Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.com – Ketua Majelis Pembimbing Pramuka SAKA Widya Budaya Bakti (SWBB) Parigi Moutong. Optimis, jika satuannya tidak akan mati suri.
Selengkapnya : https://www.youtube.com/watch?v=jLccyPF27ow
Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.com – Ketua Majelis Pembimbing Pramuka SAKA Widya Budaya Bakti (SWBB) Parigi Moutong. Optimis, jika satuannya tidak akan mati suri.
Selengkapnya : https://www.youtube.com/watch?v=jLccyPF27ow
Palu, KabarSAURUSonline.com – Ketegaran penyintas bencana PASIGALA jelang tiga tahun bencana ini, merupakan tulisan salah seorang Mahasiswi semester II Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.
Melansir dari Portalsulawesi.id, tulisan Mahasiswi Universitas Malah ini, bercerita tentang bencana gempa bumi, Tsunami dan Likuifaksi pada 28 September 2018 silam, hingga pasca benca tersebut.
Bencana yang menghantam Satu Kota dan Tiga Kabupaten wilayah Sulawesi Tengah ini pun, membuat bencana tersebut dikenal juga dengan bencana alam Pasigala.
Pasigala sendiri, merupakan gabungan potongan nama dari Empat daerah yang mengalami bencana alam saat itu, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala. Saat itu, Pasigala menjadi pusat perhatian dunia akibat bencana alamnya.
Mulai dari organisasi kemanusiaan dunia, LSM dari berbagai negara hingga pemerintah negara luar silih berganti mendatangkan bantuan berbagai bentuk, bagi korban bencana alam di Pasigala.
” …. Langit di ufuk barat Kota Palu tampak merah jelang terbenam,mendung menghiasi angkasa kala itu,saat dimana terjadi Tragedi memilukan yang menjadi peristiwa kelam ditanah kelahiranku, Bumi Tadulako .”
Hari itu,tanggal 28 September 2018, Kota Palu bersiap melaksanakan Festival Palu Nomoni. Festival Budaya yang menjadi agenda tetap Kota Palu setiap memasuki hari lahirnya, pelaksanaanya dipusatkan di Anjungan Pantai Talise tepatnya dipesisir teluk Palu dikelurahan Talise Kecamatan Besusu Tengah Kota Palu.
Masyarakat disekitar Kota Palu beduyun-duyun masuk Kota Palu,Para Pedagang berebut tempat strategis untuk menggelar Dagangannya,Penginapan dan Hotel Penuh sesak dengan para wisatawan baik Lokal maupun dari luar Palu hadir dalam rangka menyaksikan puncak acara Palu Nomoni.
Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak.
Sore itu,sekira Pukul 18.06 terjadilah sebuah bencana maha dahsyat yang membuat dunia serasa kiamat, Guncangan Gempa melanda Sulawesi Tengah. Getaran Gempanya terasa hingga ke Pulau kalimantan dan wilayah lain di pulau Sulawesi.
DiKota Palu dan Kabupaten Donggala selain Gempa Bumi juga terjadi Tsunami yang melanda pesisir teluk Palu dan Donggala,bahkan di wilayah Kelurahan Petobo dan Kelurahan Balaroa terjadi bencana Maha Dhasyat yakni Likuifaksi yang menenggelamkan ribuan rumah dan mengubur ribuan warganya.
Dikabupaten Sigi pun. demikian. Di desa Jono Oge Kecamatan SigiBiromaru dan Desa Sibalaya Kecamatan Gumbasa ribuan rumah dan warga ikut tertelan pusaran bumi yang tiba tiba menggulung pemukiman.
Tanah yang dahulunya keras tiba tiba mencair dan kehilangan daya dukung akibat guncangan Gempa,akibatnya semua yang ada di atas tanah Petobo,Balaroa,Jono Oge hingga di Sibalaya tertelan Bumi dan terkubur. Ribuan orang dipastikan tewas, angka korban jiwa mencapai seribuan orang dan jasad yang tidak ditemukan diperkirakan lebih banyak lagi.
Korban Tsunami pun, ribuan warga yang bersiap menikmati acara Palu Nomoni harus menerima kenyataan meregang nyawa digulung Tsunami,tidak sedikit korban tewas akibat tertimpa reruntuhan Gedung dan infrastruktur yang rubuh,bahkan tertimpa phon ataupun terhimpit rekahan Tanah.
