepala Desa Dolago Padang Andi Pala kepada media kabarSAURUSonline.com saat menyambangi ruang kerjanya, Jum’at (12/03).

Andi Pala mengungkapkan, pihaknya belum mensahkan atau menetapkan anggaran kegiatan sehingga belum ada Rancangan Anggaran Biaya (RAB) terhadap program tahun 2021. Namun sebagai gambaran kata ia, dapat dikatakan setengah DD teralokasikan untuk pemberdayaan masyarakat dan setengah lagi untuk kegiatan fisik.

“Kita belum ada RAB, jadi program kita ada fisik seperti penimbunan jalan, talud dan drainase,” jelasnya.

Selain itu kata Andi Pala, Pemdes Dolago Padang masih tetap berupaya  menjadikan desa aman COVID-19, dengan secara berkala melakukan penyemprotan disinfektan dan mengalokasikan anggaran pengadaan alat tempat cuci tangan. Harapannya, agar masyarakat Desa Dolago terhindar dari wabah Corona.

Diketahui Padat Karya Tunai merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa, khususnya yang miskin dan marginal, bersifat produktif yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya, tenaga kerja, dan teknologi lokal untuk menambah pendapatan, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Program TMMD di Desa Ibele Jayawijaya, Capai 65 Persen

Jayawijaya, kabarSAURUSonline.com Program TMMD ke 110 pada kampung Ibele, Distrik Ibele Kabupaten Jayawijaya Papua, Wamena-Papua, kini telah mencapai 65 persen. Pasiter optimis, program ini, bisa selesai tepat waktu.     

Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD ke -110 YA 2021. Lettu Inf Pramono, melalui Pasiter Kapten Inf Aprin Paembonan menyebutkan, pembangunan 1 Unit Barak dan 2 Unit Rumah Type 36 sudah mulai menunjukan hasil signifikan.

Saat ini, kata Kapten Inf Aprin Paembonan, progres pekerjaan pembangunan ketiga sasaran tersebut  sudah mencapai 65%. Hal itu lanjutnya, terhitung sejak kegiatan tersebut  bergulir, yang diawali dengan Pra TMMD pada 23  Februari lalu, hingga saat ini ‘H+9’.

“Sampai hari kesembilan ini, progresnya terus meningkat, hal ini, tidak luput dari peran serta masyarakat setempat. Sehingga, meski belum selesai dikerjakan, bangunan tersebut sudah kelihatan bentuknya,” ujar Kapten Aprin Paembonan, Kamis (11/3).

Ia mengatakan, bagian kamar dan plafon menjadi fokus pengerjaan rumah sehat TMMD ke 110 pada Distrik Ibele.

Kapten Inf Aprin Paembonan menuturkan, kini pengerjannya semakin lebih terukur untuk bagian yang  utama. Menurutnya, dengan selesainya bagian tersebut, akan mulai memperlihatkan struktur bangunan yang mulai mendekati sempurna.

“Selain melaksanakan kegiatan fisik, kami juga akan mengadakan kegiatan non fisik, berupa Penyuluhan kesehatan, wasbang. Kemudian, pertanian/peternakan, kesadaran hukum, stunting, posyandu dan sosialisasi pos Bindu PTM,” ungkapnya

Ia berharap, dengan adanya kolaborasi kegiatan fisik dan non fisik tersebut, dapat memberikan warna tersendiri, baik itu peningkatan taraf kesejahteraan maupun kesehatan. “Khususnya, kepada warga yang berada di lokasi sasaran TMMD Ke 110 TA 2021 kali ini,” tutupnya.

Potensi Kongkalikong, Dibalik Mangkraknya Proyek GOR Parigi Moutong

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comIndikasi adanya potensi praktek kongkallikong, seakan menjadi bayang-banyang dibalik mangkraknya proyek pembangunan GOR Kabupaten Parigi Moutong.

Mangkraknya proyek pembangunan GOR Parigi Moutong yang merupakan mega proyek bernilai Rp 11 Miliar, bersumber dari APBN tahun 2019. Nampaknya, beraroma ‘kental’ praktek culas, dalam sejumlah proses penanganan proyek itu, sejak tahun 2019 hingga 2020.

