‘Terendus Aroma’ Korupsi Tagihan Listrik Daerah, di PLN Parimo

Oleh : Bashar Badja (Sumber Gemasulawesi.com/jejaring SMSI)

Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.COMRp 12 milyar pertahun ? ini angka fantastis buat tagihan listrik daerah lampu penerangan jalan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Sulawesi Tengah.

Herannya lagi, kok angka milyaran rupiah itu harus membayar lampu penerangan jalan termasuk yang dalam keadaan mati. Bahkan, bukan hanya ditahun ini saja dibayarkan, namun sudah berlangsung sejak berdirinya Kabupaten Parimo.

Ironisnya lagi, sebagaimana dikutib dari gemasulawesi.com daerah itu dibilang masih memiliki hutang sebesar Rp 6 milyar.

Dikonfirmasi terkait persoalan itu, Sekretaris daerah Kabupaten Parimo, H. Ardi Kadir membenarkan. Ardi mengatakan pihak PLN sudah pernah diminta memangkas 50 persen lampu penerangan jalan. Kemudian meminta agar bola lampu yang menggunakan LED 40 watt diganti dengan bola lampu yang setara yakni jenis biasa 100 watt.

“Itu dalam rangka untuk efisiensi anggaran tagihan listrik daerah . Pihak PLN juga terkadang melakukan penambahan lampu penerangan jalan tanpa berkoordinasi dengan pihak Pemda,” terangnya.

Minimalisir Tagihan Listrik Daerah, Pemda Pertimbangkan Solar Cell

Ardi menuturkan, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) sudah diperintahkan untuk berkoordinasi, meninjau dan mengevaluasi lampu-lampu jalan itu. Sebab kata dia, tidak semua kondisi lampu jalan dalam keadaan hidup, sementara pembiayaan masih sebanyak angka itu.

Menurut dia, beberapa waktu lalu pihak PLN Sub Rayon Parigi pernah dimintanya menghitung jika setiap lampu jalan menggunakan meteran prabayar sendiri, dengan demikian akan dilakukan perbandingan berapa anggaran yang dibutuhkan. Hal itu dilakukan agar lebih mudah mengukur besaran anggaran dan tidak lagi menimbulkan kendala. Sehingga, tidak lagi menggunakan asumsi pihak PLN, melainkan kejelasan yang berdasarkan hitungan meteran.

“Nanti kita lihat saja bagaimana solusi antara pihak Bapenda dengan PLN. Sekarang ini saya juga masih mempelajari dasar hitungannya seperti apa? menurut pihak PLN itu berdasarkan per mata lampu. contohnya, lampu 150 watt yang digunakan maka pihak PLN mengambil dasar itu tinggal dikalikan jumlahnya saja,” sebutnya.

Anehnya, pihak PLN tetap menghitungnya walaupun lampu jalan dalam kondisi mati. Hal itu menurut Ardi perlu dikaji dan dievaluasi kembali.

“Kami juga sedang mempertimbangkan untuk memanfaatkan solar cell saja kedepannya untuk mengatasi persoalan lampu penerangan jalan di Parimo,” tuturnya.

11 Tim Pecinta Alam Target ‘Harumkan Nama Daerah’

Oleh : Bashar Badja

Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.COM – Sedikitnya 11 Tim Pecinta Alam (PA) Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah akan berlaga pada ajang Lomba Lintas Alam Tingkat Nasional Malingka Pangngala Sawerigading Jilid III Akar Indonesia di Palopo Sulawesi Selatan.

Diajang Nasional tersebut, tim asal Parigi moutong, menargetkan minimal ada satu tim yang berhasil meraih juara demi mengharumkan nama daerah.

Ketua Forum Komunikasi Pencinta Alam Pantai Timur (FKPAPT) Kabupaten Parimo, Didit Trianto kepada media ini, Senin (2/01) mengatakan, hari ini tujuh tim dan ofisial Parimo akan berangkat menuju Palopo.

“Ada 11 tim pecinta alam yang berangkat mengikuti iven Nasional itu,” ungkapnya.

Disebutkannya, adapun tim-tim itu adalah LSA Gagantu Wild Indonesia Desa Pangi Kecamatan Parigi Utara, KPA Likunggavali Desa Uevolo Kecamatan Siniu, , KPG MPB Sulteng 1 dan KPG MPB Sulteng 2 dari Desa Sienjo Kecamatan Toribulu, KPA Tialo Adventur dari Desa Gio Kecamatan Taopa, KPA Pinus Sidoan.