Dalam catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis Angka 7,4 pada Skala Richter pada Pukul 18.02 Wita untuk guncangan puncak kala itu, getaran Gempa hanya terjadi beberapa detik telah meluluhlantakkan ibukota Propinsi Sulawesi tengah,Kota Palu serta dua Kabupaten disekitarnya yakni Kabupaten Donggala dan Sigi.
Lima menit kemudian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan tsunami. Lembaga itu mewanti-wanti gelombang laut akan mencapai 0,5 sampai tiga meter. Antara tiga hingga enam menit berikutnya Kota Palu diterjang ombak setinggi enam meter.
Masyarakat setempat hanya punya waktu 10 menit, dari saat gempa mengguncang sampai tsunami menerpa, untuk melarikan diri ke tempat tinggi.
Dalam catatan resmi yang dilansir Badan Meteorologi dan Geofisika Pada pukul 18.02 WITA, bencana terjadi. Tanah yang mereka injak tiba-tiba berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan bangunan-bangunan ambruk.
Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter telah melanda Palu di Sulawesi Tengah. Gempa ini bukanlah yang pertama, tapi inilah yang terkuat.
Ikon Kota Palu,Jembatan Palu IV atau sering disebut Jembatan Ponulele ambruk,patah menjadi ratusan potong. Mall Tatura ,pusat perbelanjaan sepanjang jalan Palu Grand Mall roboh.
Hotel mewah yang berdiri dipesisir pantai teluk Palu pun menjadi sasaran Tsunami,sebutlah Hotel Mercury, Swissbell Hotel,Palu Golden Hotel,Total Hotel dan lain lain.
Bahkan di Hotel Roa-Roa diseputaran kelurahan Maesa Kota palu rata dengan tanah,disana ada sejumlah atlet Nasional Paralayang yang tewas terkubur.
Rumah sakit Anutapura yang berlantai empat pun luluh lantak, ribuan pasien yang terluka parah memenuhi beberapa rumah sakit yang masih beroperasi walaupun dalam keadaan gelap gulita.
Listrik dan Saluran Komunikasi putus,jaringan Internet dan transportasi lumpuh. Kota Palu,Sigi dan Donggala lumpuh Total dan menjadi Kota Mati yang mencekam.
Menurut Muhamad Sadly, Deputi Bidang Geofisika BMKG, gempa bumi yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah terjadi akibat aktivitas Sesar Palu Koro. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa tersebut muncul sebagai akibat pergeseran lempeng secara mendatar.
Tumbukan antar lempeng inilah yang menyebabkan pelepasan energi dalam jumlah besar dan menimbulkan getaran gempa hingga terasa ke permukaan. Selain itu, karena sifatnya yang berupa gempa dangkal, dampak getaran gempa sangat terasa di permukaan, bahkan sampai menimbulkan tsunami.
Hari hari pasca 18 September 2018 itu ,wilayah Pasigala menjadi gelap gulita. Putusnya aliran listrik membuat para pengungsi harus tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit, kekurangan bahan makanan dan air bersih hingga obat obatan.
Sesekali Guncangan Gempa masih terasa, para penyintas bencana memilih tempat aman untuk mengungsi. Tidak adalagi sekat antara kaya dan miskin,antara orang kaili ataupun orang bugis atau suku lain, antara muda ataupun tua.
Semua berbaur dalam lokasi pengungsian, ribuan warga Palu, Sigi dan Donggala mendirikan tenda darurat ,bahkan ada yang memilih tidur dan mengungsi disekitar kuburan bahkan kandang ternak.
Gelombang Eksedus pengungsi juga terjadi di akses keluar Kota Palu,Sigi ataupun Donggala. Ribuan warga memilih mengungsi kewilayah diluar Sulteng untuk memberi rasa aman bersama Keluarganya yang selamat.
Krisis Sosial mulai melanda wilayah Pasigala, Krisis Air,Pangan ,sandang,Komunikasi bahkan BBM menambah panjang faktor kegelisahan penyintas bencana.
Petinggi Negara pun hadir,Presiden bahkan memerintahkan para menterinya untuk Fokus memberikan penanganan Khusus di wilayah Pasigala (Palu-Sigi dan Donggala).
Relawan dari seluruh Pelosok Negeri berdatangan baik lewat akses darat,laut maupun Udara, bahkan relawan manca negara datang membawa bantuan untuk Hadir Memeluk Sulteng.