OPD teknis yang bertanggungjawab atas mega proyek bersumber dari APBN tersebut adalah, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Parigi Moutong. Saat  kucuran Miliaran Rupiah anggaran tersebut mengalir ke kas daerah, OPD ini dalam kepemimpinan Zulfinachri.

DISPORA Parigi Moutong, terkesan lalai menjalankan fungsi dan kewajibannya, selaku OPD teknis.

Pasalnya, pada tahun 2019 pembangunan GOR ini tidak selesai dan kembali teragendakan tendernya tahun 2020, dengan perusahan pelaksana yang berbeda sebagai kontraktornya.

Sayangnya, kasus yang sama kembali terulang pada proses pembangunan GOR Parigi Moutong ini, pada tahun tersebut.

Kesamaan kasus yang terjadi itu, seakan menguatkan dugaan kelalaian DISPORA Parigi Moutong, sebagai OPD teknis yang bertanggungjawab atas mega proyek tersebut. Akibatnya, tersinyalir potensi atas kerugian negara yang bisa mencapai Miliaran Rupiah tidak dapat terhindarkan.

Bukan hanya terkait ‘sinyalemen’ kerugian negara saja. Warga Parigi Moutong pun, terpaksa masih harus menunggu beberapa waktu lagi, untuk dapat melihat dan menikmati sejumlah fasilitas Olahraga dari mega proyek pembangunan GOR Parigi Moutong.            

Ada hal menarik lain, berdasarkan hasil penelusuran Redaksi kabarSAURUS bersama dengan tim media ini, pada Rabu (10/3).

Proyek tersebut ternyata melibatkan seorang pengusaha asal Parigi Moutong, yang juga memiliki peran sentral dalam proses pembangunan pada proyek GOR Parigi Moutong tersebut.

Haslun, adalah pengusaha yang merupakan pemilik dari UD Afiki, juga selaku suplayer bagi sejumlah bahan bangunan dalam proyek pembangunan GOR Parigi Moutong tersebut.

Kontraktor Pelaksana Proyek Pembangunan GOR Parigi Moutong Tahun 2019 dan 2020, Merupakan Orang yang Sama

Ternyata, bukan hanya negara khususnya warga Parigi Moutong yang merugi akibat mangkraknya proyek itu. Haslun pun mengaku, sempat merugi akibat ulah dari perusahaan kontraktor pelaksana atas pekerjaan tersebut.

“Sebelumnya, utang atas sejumlah pengadaan bahan bangunan dari si kontraktor mencapai 60an Juta Rupiah. Beruntungnya, masih ada sisa bahan bangunan yang belum sempat terpakai dan sudah saya tarik kembali untuk menutupi utang itu, pasca proyek tersebut sudah tidak bisa berlanjut lagi. Yah, Alhamdulilah, setidaknya ada yang kembali. Meskipun, masih tersisa sekitar Rp 7 jutaan,” ungkapnya.

Berdasarkan pengakuannya, kontraktor pelaksana atas proyek ini 2019 lalu, merupakan kontraktor pelaksana yang sama pada tender proyek tersebut tahun 2020.

Sita Empat Excavator, Pintu Masuk Ungkap Dalang Peti Buranga

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comPasca tragedi yang terjadi pada ‘lubang maut’ PETI Buranga. Polres Parigi Moutong kini telah menyita Empat Excavator yang beroperasi pada sekitar PETI tesebut. Hal ini dianggap dapat membantu proses penyidikan untuk mengungkap dalang dari PETI Buranga.

Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Parigi Moutong, telah menyita Empat alat berat Excavator, yang diduga sebagai kendaraan operasional para dalang pada Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo.

Hal itu sesuai penuturan Kapolres Parigi Moutong, AKBP Andi Batara Purwacaraka, kepada tim Redaksi kabarSAURUS, saat menyambangi ruang kerjanya. Rabu (10/3).

Ia mengatakan, selain berhasil melakukan penyitaan terhadap Empat alat operasional, yang beroperasi pada ‘lubang maut’ PETI Buranga.