“Maradika El Capitan Parigi, Srikandi El Capitan Parigi, Komunitas Gunung Laut Parimo, KPA Santana Parigi serta KPA Oi Rimba Raya Parigi berasal dari Kecamatan Parigi,” ungkapnya.

Dia menuturkan, sementara sudah ada empat tim lainnya sampai terlebihi dahulu di Palopo. Selaku pimpinan forum PA di Parimo, dirinya sangat berharap dukungan dan doa dari masyarakat Parimo semoga mereka dapat memboyong juara pada iven bergengsi tersebut.

“Doa kan kami semoga memberikan hasil terbaik bagi Kabupaten Parimo,” pintanya.

Diduga Cemburu, Pembunuhan Sadis Kembali Terjadi

Oleh : Bashar Badja (Sumber Humas Polres Parimo)

Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.com – Diduga karena cemburu, peristiwa pembunuhan sadis kembali terjadi di Desa Moutong Tegah Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (27/12).

Sebagaimana dirilis Humas Polres Parimo, pelaku pembunuhan sadis itu, berinisial SP alias Pamane warga Desa Moutong Tengah Kecamatan Moutong, usai melakukan aksi pembunuhan terhadap korban SJ alias Jate (42) warga Desa Lobu Kecamatan Moutong sempat melarikan diri.

Sedangkan, korban Jate yang mengalami luka bacok dibagian kepala, leher, sayatan dihidung, mulut dan jari sebelah kanan akhirnya meninggal dunia. Petugas keamanan saat itu mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) membawa korban ke Rumah Sakit Moutong untuk dilakukan visum.

Menurut keterangan kedua teman pelaku yang dijadikan saksi pembunuhan yakni berinisial AZ dan AS, pada proses kejadian berada di kediaman pelaku dengan tujuan mengantar makanan untuk SP.

Namun dalam penuturannya, SP sebelumnya sempat keluar rumah dengan menggunakan sepeda motor milik AZ, sekitar pukul 22.20 wita SP kembali kerumah dan langsung masuk kamar. Tidak lama kemudian korban Jate datang, pelaku yang melihat Jate berada di depan pintu masuk langsung keluar dan menebas korban sambil terdengar kalimat pelaku dengan bahasa daerah Tialo yang berartikan “Bagaimana kau bawa-bawa istriku” hingga meninggal dunia.

Kedua rekan SP langsung berlarian keluar rumah dengan melompot lewat jendela yang terdapat di ruang tamu. Melihat temannya berlarian keluar, SP mengatakan “jangan dulu lari”. Mendengar itu, AS menyampaikan kepada pelaku untuk melepaskan goloknya dan SP pun membuangnya di halaman SMPN 1 Moutong didepan rumah pelaku.

SP yang sempat melarikan diri ke Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, akhirnya diamankan petugas Kepolisian Resort Parimo.

“Kami mengerahkan satuan-satuan operasional untuk melakukan pencarian terhadap pelaku. Alhamdulillah pelaku ditemukan di Kabupaten Sigi,” ungkap AKBP Zulham Efendi Lubis, SIK Kapolres Parimo.

Warga Gorontalo Tutup Akses Menuju Sulawesi Tengah

Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.com – Puluhan warga Tolinggula Gorontalo memprotes batas wilayah antara Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Gorontalo.

Protes dilakukan dengan aksi tutup jalan Trans Sulawesi, Minggu (13/10/2019). Aksi itu dipicu soal penyelesaian tapal batas wilayah yang tak kunjung usai.

Warga memblokir jalan dengan bambu di area Jembatan Otabiu Desa Tolinggula Ulu dan Tolite Jaya. Warga menghalau kendaraan baik motor dan mobil, serta pejalan kaki dari Buol ke Gorontalo Utara dan sebaliknya.

Seorang warga setempat, Jakaria Hulimo, mengatakan mereka memblokir jalan sebagai protes soal tapal batas yang tak kunjung selesai.

“Warga tidak persoalan tapal batas berlarut-larut, karena mengancam stabilitas kehidupan di wilayah perbatasan ini,” ujar Jakaria, seperti yang dikutip dari Antara.

Pemblokiran tersebut merupakan sikap warga Gorontalo Utara di Kecamatan Tolinggula, yang menolak dimasukkan ke wilayah Buol, Sulawesi Tengah.