Hanya tangisan dan khayalan yang dapat dirasakan malam itu. Perasaan kaget karena tidak sangka hal ini bisa terjadi secara tiba-tiba, belum lagi beberapa anggota keluarga yang tidak berkumpul di tempat yang sama, membuat perasaan semakin tidak bisa dijelaskan.
Di tempat pengungsian, para penyintas saling berbagi cerita upaya heroik menyelamatkan diri dan keluarga dari bencana tersebut, semata-mata untuk saling menguatkan.
Perjuangan untuk bertahan hidup diluar rumah dengan keadaan harus kehilangan banyak sanak saudara menjadi hal lumrah kalah itu. Beredar kabar bahwa ada penjarahan di minimarket dan SPBU di Palu, namun Mendagri Tjahjo Kumolo membantah berita itu dan memperbolehkan aksi tersebut. Toko banyak
yang rusak, dan makanan minuman banyak yang terbuang. Sebab itu, memang diambil begitu saja.
Lebih dari itu, Pemerintah Kota Palu memerintahkan Retail Alfamidi untuk membuka tokonya dan dibayarkan oleh Pemerintah
Hari demi hari harus tetap dijalani, hidup bersama ditenda pengungsian dengan banyak anggota dari banyak kepala keluarga menumbuhkan rasa solidaritas untuk saling menguatkan tiap harinya.
Disaat Sulit kala itu, Keberadaan radio Kecil menjadi harta satu satunya yang palin berharga karena dapat mendengarkan berita dan informasi dari Radio RRI terkait bencana,karena saat Bencana Melanda hanya Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Palu lah yang dapat dipercaya memberikan Informasi benar diantara informasi Hoax yang beredar dimasyarakat pasca bencana.
Seminggu setelah bencana, beberapa yang rumahnya masih layak untuk ditinggali akhirnya kembali ke rumah walau tidur hanya diteras.
Rumah Kami yang mengalami kerusakan berat memaksa kami untuk tetap tinggal di tenda pengungsian dengan banyak kekurangan.
Walaupun demikian bantuan dari berbagai pihak berangsur-angsur datang diberbagai daerah terdampak. Listrik mulai menyala dibeberapa tempat dengan bantuan genset. Banyak mata air yang digali dan masyarakat mengantri dengan jergen dan galon yang mereka bawa untuk menampung air. Hidup tetap berjalan dengan segala keterbatasan. Apalagi bagi wilayah yang akses daratnya terputus.
Sebulan setelah kejadian, kegiatan perekonomian mulai pulih, beberapa pegawai kantor mulai masuk walaupun tidak diwajibkan. Lebih dari 2.000 orang yang tercatat meninggal dunia dan ribuan orang lainnya masih hilang dan diduga telah tewas karena gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor serta likuifaksi, suara sirene ambulans menjadi akrab ditelinga kami. Layanan utama untuk anak-anak termasuk sekolah dan pusat kesehatan masih belum bisa beroperasi. Transpotasi darat berangsur-angsur pulih sedangkan transportasi udara hanya pesawat Hercules yang diizinkan parkir di bandara mutiara Sulawesi tengah.
Namun begitu pemerintah masih berusaha sekuat tenaga dalam pemulihan pasca gempa ini.
Gempa palu menjadikan 10 video trendng teratas di platform youtube, terdapat banyak komentar positif namun tak sedikit pula komentar negative yang membuat kami para korban sedih melihatnya.
Hastag #palubangkit #palukuat menjadi trending di beberapa platform media.
Tidak sedikit juga bantuan terkumpul dari relawan-relawan dari luar dan dalam negri. Bantuan-bantuan mulai di sebarkan ke masing- masing daerah terdampak, sedangkan daerah yang transportasi daratnya masih belum bisa diakses penyaluran bantuan di kirim melalui jalur udara dengan helicopter.
Untuk mengisi waktu luang anak-anak beberapa relawan kesehatan rutin melakukan trauma healing, guna menghibur sekaligus menyembuhkan trauma akan bayang-bayang yang dirasakan hari “itu”.
Tak terasa,hampir tiga tahun kami melewati hari hari Pasca Bencana, Upaya para Relawan dan Pemerintah untuk datang membantu pemulihan bencana di Palu-Sigi dan Donggala (Pasigala) terlihat banyak kemajuan, Kehidupan mulai Normal dengan ditandai aktivitas masyarakat yang mulai berjalan dengan baik.