Pihaknya juga, kata Andi Batara, telah menetapkan seorang tersangka, berinisial (ML) berusia 23 tahun. Merupakan warga Desa Maleali, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.

Ia mengungkapkan, keterlibatan (ML) dalam kasus tersebut, merupakan operator pada salah satu Excavator yang diduga milik dalang PETI Buranga.

“Tersangka inisial ML (23) beralamat Desa Maleali. Keterlibatannya sebagai operator alat berat pada PETI Buranga. Hal tersebut, berdasarkan hasil gelar perkara pada Selasa 02 Maret 2021 lalu,” ungkapnya.

Ia menuturkan, dalam penanganan perkara itu, Polres Parigi Moutong melibatkan beberapa pihak. Antara lain, Bareskrim dan Saksi Ahli dari IPB yang khusus menerangkan terkait lingkungan.

Sebab, lanjut Andi Batara, penetapan sanksi hukum perkara ini menggunakan Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2020 tetang Perubahan atas Undang- Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Kemudian, Pasal 98 Ayat (1) dan (3) Undang- Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Terkait pelanggaran UU Kehutanan tidak bisa terpakai dalam perkara PETI Buranga. Sebab, lahan pertambangan itu berstatus Areal Penggunan Lain (APL) dan bukan termasuk dalam kawasan hutan lindung,” terangnya

Sejumlah Pihak Terlibat, Termaksud Dalang Peti Buranga, Melarikan Diri

Ia mengaku, saat ini telah memerintahkan tim untuk melakukan pencarian dan pengejaran terhadap para oknum yang terindikasi berperanan sebagai dalang atau pemodal maupun para operator alat berat.

“Pasca peristiwa longsor, semua oknum yang harus bertanggungjawab atas tragedi Longsor PETI Buranga sudah melarikan diri,” jelasnya.

Ia menyampaikan, selama proses pengicaran, pihaknya belum ingin memberikan keterangan terkait insial maupun jumlah para oknum yang sudah telah menjadi target penangkapan. Sebab, hal itu bakal semakin mempersulit proses pencarian yang saat ini sementara tim Sat Reskrim Polres Parigi Moutong lakukan.

“Kendalannya, kami mencari orang-orang yang sudah disampaikan oleh saksi-saksi yang sudah kami periksa sebelumnya, terkait titik keberadaanya,” tandasnya.

Pantauan tim Redaksi kabarSAURUS. Keempat alat berat sitaan itu, terdiri dari Tiga unit exavator merek Volvo dan Satu merek Doosan yang kini telah parkir pada area Polres Parigi Moutong.

Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/2021/02/28/siapa-aktor-dibalik-peti-desa-buranga-parigi-mutong/

Bekas Kadis Dispora Parigi Moutong, Tinggalkan Dua Proyek ‘Bermasalah’

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Bekas Kepala Dinas (Kadis) DISPORA Kabupaten Parigi Moutong, Zulfinachri. Meninggalkan dua proyek yang terindikasi kuat mengalami masalah dalam penyelesainnya.

Sebelum mendapat kepercayaan hengkang dan memimpin DPMD Kabupaten Parigi Moutong, yang mengikuti pelantikan sekitar awal Februari 2021.

Pada masa Zulfinachri menjabat sebagai Kadis DISPORA Parigi Moutong terdapat satu mega proyek yaitu pembangunan GOR dan menara pandang, yang terindikasi kuat mengalami masalah.

Pada mega proyek pembangunan GOR yang bernilai pagu anggaran sebesar Rp 11 miliar bersumber dari APBN tahun 2019 lalu, sampai saat ini masih ‘mangkarak’.

Sementara, untuk pembangunan menara pandang pada dua lokasi yaitu, Desa Khatulistiwa, Kecamatan Tinombo Selatan dan Desa Salumpengut, Kecamatan Moutong bersumber dari APBD 2020 harus menyeberang tahun untuk selesai.

