Warga Adukan Kinerja Dinkes

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com –  Arif salah satu warga Parigi Moutong mendatangi gedung DPRD. Ia mengaku membawa aspirasi dan keresahan masyarakat terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Arif yang datang bersama perwakilan pemuda Alkhairaat, Riswan, juga mengeluh soal kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten parigi moutong, yang mendapati pejabat Dinkes tidak berkantor karena sedang berada di Lolaro. Padahal kasus covid-19 di Parigi Moutong tengah melesat naik.  

Menurut Arif, sebelum mendatangi DPRD mereka berkunjung ke Dinkes ingin berkonsultasi terkait vaksinasi Covid-19 dan rapid yang banyak dikeluhkan karena tidak tersedia di Puskesmas. Namun sayang, tidak dapat bertemu pejabatnya dengan alasan yang dinilai kurang pas untuk meninggalkan tempat, menghadiri kegiatan diving di Lolaro.

“Untuk Dinas Kesehatan jangan terlalu jauhlah dari Parigi ini, jangan lari-lari, kita datang ke sana tidak ada orang sama sekali, Kadisnya saja tidak ada, yang ada hanya sepri. Sepri bukan pemegang kebijakan, kita mau tanyakan apa yang menjadi masalah sekarang ini,” ujar Arif saat rapat dengar pendapat bersama DPRD, Rabu (28/7).

Menanggapi keluhan masyarakat itu, Ketua DPRD sayutin, yang menjadi pimpinan rapat mengatakan, tidak adanya pejabat pengambil kebijakan yang tetap ‘stay’ di kantor berpotensi akan menimbulkan masalah saat ada keadaan darurat.

“Posisi kantor Dinas Kesehatan sekarang tidak ada satupun kegiatan struktural yang berada ditempat,  dengan situasi seperti ini, berada di kegiatan diving di Tinombo, di Lolaro posisi ini sekarang kalau terjadi emergency akan jadi masalah juga,” tegas Ketua DPRD.

Sementara itu, Ketua Komisi IV, Fery Budi Utomo menambahkan dengan kurangnya pejabat di kantor Dinas Kesehatan akan menjadi catatan DPRD.

“Dengan kurangnya pejabat yang berada di Dinas Kesehatan itu akan menjadi salah satu catatan kami, saya juga merasa kalau hal ini hanya dibahas  di komisi IV historinya akan putus,” tandas Fery.  

Idul Adha 1442 H, Warga Parigi Moutong Dibolehkan Sholat Ied Dimasjid?

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Wilayah Kabupaten Parigi Moutong masuk pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro. Sehingga, Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia wilayah Kabupaten Parigi Moutong, perbolehkan warga melakukan pelaksanaan sholat Idul Adha di Masjid.

Mengacu pada surat edaran Kementrian Agama nomor 15 tahun 2021. Yang menjelaskan tentang, pelaksanaan sholat idul adha, malam takbiran dan saat  penyembelihan hewan kurban.

Pemerintah Daerah Parigi Moutong dalam hal ini mempunyai aturan dalam surat edaran bupati, yang mencantumkan wilayah Parigi Moutong masuk pada PPKM Mikro. Hal ini menjadi sinyal memperbolehkan masyarakat untuk melaksankan sholat Ied di masjid. Surat Edaran itu dikeluarkan pada Jum’at, 16 Juli 2021.

H Mapiasse Selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kemenag Parigi Moutong mengatakan, Surat edaran tersebut sudah ditujukan pada setiap pihak kecamatan agar sekiranya menghimbau kepada ketua masjid setempat pada daerahnya, untuk tetap memperketat protokol kesehatan saat pelaksaan sholat.

Menurutnya, untuk tetap mendapatkan nilai ibadah. Maka diperlukan sinergi dengan pihak-pihak tertentu terutama pemerintah, untuk tetap bersama-sama dalam mengajak setiap masyarakat memperketat protokol kesehatan.

“Itu juga mejadi tanggung jawab kita semua khususnya umat islam untuk menjaga itu, agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 lebih massif,” ujarnya kepada redaksi kabarSAURUS, saat dihubungi via gawai, Senin (19/07).

Tidak hanya itu, salah satu sunnah dalam pelaksanaan sholat Idul Adha yakni khotbah. Adanya khutbah menjadi momen penanda bahwa sholat tersebut penting dan istimewa.