Hastg #Palu Bangkit,Palu Kuat adalah sebuah suport yang menggerakkan naluri setiap warga Penyintas bencana, mereka bangkit dari keterpurukan akibat didera bencana berlahan tapi pasti.
Usaha semua fihak yang datang memeluk Palu ,Sigi dan Donggala kala masa sulit Pasca bencana berhasil,saat ini Roda Kehidupan di Palu,Sigi dan Donggala telah berangsur angsur Pulih sesuai Hastag
#PALU KUAT,PALU BANGKIT.***
***Penulis Adalah Siti Jilan Shaffiyah,Mahasiswa Semester II
Jurusan Hubungan Internasional (Nim:202010360311013)
Universitas Muhammadiyah Malang
Akun IG: @jilan.Shafiyyah
Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Normalisasi sungai, merupakan suatu kegiatan upaya pencegahan terhadap bencana banjir. Namun, keterbasan anggaran tahun ini, membuat BPBD Kabupaten Parigi Moutong belum melaksanakan kegiatan tersebut.
Berdasarkan peta rawan kebencanaan milik Kabupaten Parigi Moutong. Salah satu potensi bencana yang dapat daerah ini alami, adalah bencana banjir.
Salah satu indikatornya adalah, mengingat hampir setiap wilayah kecamatan pada daerah ini, memiliki aliran sungai yang cukup besar.
Olehnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong, melalui BPBD, diharap memperhatikan kondisi aliran sungai yang perlu untuk dilakukan normalisasi.
Sayangnya, Tahun ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Ternyata, belum dapat melakukan kegiatan upaya pencegahan bencana banjir pada sejumlah titik rawan di daerah ini.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris BPBD Parigi Moutong, Rifai saat media kabarSAURUS menyambangi ruang kerjanya, Senin, (5/7).
“Untuk tahun 2021 kegiatan upaya penanggulangan bencana banjir belum bisa dilakukan. Karena, pembiayaannya terhalang dengan adanya pandemi Covid-19,” ucapnya.
Ia mengatakan, meski demikian, saat mendapat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi curan hujan dan banjir, pihaknya akan langsung meneruskan kepada masyarakat.
Ia menuturkan, Bidang terkait BPBD Parigi Moutong, akan langsung meneruskan informasi tersebut keseluruh masyarakat melalui Pemerintah Desa.
“Kalau melihat data BMKG, Parigi Moutong ini sebagian besarnya berpotensi banjir. Apalagi untuk daerah yang terdapat aliran sungai,” terangnya.
Meski begitu kata ia, pihaknya tetap melakukan himbauan pada masyarakat terkait potensi banjir.
Selain itu, lanjut Rifai, pihaknya juga akan selalu melakukan koordinasi dengan dinas terkait, perihal upaya pencegahan.
“Terkait normalisasi sungai itu sudah kami sampaikan ke Dinas PUPRP. Tapi, kami juga belum tahu mereka punya biaya atau tidak untuk normalisasi sungai,” terangnya.
Baca Juga Berita Lainnya Terkait BPBD: https://kabarsaurusonline.com/2021/06/29/bpbd-parigi-moutong-berharap-masih-ada-bantuan-bencana-2018/
Untuk mencegah terjadinya banjir, normalisasi sungai dilakukan untuk menambah daya tampung sungai. Normalisasi dilakukan agar aliran air yang ada tidak menumpuk pada titik tertentu. Sehingga, sebisa mungkin akan dialirkan langsung menuju muara.
Hal ini akan berbeda jika terdapat beberapa fenomena hujan ekstrim dan air pasang maka akan terjadi pertemuan kedua arus yang mengakibatkan naiknya muka air sungai.
Akan tetapi, normalisasi juga harus diikuti dengan adanya bangunan pengendali air di daerah hulu.
Ketika normalisasi sudah tercapai, maka naturalisasi dapat dilakukan guna mengembalikan ekosistem sungai yang ada.
Rifai menambahkan, sebagai perangkat daerah yang bertugas melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana, secara terkoordinir dan terpadu. BPBD Kabupaten Parigi Moutong memiliki Tiga bidang terkait tugas dan fungsinya itu yakni, mitigasi, penanggulangan bencana, dan rehabilitasi.
Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong sudah pernah melakukan delineasi terkait penggambaran batas wilayah desa dan kecamatan. Sehingga tidak ada lagi yang saling klaim batas wilayah.