Berdasarkan hasil penelusuran lapangan Tim Redaksi kabarSAURUS, saat 29 Januari dan 06 Februari 2021. Proyek pembangunan menara pandang pada dua wilayah ini masih dalam proses pengerjaan.

Sedangkan, kondisi terparah terjadi pada mega proyek pembangunan GOR yang terletak di Desa Jono Kalora. Berdasarkan pantauan terakhir media ini, Selasa (9/3). Kondisi memperihatinkan nampak terlihat jelas pada bangunan proyek yang mangkrak tersebut.

Bahkan beberapa bagian dari bangunan ini, terkesan nyaris menjadi tempat ‘ternyaman’ bagi burung walet untuk membuat sarang.

Untuk diketahui, proses pengerjaan mega proyek pembangunan GOR yang dalam penanganan DISPORA Parigi Moutong, seharusnya, selesai pada tahun 2019 lalu.

Kemudian, pada pembangunan menara pandang yang juga dalam penanganan DISPORA Parigi Moutong, semestinya selesai pada bulan Desember 2020.

Berdasarkan penelusuran melalui LPSE Kabupaten Parigi Moutong, CV Libra Abadi, beralamat Desa Loli, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Merupakan pemenang  tender proyek pembangunan menara pandang dengan nilai pagu anggaran Rp 456 Juta.

Sebelum berita ini terbit, media ini yang coba mengkonfirmasi Zulfinachri di DPMD Parigi Moutong dan sejumlah pihak terkait penanganan dua proyek itu, Selasa (9/3). Sayangnya, sejumlah pihak tersebut sedang tidak berada ditempat.

Penegendusan Aroma Parktek Culas, Pada Dua Proyek yang ditangani DISPORA Parigi Moutong

Indikasi terjadinya praktek culas pada mega proyek pembangunan GOR dan dua menara pandang yang dalam penanganan DISPORA Parigi Moutong, seakan mulai mencuat kepermukaan.               

Pasalnya, berdasarkan informasi yang berhasil terhimpun media ini, pada mega proyek pembangunan GOR. Meski telah dikerjakan selama dua tahun terakhir yaitu tahun 2019 dan tahun 2020 dengan dua kontraktor pelaksana yang berbeda. Namun anehnya, menghasilkan ‘kasus’ yang sama, yaitu tidak dapat selesai.

Anehnya, Dispora Parigi Moutong saat itu, seakan tidak berkaca dengan pola pengerjaan kontraktor pelaksana pada tahun 2019. Sehingga, meski dalam pengerjaan kontraktor yang berbeda pada tahun 2020. Namun, mendapatkan hasil yang sama, yaitu, tidak terselesaikan sesuai dengan harapan.

Sebagai OPD teknis yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan terkait pembangunan GOR ini. DISPORA Parigi Moutong yang saat itu dalam pimpinan Zulfinachri, terkesan lemah dalam melakukan fungsinya terhadap sebuah proyek.

Parahnya lagi, berdasarkan infomasi penelusuran media ini, akibat terkesan lemahnya DISPORA Parigi Moutong tersebut. Berpotensi memunculkan indikasi kerugian negara yang kurang lebih menyentuh nilai Miliaran Rupiah.

Masih berdasarkan informasi yang terhimpun media ini. Anggaran sekitar Rp 9 Miliar telah terkucurkan untuk pembangunan mega poroyek tersebut, dari total anggaran senilai Rp 11 Miliar. Bahkan akibat Ulah dari dua kontrak pelaksana yang terkesan ‘abal-abal’ itu, mengakibatkan kondisi GOR tersebut, saat ini masih jauh dari kata rampung.

Berbeda lagi dengan Dua proyek pembangunan menara pandang yang juga dalam tanggungjawab DISPORA Parigi Moutong, selaku OPD teknis.

Indikasi adanya praktek kong-kalikong disinyalir terjadi pada dua proyek menara pandang tersebut.

Pasalnya, berdasarkan hasil penelusuran melalui LPSE Parigi Moutong tahun 2020. Media ini tidak menemukan adanya proyek pembangunan menara pandang pada wilayah Desa Salumpengut tercantum dalam kolom tender LPSE tersebut.