“Kami sebagai warga Gorontalo Utara, sudah menjalani kehidupan berpuluh-puluh tahun dengan sangat kondusif. Kami adalah warga Gorontalo Utara asli tidak ingin dipaksakan menjadi warga Buol,” ujar Jakaria.

Dalam pemblokiran jalan tersebut warga menyampaikan sejumlah tuntutan. Seperti menolak keras tapal batas wilayah bergeser karena akan mengancam keberadaan desa-desa yang ada di Kecamatan Tolinggula.

Seorang warga lainnya, Acon Abjul, mengungkapkan jika tapal batas bergeser, mereka khawatir dengan ancaman konflik horisontal.

“Pemerintah diharapkan mendengar tuntutan masyarakat dan tidak membuat keputusan yang memberi dampak merugikan bagi masyarakat Tolinggula,” ujarnya.

Naas, Tiga Butir Telur Berujung Maut Buruh Bangunan

Luwuk, KabarSAURUS.online.com – Naas, usai mengkonsumsi tiga butir telur, seorang buru bangunan di Luwuk Sulawesi Tengah ditemukan tidak bernyawa di kamar kos.

Kompleks Masjid Pasar Simpong Kelurahan Simpong Kecamatan Luwuk Kabupaten Luwuk Sulawesi Tengah, Sabtu (12/10/2019) dibuat geger.

Korban yang diketahui bernama Yatiman Djoni (55) warga Desa Biak Kecamatan Luwuk Utara yang diketahui bekerja sebagai buruh bangunan.

Buruh bangunan itu, pertama kalinya di temukan oleh rekan korban bernama Amin sekitar pukul 10.00 wita.

Dalam penuturan Armin seperti yang rilis Suarabaubau Online, pada saat itu dirinya berniat ingin membangunkan korban.

Namun, saat korban dibangunkan korban tidak bergerak dan setelah diperiksa ternyata korban sudah tidak bernyawa lagi.

Ngatiyem (75), pemilik kos, saat dimintai keterangannya mengungkapkan sekitar pukul 07.00 Wita korban masih mencuci pakaian disumur didekat kos tersebut.

Usai mencuci pakaian, lanjutnya, korban meminta pertolongan kepadanya untuk dibelikan tiga butir telur ayam kampung.

“Usai mencuci korban meminta tolong sama saya untuk membelikan tiga butir telur ayam kampung. Setelah saya belikan, semua telur itu langsung diminum semua oleh korban,” urainya.

Ngatiyem menambahkan, usai meminum telur ayam, korban minta dikeroki, dirinya tidak berani melakukannya karena saat menyentuh badan korban dingin. Kemudian korban pamit mau istirahat karena mau masuk kerja siang hari.

“Habis minum telur korban minta tolong untuk dikerok, tetapi saat megang badan korban ternyata badannya dingin, saya tidak berani ngerok. Kemudian korban pamit istirahat, karena tengah hari mau masuk kerja, jadi saya tinggalkan kamar korban dalam keadaan pintu terbuka,” tandasnya.

Berdasarkan hasil TKP tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Kos korban tidak dalam keadaan berantakan, dan tidak ditemukan adanya barang-barang yang diduga untuk melakukan tindak pidana.

Usai dilakukan visum di rumah sakit, korban diduga dalam keadaan sakit ini diantarkan kerumah duka Desa Biak, Kecamatan Luwuk Utara.

‘Menuai Polemik’ Dinas PMD Selesaikan Sengketa Pilkades

Parigi Moutong, KabarSAURUS.online.com – Pemilihan kepala desa (Pilkades) yang dilaksanakan secara serentak pada 29 Juni 2019 di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah menuai sejumlah polemik.

Hingga saat ini Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Parigi Moutong, telah menerima dan menyelesaikan sejumlah laporan sengketa Pilkades.

Hal itu diungkapkan Kepala dinas (Kadis) DPMD, Fit Dewana, kamis kemarin. Kata dia, dari enam laporan yang masuk, PMD telah berhasil melakukan klarifikasi kepada Panitia Pemilihan Kepala Desa (P2KD) di tiga desa.

Dari enam laporan tersebut , pihak pelapor mempersoalkan keputusan pihak P2KD dalam hal tahapan penetapan calon yang terkesan tidak transparan.

Padahal lanjut dia, saat memberikan sosialisasi, DPMD menekankan kepada seluruh P2KD untuk bersikap transparan dan tertib administratif dalam setiap tahapan yang dilaksanakan.

“Hal itu wajib, misalkan P2KD menyandingkan berkas bakal calon yang lolos dengan yang tidak untuk mendapat kejelasan jika ada yang keberatan,” ungkapnya.