Terkait pelaksanaan khotbah, pihak Kemenag sudah menyiapkan khutbah singkat untuk menjaga tidak terjadinya kerumunan yang lama sehingga tetap mematuhi protokol kesatan.

“Kita sudah menyiapkan khotbah yang sangat singkat agar tidak menimbulkan kerumunan lama dan ketentuan agama atau nilai syiarnya tetap ada,” terangnya.

Penyembelihan Hewan Kurban di Parigi Moutong Saat Idul Adha, Harus Tetap Mematuhi Protokol Kesehatan

Merujuk pada Surat Edaran Kementrian Agama Penyembelihan hewan kurban berlangsung dalam waktu tiga hari, tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan kurban.

Selanjutnya, Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging kurban kepada masyarakat yang berhak menerima. wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.

Kemudian, Kegiatan pemotongan hewan kurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan kurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban.

Dan Pendistribusian daging kurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di tempat tinggal masing-masing dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain.

“Berkurbanya sebagai perintah agama tetapi protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan. Sehingga, kita mendapatkan pahal dari berkurban dan mendapat manfaat saat mematuhi protokol kesehatan” tuturnya

Ia berharap, pada seluruh umat islam pada Wilayah Kabupaten Parigi Moutong ikut bersama-sama menjaga diri untuk tidak menciptakan kerumunan  dan tetap melaksanakan ibadah sebagaimana semestinya, sebagai bentuk ketaatan kepada agamanya.

“Saya mewakili Kepala Kantor Kemenag Parigi Moutong berharap silahkan merayakan hari idul adha, dan ikut bersama menjaga diri dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” tutupnya

Kaluku Nagaya, Ubah Batok Kelapa di Parigi Moutong Jadi ‘Cuan’

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Pemanfaatan batok kelapa menjadi ‘cuan’, merupakan salah satu kegiatan dilakukan oleh kelompok pengrajin bonsai kelapa di Kabupaten Parigi Moutong bernama Kaluku Nagaya.    

Tanaman kelapa yang memiliki ragam manfaat, mulai dari daging buah, daun kelapa, air. Bahkan, batoknya bisa termanfaatkan jadi salah satu kreasi kerajinan tangan yang mendatangkan pundi-pundi masa pandemi.

Di kabupaten Parigi Moutong, kerajinan ini dapat dilihat pada aktivitas salah kelompok masyarakat pengrajin bonsai kelapa di Parigi Moutong bernama Kaluku Nagaya.

Kelompok Kaluku Nagaya ini, merupakan salah satu kelompok pengrajin bonsai di yang beranggotakan sejumlah warga Desa Boyantongo, Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong.

Kelompok ini, mulanya berawal dari aktivitas perorangan dari masing-masing warga desa tersebut. Kemudian, bersepakat untuk membentuk salah satu kelompok pengrajin bonsai dari batok kelapa di Kabupaten Parigi Moutong, dengan nama Kaluku Nagaya.          

“Ini adalah kegiatan aktivitas perorangan, kemudian berkembang menjadi satu kelompok yang diberi nama Kaluku Nagaya,” ungkap ketua pengrajin bonsai, Izam, saat redaksi kabarSAURUS menyambanginya, Selasa (13/07).

Setelah kelompok Kaluku Nagaya  ini terbentuk, kata Izam,  pihaknya kemudian melaporkan ke Pemerintah Desa (Pemdes) Boyantongo.

Lanjutnya, sejak pelaporan itu dan hingga kini, Kaluku Nagaya diakui menjadi salah satu organisasi kreatif di Desa Boyantongo Kabupaten Parigi Moutong.

“Kini diakui sebagai salah satu komunitas atau organisasi kreatif di Desa Boyantongo, yang bisa menunjang dan mengembangkan usaha ekonomi produktif yang ada di desa ini,” ujarnya.

Ia menuturkan, hasil karya yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat Parigi Moutong. Bahkan, tidak jarang pula, kedatangan peminat bonsai kelapa dari luar Parigi Moutong, menjadi pencapai terbaik Kaluku Nagaya.

Kaluku Nagaya, Turut Terlibat Pembentukan Organisasi Bonsi Kelapa Parigi Moutong (BKPM)

Lanjut ia, pihaknya juga telah membentuk satu organisasi yang bernama Bonsai Kelapa Parigi Moutong (BKPM). Anggotanya terdiri dari penggiat, penyimak hingga penilai.