Seperti pemberitaan media ini sebelumnya, CV NISA DIKA MEMBANGUN, merupakan kontraktor pelaksana pengerjaan proyek menara pandang pada wilayah Desa Salumpengut.

Selengkapnya, Baca : https://kabarsaurusonline.com/2021/01/10/menara-pandang-proyek-menyeberang-tahun-di-parigi-moutong/

CV Libra Abadi, Pemenang Tender Pembangunan Menara Pandang Proyek Dalam Lingkup DISPORA Parigi Moutong   

Masih berdasarkan penelusuran LPSE itu, proyek pembangunan menara pandang yang bersumber dari APBD tahun 2020, hanya ada pada Kecamatan Tinombo Selatan.

Dalam informasi LPSE itu, CV Libra Abadi tercantum jelas, sebagai pemenang tender pembangunan menara pandang pada wilayah Kecamatan Tinombo Selatan.

Hal itu dapat terlihat pada kode tender 2479149 dalam LPSE Parigi Moutong tahun 2020. Nilai pagu anggran untuk pengerjaan proyek itu, sebesar Rp 456.000.000 tahun anggaran 2020.

Sementara itu, terkait denda keterlambatan pekerjaan dua menara pandang, seakan belum jelas ‘mengalir’ kemana.

Saat media ini mengkonfirmasi pihak Inspektorat Parigi Moutong, perihal, adanya laporan terkait pembayaran denda atas keterlambatan pekerjaan dua proyek menara pandang itu. Adrudin Nur, selaku Inspektur Inspektorat Parigi Moutong yang baru menjabat pada Februari 2021, mengaku, belum mengetahui pasti terkait hal ini.

“Belum ada informasi terkait pengembalian ini. Tapi nanti saya coba cek ke Inspektur Pembantu (IRBAN) yang ada. Namun, sepengetahuan saya, saat ini, BPK masih sementara melakukan pemeriksaan untuk seluruh kegiatan tahun anggaran 2020,” pungkas Adrudin Nur. Saat media ini ‘bertandang’ keruang kerjanya, Selasa (9/3).

Demokrat di Persimpangan, AHY-Muldoko ‘Tarik Tambang’

Jakarta, kabarSAURUSonline.com – Saat ini, kader Partai Demokrat bak berada di persimpangan. Hiruk pikuk perebutan kursi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat antara Agus Harimukti Yudoyono (AHY) dan Jendral Purn. Muldoko mengidentikkan sebuah permainan ‘Tarik Tambang’.

Pasalnya, kedua kubu tersebut masing-masing saling mengklaim keabsahan kepengurusan pusat partai besutan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Persiteruan itu menarik perhatian semua pihak khususnya kader partai pada tingkatan bawah. Rasa bimbang menentukan arah pun bakal terbayang dalam fikiran para kader partai.

Sejumlah pernyataan pun muncul dari kedua kubu yang bersiteru. Bahkan, Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY membuka suara. Dalam Mengutib pidato SBY dari akun yutube CNN Indonesia, ia menyatakan saat ini Demokrat dalam posisi berkabuh. Berkabuhnya partai tersebut kata SBY, karena akal sehat telah mati.

“Sebenarnya bukan hanya demokrat yang berkabuh. Namun bangsa Indonesia pun ikut berkabuh, karena akal sehat telah mati. Sementara keadilan, suplemasi hukum dan demokrasi sedang mendapat ujian,” sebutnya.

Bukan hanya itu, SBY pun melontarkan pernyataan bahwa Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang Sumatera Utara tidak sah atau abal-abal. Dengan tegas SBY menyatakan jika Jendral Purn. Muldoko yang notebenenya orang Istana, bukan kader Demokrat atau Eksternal partai yang merebut kepemimpinan partai dari tangan Ketum sah, AHY.

“Ketum AHY  setahun yang lalu telah resmi oleh pemerintah. Kemudian sebulan lalu Ketum AHY telah mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi tentang keterlibatan Muldoko dalam penggulingan Partai demokrat yang sah,” bebernya.