Kepala Sub Bagian (Kasubag) Otonomi Daerah (Otda), Hasmawati, kepada redaksi kabarSAURUS mengatakan, hasil delineasi tersebut sudah tertuang dalam berita acara yang telah diketahui oleh masing-masing pemerintah desa.
“Kemarin menurut hasil delineasi, sudah ada tertuang di berita acara dan Pemerintah Desa sudah mengetahui semuanya,” ujarnya.
Pasalnya, pada tahun 2019 lalu, di Kabupaten Parigi Moutong, masih ada beberapa desa dan kecamatan yang belum mengetahui tanda batas wilayahnya secara pasti.
Ia menyebutkan, diantaranya Kecamatan Parigi Tengah, Kecamatan Parigi, Kecamatan Tomini, Kecamatan Bolano, Kecamatan Sidoan dan Kecamatan Bolano-Lambunu.
“Kemarin itu ada Desa Binangga Kecamatan Parigi Tengah, Bambalemo Ranomaisi Kecamatan Parigi, Kecamatan Tomini, Kecamatan Bolano, Kecamatan Sidoan dan Kecamatan Bolano-Lambunu,” sebutnya.
Ia menerangkan, Kecamatan Parigi terdapat dua wilayah yang belum mengetahui batas desa nya, yaitu Desa Bambalemo Ranomaisi dengan Lebo, Kecamatan Parigi Tengah antara Desa Petapa dan Desa Binangga.
Lanjutnya, dari wilayah yang ada itu sempat terjadi saling klaim antar perbatasan. Tetapi kata ia, pihaknya akan melakukan pengecekkan kembali ke lokasi.
“Dari Kecamatan Parigi Tengah, Kecamatan Parigi, Kecamatan Tomini, Kecamatan Bolano. Kemudian, Kecamatan Sidoan, Kecamatan Bolano Lambunu ini nanti masih akan kami cek kembali ke lapangan,” tuturnya.
Ia menambahkan, untuk upaya penanganan tapal batas wilayah sampai dengan saat ini masih diselesaikan ditingkat bawah antar pemerintah desa.
“Ini hanya saling klaim antar perbatasan-perbatasannya saja. Kalau untuk upaya-upaya penanganan dari kami sekarang belum ada, itu masih dari tingkat desa nya. Karena, sesuai dengan yang kemarin itu sampai sekarang belum ada lagi laporan yang masuk kesini,” tutupnya.
Baca Berita Terkait : https://kabarsaurusonline.com/2021/06/29/sepuluh-desa-di-parigi-moutong-ajukan-proposal-pemekaran/
Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Program vaksinasi di Kabupaten Parigi Moutong, telah menyentuh sekitar 2000 warga pada daerah ini.
Kepada Redaksi KabarSAURUS, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, menyampaikan hal itu belum lama ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong. Wulandari Marasobu mengatakan, untuk vaksinasi yang diperuntukan bagi masyarakat umum, diprediksi sudah mencapai 2000 orang.
Diketahui, Dinas Kesehatan Parigi Moutong telah melaksanakan vaksinasi untuk masyarakat umum mulai dari ASN, Pejabat Forkompinda, Tenaga Pendidik, Lansia hingga masyarakat umum.
Vaksinasi untuk masyarakat umum mulai dari usia 18 hingga 59 tahun dilaksanakan sejak 26 Juni 2021, bertempat di SMPN 2 Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong.
Berdasarkan pantauan media ini, animo masyarakat terhadap pelaksanaan vaksinasi cukup tinggi.
Hal itu, terlihat saat sejumlah masyarakat mengantri dengan tertib, menunggu panggilan oleh petugas vaksinasi dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan.
Wulandari Marasobu mengatakan, pelaksanaan vaksinasi terhadap masyarakat umum ini, sesuai dengan distribusi dari pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Wulandari menyebutkan, vaksin yang didistrubusikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi ada sebanyak 400 vial yang diperuntukan untuk 4000 orang.
Vaksinasi kali ini masih tergabung dengan lanjut usia dan juga tenaga pendidik Kabupaten Parigi Moutong.
Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/2021/06/23/dinkes-parigi-moutong-vaksinasi-tenaga-pendidik/
Sehingga, sampai dengan saat ini, sejak mulainya vaksinasi pada 26 Juni kemarin, Dinas Kesehatan Parigi Moutong mencatat, sudah ada sekitar 2000 orang masyarakat yang sudah tervaksin .