“60 persen penggiat, 30 persen penyimak dan 10 persen bisa dikatakan sebagai penilai. Jadi dalam BKPM ini semua strata ekonomi tergabung, mulai dari petaninya, pegawainya dan juga wirausaha,” tuturnya.

Baca Juga Berita Terkait Lainnya : https://kabarsaurusonline.com/2021/03/05/selecta-flora-surganya-para-pencinta-bunga-di-parigi-moutong/

Ia menyebutkan, tanaman bonsai kelapa ini terdiri dari berbagai macam jenis  dan karakter, dengan harga jual yang berbeda-beda.

Terdapat Empat jenis kelapa, yaitu gading lulu, genja, gading biasa dan juga kelapa yang istilahnya kelapa sayur. Berdasarkan karakternya ada enam macam, yaitu cabang dua, tunas dua, bentuk original, albino, batok melayang dan juga akar garang.

“Biasanya orang bertanya kenapa bonsai kelapa mahal, itu karena orang-orang tidak tahu bagaimana keistimewaan dari cara mengkerdilkan ini hingga batoknya,” bebernya.

Lanjutnya, berdasarkan harga penjualan dari bonsai kelapa yaitu dikategorikan dengan batok terkecil adalah harga yang termahal. Untuk harga penjualan tertinggi bonsai kelapa itu berkisar sampai dengan Rp4 juta lebih, dan harga terendah hanya berkisar Rp100 ribu.

“Dari setiap jenis itu harganya berbeda-beda, jadi yang membedakan itu adalah jenisnya, karakteristiknya juga yang membedakan,” ungkapnya.

Ia menerangkan, dari hasil penjualan bonsai kelapa sudah sangat membantu ekonomi pengrajin. Bahkan kata ia, sudah ada yang bisa memperbaiki tempat tinggalnya hingga membeli kendaraan.

Ia menambahkan, meski sudah cukup terkenal hingga saat ini pihaknya belum mendapat bantuan usaha berupa suntikan dana dari pemerintah.

“Sejauh ini untuk sentuhan langsung dari pemerintah yang berupa bantuan atau sejenisnya itu belum ada. Tetapi kalau sekedar datang dan mengucapkan janji, sudah ada beberapa instansi. Bahkan ada dari legislatif Kabupaten Parigi Moutong maupun Provinsi Sulawesi Tengah yang datang memantau dan masih mengucapkan janji,” pungkasnya.

Parigi Moutong Terapkan PPKM Berbasis Mikro

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama jajaran TNI, Polri Parigi Moutong, lakukan operasi yustisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro.

Hal tersebut menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Bupati Nomor 443.1/1825/BPBD tentang upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Parigi Moutong. Terkait itu, BPBD Parigi Moutong mulai mensosialisasikan ke masyarakat terkait PPKM berbasis mikro.

“Kegiatan ini kita laksanakan operasi yustisi, tapi penekanannya pada sosialisasi terkait dengan PPKM. Karena ini menindaklanjuti edaran Bupati Parigi Moutong,” ujar Made, saat lakukan sosialisasi di Pos Horison Kelurahan Masigi, Kamis (15/07).

Ia mengatakan, kegiatan sosialisasi tentang PPKM Mikro di Kabupaten Parigi Moutong tersebut melibatkan unsur terkait. Seperti TNI, Polri, Satpol PP dan juga Dinas Perhubungan (Dishub) Parigi Moutong.

“Ini melibatkan unsur BPBD, TNI Polri, Satpol PP dan Dinas Perhubungan. Semua ini beranggotakan 25 orang yang terbagi dalam dua tim,” kata Made.

Ia menerangkan, kebijakan PPKM di Parigi Moutong mulai berlaku tanggal 15 Juli 2021 sampai pada waktu penyebaran Covid-19 dinilai sudah menurun.

“Kebetulan surat edaran Bupati tentang PPKM itu baru ditanda tangan kemarin (14 Juli). Pelaksanaan kebijakan ini akan kita teruskan sampai penyebaran virus di Kabupaten Parigi Moutong sudah terkendali,” terangnya.

Ia menyebutkan, untuk kegiatan sosialisasi tentang PPKM ini sudah disosialisasikan secara masif diberbagai tempat.