Perihnya lagi, SBY ungkap penyesalan dan rasa malunya pernah memberikan kepercayaan dan jabatan kepada Muldoko saat menjadi orang nomor satu di Negeri ini.

Megutib pidato Muldoko dari siaran video Tribunnews.com mengatakan, ia memberikan apresiasi kepada DPD, DPC, Pendiri dan para Senior yang telah berani memperjuangkan cita-cita Demokrat yaitu demokrasitis, terbuka dan modern.

“KLB ini adalah konstitusional seperti yang tertuang dalam AD/ART,” ungkap Muldoko.

Muldoko juga menyebut, perbedaan pendapat dalam proses pemilihan antara ia dan Marzuki Ali merupakan sebuah langkah demokrasi.

Mengutib lagi dari CNN Indonesia.com, cerita peserta KLB versi Muldoko. Gerald Piter Thomas bercerita awalnya pemilihan ketua umum berlangsung secara voting. Ketika pimpinan sidang menanyakan kepada para peserta siapa yang menjadi ketua umum, banyak peserta menyerukan nama Moeldoko.

Cerita Kegiatan KLB Demorat di Serang

“Kemudian ada pertanyaan lagi, siapa lagi yang bisa menjadi calon ketua umum? Para peserta berteriak Marzuki Alie. Tercatat oleh pimpinan sidang dalam hal ini Pak Jhoni Allen,” kata Gerald dalam video, Selasa (9/3).

Usai mendapatkan dua nama kandidat ketua umum, Gerald mengatakan, Jhoni Allen sebagai pimpinan sidang meminta peserta berdiri atau mengangkat tangan ke atas. Hal itu bertujuan sebagai penanda peserta memilih Moeldoko maupun yang memilih nama Marzuki Alie.

Akan tetapi, Jhoni Allen tiba-tiba mengetuk palu dan menyatakan bahwa Moeldoko yang terpilih sebagai ketua umum.

“Sementara Pak Moeldoko tidak ada di tempat KLB. Hanya ada Pak Marzuki Alie. Tapi (Moeldoko) sudah di tetapkan sebagai ketua,” kata dia.

Gerald mengaku heran Moeldoko bisa terpilih sebagai ketum meski tak berstatuskader Partai Demokrat baik di tingkat pusat maupun daerah.

Moeldoko sendiri mendapat pengesahan anggota Partai Demokrat melalui tata tertib yang berlaku dalam KLB Deli Serdang. Dalam pembacaan Pasal 20 poin 5 tata tertib KLB menyebutkan:

Pembuktian anggota dan kader Demokrat dengan kartu tanda anggota dan atau kader yang baru masuk melalui KLB ini. Sehingga yang bersangkutan mendapat penetapan memiliki kartu tanda anggota Demokrat dengan nomor khusus,”

Lantas, Gerald mempertanyakan pihak yang menandatangani kartu tanda anggota Partai Demokrat milik Moeldoko. Dia juga menanyakan nomor anggota dari Moeldoko.

KTA Demokrat Muldoko, SBY Menandatangani

Gerald menjelaskan selama ini tanda tangan Kartu Tanda Anggota (KTA) oleh ketua umum partai dan sekjen partai. Ia juga menunjukkan KTA miliknya yang pembubuhan tandatangannya oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Hinca Panjaitan saat keduanya masih menjabat sebagai Ketum dan Sekjen Demokrat.

“Pak Moeldoko di anggap anggota Demokrat. Kartu anggotanya mana? Nomor kartu tanda anggotanya tidak ada, terus terpilih menjadi ketum, ini aneh,” ujar Gerald.

Gerald turut membeberkan kejanggalan lain di arena KLB ketika tidak ada registrasi bagi para peserta. Padahal, semua peserta yang hadir sudah mendapat kartu peserta bahkan lengkap dengan barcode.

Ia menilai kelonggaran itu membuat siapa saja boleh masuk ke KLB karena tidak ada registrasi mengatur secara ketat.