“Karena antusias masyarakat, Alhamdulillah kita sudah mencapai 2000 orang. Jadi untuk pelaksanaan hari Senin dan juga Selasa ini, semoga 400 vial vaksin tadi habis,” ujarnya.
Sementara itu lanjut Wulandari, titik lokasi vaksinasi umum selain pada 23 puskesmas se-kaupaten Parigi Moutong.
Selama dua hari sebelumnya, vaksinasi juga berlangsung di Polres Parigi Moutong.
“Polres kemarin dua hari, lalu hari ini kita di SMPN 2 Parigi yang mendekatkan ke kota,” terangnya.
Wulandari menambahkan, pelaksanaan vaksinasi tersebut melibatkan petugas Puskesmas Parigi, Puskesmas Lompe Ntodea dan Petugas dari Polres Parigi Moutong. “Petugas vaksin untuk masyarakat umum ini kurang lebih 20 orang,” tutupnya.
Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Aplikasi SiBimo yang BPBD Kabupaten Parigi Moutong luncurkan, memberikan kemudahan bagi warga Parigi Moutong untuk memperoleh informasi terkait data kebencanaan serta potensi bencana sejumlah wilayah daerah ini.
Kamis, 01 Juli 2021, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, menciptakan sejarah keterbukaan informasi publik terkait informasi kebencanaan daerah ini, dengan meluncurkan Aplikasi SiBimo
Kegiatan peluncuran aplikasi Sistem Informasi Kebencanaan (SiBimo) Parigi Moutong, yang digelar BPBD Parigi Moutong di lantai dua Kantor Bupati Parigi Moutong, Kamis (01/7). Menjadi pertanda resminya SiBimo sebagai sumber penyedia informasi kebencanaan bagi daerah ini yang diakui keabsahannya.
Sekteraris BPBD Rivay mengatakan, untuk masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana cara mengakses aplikasi tersebut yaitu dengan cara, membuka browser lalu ketik SiBimo atau juga bisa melalui website resmi BPBD.
Kemudian lanjut ia, masyarakat juga bisa melihat tools mitigasinya. Misalnya daerah-daerah yang rawan bencana, data curah hujan, prediksi perkiraan cuaca, hingga kondisi harian masyarakat Parigi Moutong dalam keadaan pandemi Covid-19.
Tidak hanya itu, pada aplikasi tersebut juga menyediakan kolom interaksi antar masyarakat, seperti kolom komentar dan dapat terbaca oleh publik.
Diketahui, dalam UU RI nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia bertanggung jawab melindungi seluruh bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan tujuan memberikan kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana.
Karena bencana merupakan peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan, dan kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam maupun nonalam. Sehingga mengakibatkan adanya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda serta dampak psikologis masyarakat yang mengalaminya. Olehnya, sistem informasi kebencanaan daerah menjadi hal sangat penting dan mutlak.
Baca Berita Terkait : https://kabarsaurusonline.com/2021/06/15/bpbd-parigi-moutong-rancang-aplikasi-sibimo-untuk-masyarakat/
Tampak hadir untuk membuka kegiatan, Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Zulfinasran, juga perwakilan sejumlah OPD dan lembaga terkait.
Dalam kesempatan itu, Zulinasran dalam sambutanya mengatakan, aplikasi ini merupakan satu upaya untuk memberikan kepuasan dalam pemberian informasi kebencanaan yang lebih cepat dan akurat, kepada pemerintah, stakeholder terkait, dan bagi seluruh masyarakat.
“Atas nama pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Saya sangat menyambut baik dengan adanya inovasi sistem informasi kebencanaan Kabupaten Parigi Moutong (Sibimo) ini,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya aplikasi tersebut, kesimpangsiuran informasi terkait bencana tidak terjadi lagi.
Selain itu juga, kecepatan dan ketepatan informasi bencana semakin baik, serta koordinasi atas stakeholder terkait bencana juga semakin terjalin dengan baik.
Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Sabtu, (26/6). Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parigi Moutong, mendapat kunjungan dari Internasional Federation Of The Red Croos (IFRC), untuk melihat progres pembangunan Markas dan Desa SIBAT.
PMI Kabupaten Parigi Moutong menerima kunjungan Manajer Operasi Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) pada Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah, Rad Al Hadid.
Salah satu agenda dari kunjungan Rad Al Hadid ini, untuk memantau progres pembangunan Markas PMI Parigi Moutong.