“Kita pindah-pindah, tadi pagi(15 juli-red) pukul 08.00-10.00 tim satu di depan Kantor Bupati, tim dua di Pasar Sentral. Kemudian sore kita lakukan mulai dari pukul 15.00 hingga 17.00 tim satu di depan Horison dan tim dua di bundaran mercury,” sebutnya.

Setelah Satgas Covid-19 Kabupaten Parigi Moutong Lakukan Sosialisasi PPKM Mikro. Sanksi Mulai Diberlakukan

Ia menambahkan, terkait dengan adanya kebijakan PPKM Mikro, untuk masyarakat yang melintas khususnya warga Parigi Moutong yang ditemukan tidak mengenakan masker maka akan diberikan sanksi.

“Tetapi sanksinya masih berupa sanksi ringan, seperti membaca Pancasila, menyayikan lagu wajib Garuda Pancasila ataupun Indonesia Raya. Karena hari ini sampai minggu depan masih sosialisasi. Akan tetapi setelah minggu depan kita sudah harus akan menerapkan sanksi administrasi kepada pelanggar yang tidak menggunakan masker. Itu sebagaimana yang diamanatkan surat edaran bupati Nomor 19 Tahun 2020,” tandas Made pada kabarSAURUS.

Baca Juga berita Terkait lainnya : https://kabarsaurusonline.com/2021/07/14/pasien-covid-dalam-perawatan-parigi-moutong-meningkat-signifikan/

Desa Binangga, Kabupaten Parigi Moutong Prioritaskan Sektor Pertanian

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Mengacu pada penetapan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDES) Pemerintah Desa (Pemdes) Binangga, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, Pemdes Binangga prioritaskan program pertanian.

Hal itu disampaikan Amar Ma’ruf yang baru saja dilantik menjadi Kepala Desa Binangga beberapa waktu lalu.

“Melihat potensi desa yang dominan masyarakatnya bekerja sebagai petani dan Binangga merupakan salah satu desa yang berada dekat dengan wilayah pegunungan, pemerintah Desa Binangga bakal mengadakan bibit untuk masyarakat,” kata Ma’ruf.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan program pemberdayaan masyarakat. Mengingat pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan yang membuat masyarakat berinisiatif untuk memulai kegiatan sosial dalam memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.

Amar Ma’ruf mengatakan pihaknya akan mengadakan bibit buah mangga. Pengadaan bibit tersebut menyasar hampir seluruh masyarakat Desa Binangga yang berjumlah sekitar 300 KK.

“Sebenarnya ini untuk sekitar 10 kelompok tani Desa Binangga yang baru saja kami kukuhkan, tetapi saya tidak melihat dari kelompoknya lagi. Saya ingin bagikan ke masing-masing rumah. Jadi, kalau misalnya dia tanam ke lahan kebunya juga bisa,” jelasnya kepada media kabarSAURUS, saat menyambangi kediamannya, Rabu (14/07).

Ia menyebutkan, tidak hanya pengadaan bibit pohon mangga, Pemdes Binangga juga akan mengadakan bibit komoditas lain yang bernilai ekonomis dan tidak membutuhkan waktu yang lama proses budidayanya.

Seperti lanjut ia, ubi jalar, cabai merah, dan lain sebagainya yang masyarakat sudah dapat memperoleh hasil panen dari tanaman tersebut dalam beberapa bulan saja.

Namun, program ini belum dapat dilaksanakan, sebab saat ini waktu untuk menggarap lahan sebagai lokasi penanaman dinilai sudah terlambat.

“Sebenarnya ini sudah lambat. Mestinya ini persiapan penggarapan lahan sudah berjalan di bulan 5, karena kita mau mengejar musim jualnya di antara Desember sampai Januari, karena targetnya itu selama enam bulan,” jelasnya.

Adakan Bibit Mangga, Pemerintah Desa Binangga, Anggarkan 70 Ruta Rupiah

Ia menambahkan, pengadaan bibit buah mangga tersebut teranggarkan sebesar Rp.70.000.000 dari anggaran yang bersumber dari Dana Desa (DD).

Harapanya, program ini dapat dinikmati oleh masyarakat Desa Binangga. “Walaupun Cuma sedikit mudah-mudahan bisa masyarakat nikmati,” tutupnya.