“Kita ini cuma pakai kartu peserta, masuk dalam ruangan kongres. Sementara ruangan kongres banyak. Orang yang ada di luar yang mau masuk kongres ya silakan masuk karena tidak ada registrasi. Masuklah orang-orang, terabsen, oleh masing-masing koordinator di daerah,” kata dia.

Harla Pertama, BKPAPM Parigi Moutong Bakal Gelar Sejumlah Kegiatan

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Dalam rangka merayakan Hari Lahir (Harla) nya yang pertama. BKPAPM Parigi Moutong, bakal menggelar sejumlah kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan.

Salah seorang pencetus BKPAPM Parigi Moutong, Idurs, menyampaikan hal itu kepada Redaksi kabarSAURUS, di Sekretariat lembaga tersebut.

Ia menuturkan, Harla Badan Koordinasi Pecinta Alam Parigi Moutong (BKPAPM) tersebut, tepatnya pada tanggal 21 Maret 2021 nanti. Hal itu kata Idrus, bertepataan dengan hari Hutan sedunia.

“Jadi, pada hari hutan sedunia tersebut, bertepatan pula dengan tanggal kesepakan kita bersama tentang lahirnya lembaga ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, bertepatannya Harla pertama lembaga ini dengan hari hutan sedunia itu, membuat pihaknya berkeinginan untuk merayakan dengan konsep yang akan teringat oleh seluruh anggotanya.

Pasalnya, lanjut Idrus, selain mengisi dengan sejumlah kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan dalam rentan waktu pelaksanaan selama Tiga hari. Pada hari puncak Minggu, 21 Maret 2021 nanti, pihaknya juga akan melaksanakan deklarasi kehadiran BKPAPM Parigi Moutong, di bumi Parigata.

Menurutnya, hal ini sebagai bentuk pernyataan sikap dari lembaga tersebut nyata keberadaannya pada daerah ini.

“Kami ada, dan sejak setahun terakhir, kami sudah berbuat di darah ini dan untuk daerah ini. Sehingga, deklarasi nanti, merupakan bentuk penglegitimasian bagi 18 organisasi Kelompok Pecinta Alam (KPA) yang bernaung di bawah lembaga ini,” terangnya.

Idrus secara tegas membantah, jika kehadiran BKPAPM sebagai tandingan dari seluruh lembaga kepemudaan yang ada di bumi parigata. Khususnya, lembaga – lembaga yang bergerak dibidang lingkungan.

Ia menyampaikan, keberadaan BKPAPM Parigi Moutong, adalah suatu wadah mempererat persaudaraan antar pemuda di bumi Parigata. Khususnya organisasi dan anggota KPA dan komunitas lingkungan lainnya, yang tersebar dari ujung Kecamatan Sausu hingga Moutong Kabupaten Parigi Moutong.

“Luar biasa KPA dan komunitas lingkungan yang ada pada daerah kita ini. Sebagai contoh, ada satu desa yang mempunyai dua KPA. Nah, disinilah peran BKPAPM sebagai wadah mempererat tali persaudaraan sesama pemuda yang peduli terhadap lingkungan,” tegasnya.

Kehadiran BKPAPM Parigi Moutong Sebagai Wadah Kerjasama Pemerintah dan Lembaga Perekat Persaudaraan Pemuda

Ia menambahkan, pihaknya akan mengundang KPA dan komunitas lingkungan yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, serta para pejabat daerah tingkat Kabupaten dan Provinsi.

Ia berharap seluruh pihak yang diundangan dapat menyempat waktu untuk hadir dalam pembacaan deklarasi, adalah intisari dari perayaan Harla pertama lembaga tersebut.

“Selain sebagai wadah persaudaraan, kehadiran kami juga sebagai rekan kerja Pemerintah dalam hal pengawasan serta kontrol terhadap lingkungan,” jelasnya.

“Marilah sama-sama kita bersinergi, saling  mendorong untuk membangun daerah kita ini dengan tetap menjaga kelestarian bahkan melestarikan lingkungan,” tutupnya.

Baca Berita Terkait Sebelumnya : https://kabarsaurusonline.com/2020/07/28/empati-warga-parigi-moutong-tidak-pudar/

Exit mobile version
%%footer%%