Pembangunan Markas PMI Parigi Moutong sendiri terletak di Jalan Pakabata, Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. Dari hasil kunjungan tersebut, sangat nampak kondisi pengerjaan yang hampir mencapai 90 persen.
Terkait hal itu, Rad Al Hadid meyakini, beberapa pekan kedepan, Markas PMI Parigi Moutong tersebut, sudah dapat beroperasi dengan segala aktifitas terkait kepalangmerahan.
Selain itu, kunjungan Rad Al Hadid juga untuk meninjau langsung program pasca bencana gempat bumi, tsunami dan likuifaksi PMI Parigi Moutong. Program yang dimaksud, baik yang sudah selesai maupun sedang berlangsung.
Tak lupa, Manajer Operasi IFRC ini, juga menyampaikan terima kasih atas usaha serta kerja-kerja kemanusiaan yang telah dilakukan PMI Parigi Moutong beserta relawannya yang selalu siap siaga membantu masyarakat dan Pemerintah. Khususnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong.
Kemudian, didampingi Kepala Markas PMI Parigi Moutong, Nur Srikandi Puja bersama sejumlah relawan Korps Sukarela PMI Parigi Moutong. Rad Al Hadid, berkunjung kesejumlah desa binaan PMI Parigi Moutong sebagai kampung SIBAT (Siaga Bencana berbasis Masyarakat).
Desa Dolago, adalah salah satu desa binaan PMI Parigi Moutong dalam program Kampung SIBAT.
Bersama dengan Perwakilan PMI Parigi Moutongg dan Rad Al Hadid, sejumlah perwakilan kelompok tani tambak berkunjung di program mikromitigasi mangrove Desa Dolago.
Penanaman ini telah selesai dilakukan sejak April 2021 dengan jumlah mangrove sebanyak 2000 sepanjang 1,286 km.
Pemilihan penanaman manggrove di Desa Dolago. Tepatnya, di Dusun Bundus, berdasarkan rekomendasi hasil koordinasi bersama antara pihak Pedes Dolago, masyarakat lokal, Karang Taruna, Kelompok Petani Tambak serta SIBAT.
Hal itu, karena lokasi nya yang rentan terhadapa abrasi, bajir rob, angin dan bahkan tsunami.
Selain itu, pohon mangrove juga berfungsi sebagai penetral racun seperti merkuri dan polusi dari udara atau dari asap kendaraan melalui akarnya.
Sehingga dapat menciptakan rumah ikan, kepiting dan juga binatang laut lainnya yang dapat menjadi alternaitf mata pencaharian dan memperkaya keankeragaman hayati.
“Ini kegiatan yang bagus untuk melibatkan masyarakat lokal dalam mengimplementasikan program-program PMI, dan diharapkan PMI kabupaten Parigi Moutong serta masyarakat lokal dan pemerintah daerah bisa selalu berintegrasi dalam melaksanakan kegiatan ini,” ujar Rad Al Hadid.
Selain Desa Dolago, kunjungan juga dilanjutkan ke lokasi pemasangan papan informasi pengurangan risiko bencana serta informasi hal-hal yang dilakukan jika terjadi bencana seperti banjir, gempa dan tsunami.
Papan informasi dan spanduk ini disebarkan pada beberapa titik desa-desa binaan PMI Kabupaten Parigi Moutong yaitu, Desa Petapa, Desa Dolago dan Kelurahan Bantaya.
Kedatangan Rad Al Hadid, sebagai Manajer Operasional IFRC ini juga mempertegas, akan usainya operasi penanganan pasca bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada 30 Juni 2021.
“Dengan adanya kelompok SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) diharapkan bisa menjadi perwakilan masyarakat dalam hal mengkampanyekan upaya-upaya pengurangan risiko bencana serta menyiapkan diri sebelum bencana terjadi” pesan Rad Al Hadid, kesejumlah warga dan perwakilan PMI Parigi Moutong. Sementara, selaku Kepala Markas PMI Parigi Moutong, Nur Srikandi Puja berharap apa yang telah PMI lakukan di daerah terdampak, bisa menjadi kekuatan untuk masyarakat lebih tangguh, kuat, dan siap dalam menghadapi bencana.
Sumber RILIS PMI Parigi Moutong
Berita Terkait : https://kabarsaurusonline.com/2020/09/27/pmi-parigi-moutong-bantu-korban-banjir-desa-sintuvu-raya/