Dekranasda Sediakan Oleh-Oleh Khas Parigi Moutong

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Selain menjadi tempat penampungan kerajinan hasil karya pelaku Usaha Mikro Kecil (UKM). Jika ingin mencari oleh-oleh khas di Kabupaten Parigi Moutong, anda cukup ke gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Sejak diresmikan pada Kamis, (8/2/18). Sampai saat ini, Dekranasda masih eksis dengan produk kerajinan dan makanan yang diproduksi oleh masyarakat Parigi Moutong. Menerapkan sistem titip jual, masyarakat pelaku UKM bisa langsung memasarkan produk usahanya.

“Jadi untuk penjualan produk UKM ini sebenarnya kita menerima titip jual, tapi karena masa pandemi ini para pelaku usaha masih terkendala modal untuk mengolah produk. Jadi, sekarang kita coba memberikan panjar untuk UKM yang membutuhkan pembelian bahan-bahan produknya,” demikian penyampaian Seksi Promosi Dekranasda, Hadriani, saat awak media menyambanginya, Sabtu, (10/07).

Produk-produk yang dipasarkan mulai dari kerajinan anyaman berbahan dasar lidi seperti tudung saji, piring lidi, dan baki. Selain itu, ada juga sendok yang terbuat dari kayu hitam, tas, suvenir dan masih banyak lagi.

Tidak sampai di situ, Dekranasda juga menyediakan olahan makanan yang terbuat dari tanaman yang terkenal sebagai salah satu sayur khas di Parigi Moutong, yakni kelor, seperti keripik kelor, pia kelor, dan teh kelor.

“Kemudian makanan lain ada abon ikan, bawang goreng, emping jagung, keripik pisang, minyak VCO, minyak kelapa, dan kue baruasa. Pokoknya produk-produk yang ada di Kabupaten Parigi Moutong” jelas Hadriani.

Ia menyebutkan, produk makanan seperti keripik dijual mulai dari Rp10.000, sedangkan untuk kerajinan tangan seperti tas bisa mencapai Rp.200.000.

Menurutnya, Dekranasda menjadi satu-satunya tempat favorit bagi pengunjung dari luar untuk berburu oleh-oleh khas Kabupaten Parigi Moutong.

“Apalagi kalau ada acara besar daerah seperti ulang tahun kabupaten, atau hari pangan nasional dan lain sebagainya. Para tamu akan mencari oleh-oleh di Dekranasda, karena kita satu-satunya yang menjual oleh-oleh khas Parigi Moutong,” tuturnya.

Dampak Pandemi Covid-19, Juga Dirasakan Dekranasda Parigi Moutong

Namun, dampak dari pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh Dekranasda. Seperti pelaku usaha yang sulit keuanganya untuk membeli bahan-bahan produknya, dan pengunjung yang berkurang. Menyiasati hal itu, saat ini pihaknya menerapkan sistem penjualan online menggunakan aplikasi Facebook dan Instagram.

“Penjualan online belum maksimal, karena kita belum kerja sama dengan Shopee dan Buka Lapak. Ini rencana mau membuat kegiatannya, nanti akan ada inkubator bisnis sehingga dari situ kita bisa belajar untuk memasarkan produk secara online,” tandasnya.

Untuk diketahui, Dekranasda adalah organisasi nirlaba yang menghimpun pencinta dan peminat seni untuk memayungi dan mengembangkan produk kerajinan dan mengembangkan usaha tersebut, serta berupaya meningkatkan kehidupan pelaku bisnisnya, yang sebagian merupakan kelompok usaha kecil dan menengah.

Pasien Covid Dalam Perawatan Parigi Moutong, Meningkat Signifikan

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Sejak Sabtu, 10 Juli 2021, hingga Selasa, 13 Juli 2021. Jumlah kumulatif pasien Covid dalam perawatan di Kabupaten Parigi Moutong, meningkat signifikan.    

Disinyalir posisi wilayah Kabupaten Parigi Moutong yang diapit oleh Dua daerah Zona Merah yaitu Kota palu dan Kabupaten Poso, salah satu faktornya.

Pasalnya, pintu perbatasan untuk masuk ke daerah dari arah Dua daerah zona merah tersebut, nampak sepi penjagaan Satgas Covid-19 Kabupaten Parigi Moutong.

Padahal, berdasarkan hasil Refocusing APBD Parigi Moutong tahun 2021 untuk penanganan Covid-19, mencapai sekitar 56 Miliar Rupiah.