Menurut Fit, bisa saja terdapat kelalaian yang dilakukan pihak P2KD dalam praktek dilapangan yang menimbulkan potensi laporan berlanjut ke ranah hukum. Meski demikian, proses tahapan pelaksanaan Pilkades tetap berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

“Yang dapat membatalkan penetapan P2KD hanyalah rapat plenonya dan pengadilan,” tandasnya.

Menurutnya, rentan waktu tahpan pelaksanaan Pilkades yang begitu singkat, membuat proses klarifikasi berkas bakal calon dianggap tidak terlaksana dengan baik. Melihat banyaknya yang mempersoalkan hal itu, DPMD juga telah mempersiapkan pembentukan tim penyelesaian sengketa Pilkades.

“Misalkan terhadap dugaan berkas calon yang ditetapkan, masih cacat administrasi. Hal ini yang menjadi tugas tim penyelesaian sengketa Pilkades untuk melakukan klarifikasi lanjut,” tutupnya.

DPMD Parigi Moutong Akan Evaluasi Pengelolaan Bumdes

Parigi Moutong, KabarSAURUSonline.com – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, mengevaluasi pengelolaan dana Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Sebab ditemukan masih banyak Bumdes yang belum dikelolah dengan maksimal. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas PMD, Vit Dewana kepada media ini saat ditemui diruang kerjanya belum lama ini.

Dia mengatakan, Bumdes menjadi faktor penentu pendapatan desa, sehingga ekonomi desa banyak bergantung pada baik tidaknya pengelolaan Bumdes.

Kata dia, masih banyak  pengelolah Bumdes tidak memiliki jiwa bisnis sehingga tidak matang dalam merencanakan usaha dari potensi sumber daya alam desa.

“Kalau Bumdes tidak bergerak, peningkatan ekonomi bisa stagnan tidak ada perkembangan yang signifikan. Bumdes ini seharusnya bisa jadi pasar bagi produk apapun di desa. Bumdes harus menjual potensi desa yang bernilai ekonomis, karena yang digemari saat ini adalah yang unik. Coba gali potensi desa yang bisa memberi keuntungan bagi desa itu sendiri,” jelasnya.

Padahal kata dia, pihaknya sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pemerintah desa dan kecamatan, diantaranya membahas pengelolaan Bumdes.

Fit : BUMDes Harus Kreatif Melihat Potensi Desa

Menurut Fit, Bumdes bisa lebih kreatif memilih usaha apa yang dapat dikembangkan dengan melihat potensi desa itu sendiri.

“Ini kan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Harus diingat, Bumdes menjadi faktor penentu baik tidaknya ekonomi di desa, jadi pengelolaanya harus benar,” tandasnya.

Menurut Vit, jika pengelolah Bumdes memiliki jiwa bisnis, dari segi perencanaan usaha hingga pengelolaan akan mampu menghasilkan keuntungan untuk menambah pendapatan asli desa (PADes).

“Bahkan ada Bumdes, dimodali dari dana desa tetapi ketika dievaluasi bukan hanya tidak untung bahkan modal ikut habis. Permendes nomor 4 tahun 2015 tentang Bumdes memang sudah diatur. Desa wajib memberikan penyertaan modal. Namun, didapati masih ada desa yang perecanaannya tidak matang menyebabkan usaha tidak jalan. Banyak meniru, tidak mampu membaca potensi yang berpeluang pasar,” keluhnya.

Untuk itu kata dia, Dinas PMD akan mengevalusi desa bersama Inspektorat diantaranya pengelolaan Bumdes.

Bahkan kata dia, jika berdasarkan evaluasi justru pengelolah yang tidak mampu menjalankan Bumdes, disarankan diganti dengan yang mampu menjalankan Bumdes. Dalam artian paham prinsip bisnis agar nyata hasil dari penyertaan modal dana desa.

“Kita lakukan evaluasi, kita kerjasama dengan Inspektorat. Jadi ikut diperiksa fisik yang dibelanjakan itu apa, kita akan evaluasi perkembangan dari pengelolaan dana desa itu,” tandasnya

Bagi pengurus Bumdes yang tidak maksimal dalam mengurus diganti dengan yang mau mengembangkan potensi desa.

Mending tidak ada penyertaan modal dulu jika tidak mampu kelolah Bumdes, agar tidak terkesan mubazir.

Exit mobile version
%%footer%%