Berdasarkan rilis update data Pusdatina Provinsi Sulawesi Tengah yang berhasil media ini himpun.

Peningkatan signifikan jumlah kumulatif pasien covid-19 di Kabupaten Parigi Moutong dalam perawatan terpampang amat jelas.   

Pada Sabtu, 10 Juli 2021. Jumlah kumulatif pasien Covid-19 Kabupaten Parigi Moutong dalam perawatan sebanyak 84 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 pasien, dalam perawatan pihak RSUD Anuntaloko Parigi, Tiga pasien dalam perawatan RSUD Madani. Serta, 48 lainnya melakukan karantina mandiri.

Masih dari sumber Pusdatina Sulawesi Tengah. Peningkatan jumlah kumulatif pasien Covid-19 untuk Kabupaten Parigi Moutong, meningkat pada Senin, 12 Juli 2021, menjadi 93 pasien.

Peningkatan itu, terjadi pada pasien karantina mandiri yang totalnya mencapai 67 orang. Sedangkan jumlah pasien dalam perawatan pada RSUD Anuntaloko dan RSUD Madani masih tetap sama.

Kemudian, laporan update Covid-19 Pusdatina Sulawesi Tengah pada Selasa, 13 Juli 2021. Jumlah kumulatif pasien Covid-19 dalam perawatan untuk Kabupaten Parigi Moutong, mencapai 110 pasien.

Peningkatan terjadi pada pasien yang berstatus keterangan perawatan karantina mandiri mencapai 81 orang. Selain itu, pasien dalam perawatan RSUD Anuntaloko Parigi, menjadi 26 pasien. Sementara, untuk pasien pada RSUD Madani masih tetap Tiga Pasien.

Upaya Tekan Jumlah Pasien Covid Parigi Moutong Dalam Perawatan Tambah Meningkat, BPBD Terbitkan Rekomendasi Memeprioritaskan tiga hal

Menyikapi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong telah melakukan sejumlah upaya pengantisipasian lonjakan kasus tersebut.

“Kebetulan kemarin sudah selesai rapat. Jadi, dalam antisipasi lonjakan kasus ini ada rekomendasi yang kami keluarkan, dan nantinya akan kami buat untuk dijadikan edaran,” ujar Sekretaris BPBD, Rivai, kepada redaksi kabarSAURUS, Selasa (13/07).

Ia menyebutkan, terdapat beberapa hal yang menjadi prioritas dalam rekomendasi yang saat ini menunggu tanda tangan Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu.

“Jadi, ada beberapa hal yang telah kita prioritaskan. yang pertama untuk proses belajar mengajar itu tidak diperbolehkan, yang kedua untuk kawasan perkantoran akan diterapkan Working From Home (WFH) atau dikenal dengan bekerja dari rumah. Kemudian, akan dilakukan penjagaan pembatasan, terutama yang dari luar sulawesi,” sebutnya.

Selain itu juga kata Ia, untuk jam operasional cafe-cafe yang ada , hanya akan diperbolehkan buka hingga maksimal jam sepuluh malam.

Ia menuturkan, untuk penjagaan akan terlaksana di perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Molosipat. Karena penjagaan perbatasan itu merupakan instruksi dari Gubernur.

“Jika ada yang masuk dari luar sulawesi akan diwajibkan PCR atau rapid antigen negatif 1×24 jam,” tuturnya.

Mengingat Kabupaten Parigi Moutong yang saat ini masih dalam status zona orange, jadi belum ada instruksi dari gubernur untuk dilakukakannya aktivitas penjagaan perbatasan antar Kabupaten.

“Sejak hari Kamis kita sudah zona orange. Untuk sementara pos penjagaan di perbatasan antar Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong itu belum ada, karena konstruksi dari gubernur itu perbatasan provinsi saja dulu,” bebernya.

Ia menerangkan, pihaknya juga belum melakukan upaya penjagaan antar kabupaten, karena masih akan melihat peta sebaran zona. Dan sementara ini, pihaknya telah mengajukan permintaan data per kecamatan ke Dinkes.

“BPBD belum ada upaya melakukan  penjagaan di perbatasan antar kabupaten. Karena kami juga masih melihat peta sebaran zona. Sementara ini, kami mintakan data kecamatan juga ke Dinkes,” tandasnya.

Exit mobile version
%%footer%%