Irfan Maraila : “Ongkos Produksi Pupuk Kompos, Tidak Mahal”

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Irfan Maraila, Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, mengaku, biaya produksi pupuk kompos tidak membutuhkan biaya yang besar

Hal itu ia sampaikan kepada Redaksi kabarSAURUSonline.com, saat menyambangi ruang kerjanya, Selasa (10/11). Irfan Maraila menuturkan, bahan baku pembuatan pupuk kompos, saat ini masih cukup terjangkau pada sejumlah wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

“Pupuk kompos inikan alami, bahan bakunya pun sangat mudah kita dapatkan karena pengumpumpulannya secara swadaya. Makanya, ongkos produksi pupuk kompos ini tidak mahal,” ujarnya.

Hanya saja kata Irfan Maraila, yang membutuhkan anggaran itu adalaah bahan pendukung dalam pembuatan pupuk kompos tersebut.

Ia mengungkapkan, sejumlah bahan pendukung itu seperti, gula bahan kimia EM4 untuk mempercepat pelapukan daun serta bahan bakar untuk mesin pencacah.

“Semua masih serba terjangkau, kita kan kerja setiap Selasa dan Jumat. Jadi, setiap sampah dedaunan yang terkumpul pada setiap OPD kami yang angkat dan langsung dibawa ke Rumah Kompos yang ada,” terangnya.

Begitu pun, lanjut irfan Maraila, dengan bahan-bahan lainnya selain dedauanan seperti pupuk kandang yang juga masih sangat mudah untuk memperolehnya.

Bahan kimia EM4 yang berguna untuk mempercepat pelapukan dedauanan pun penggunaannya tidak begitu banyak dalam setiap proses produksi. Saat ini bahan kimia EM4 itu masih tersedia di DLH Parigi Moutong.

“Kalau dulu, biar daun-daun atau sampah apa saja langsung ke TPA. Padahal, TPA sebenarnya hanya sebagai penampungan sumur sampah, seperti sampah residu. Tapi, saat ini hal itu tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Irfan Maraila Akui, Rumah Kompos Dapat Membantu Meningkatkan PAD Parigi Moutong

Ia menambahkan, saat ini tempat pengolahan pupuk kompos atau rumah kompos oleh DLH Parigi Moutong terletak di belakang kantor DLH.

Sedangkan, dari masyarakat berada di Desa Olaya dan Kelurahan Masigi.

Untuk lokasi di Kelurahan Masigi sambungnya, akhir-akhir ini belum dapat beroperasi, karena Pandemi Covid-19. “Memang belum signifikan prosesnya. Tapi, setidaknya kita sudah memulai,” tutupnya.

Untuk diketahui, saat ini hasil dari produksi pupuk kompos itu ternyata mampu membantu DLH Parigi Moutong dalam menanggulangi biaya operasional lingkup OPD tersebut.

Rumah Kompos, Jadi Sumber Pendapatan DLH Parigi Moutong

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Rumah Kompos menjadi sumber pendapatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, yang membayar gaji sejumlah tenaga honor lingkup Organisasi Perangakat Daerah (OPD) tersebut.

Rumah Kompos yang mulai tergarap saat membumingnya program KUKUSA sebagai upaya Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong meraih Piala Adipura, nampaknya bisa menjadi salah satu sumber pendapan daerah.

Pasalnya, meski sekitar setahun program ini digarap DLH Kabupaten Parigi Moutong, ternyata sudah mampu menjadi sumber pendapatan bagi OPD ini.

Meskipun belum menghasilkan Pundi-pundi Rupiah dalam jumlah yang besar, setidaknya kini sudah mampu menutupi beberapa biaya operasional pada DLH Parigi Moutong.          

Hal itu disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup, Irfan Maraila, kepada Redaksi kabarSAURUSonline.com saat menyambangi ruang kerjanya, Selasa (10/11).

Ia mengatakan, adanya Rumah Kompos dapat mengurangi pencemaran udara pada saat pembakaran sampah. Selain itu, keberadaannya juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi OPD yang ia pimpin saat ini.

“Kalau rumah kompos ini, sudah kita produksi. Itu rata rata penghasilannya paling kurang satu ton perbulan, malah kadang lebih,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ini penghasilan pupuk yang bersumber dari kegiatan tersebut, masih bergantung dari bahan baku dan aktivitas petugas yang mengelola.

Menurutnya, dalam kurun waktu dua minggu kedepan Rumah Kompos dapat kembali memproduksi pupuk, karena ketersediaan sampah yang menjadi bahan utama sudah terkumpul kembali.

“Hasil pada bulan sebelumnya, bisa kita pacu dua ton dalam waktu satu bulan. Kemasannya kami buat bervariasi, ada yang 20 kilogram dengan harga Rp 15.000. Sedangkan, kemasan 50 kilogram, berbandrol harga Rp 75.000,” terangnya.

Rumah Kompos Masih Dalam Tahapan Uji Coba, Diharapkan Bisa Jadi PAD  

Irfan mengungkapkan, hasil penjualan dari produksi pupuk tersebut telah meringankan beban anggaran DLH. Khususnya, dalam hal pembayaran gaji tenaga honorer.

Apalagi dalam masa pandemi Covid-19 saat ini katanya, beberapa tenaga honorer yang tidak dapat teranggarkan. Namun lanjut Irfan, penghasilan dari kegiatan produktif itu dapat sedikit mengatasi biaya operasional pada OPD tersebut.

“Minimal, sudah ada uang bensin. Kalau untuk ke daerah, kita belum ada. Karena, hal ini masih dalam tahapan uji coba,” jelasnya.

Ia menambahkan, produktivitas pupuk dari Rumah Kompos tersebut mendapat respon positif dari kalangan masyarakat.

Ratusan Juta ABT DPUPRP Parigi Moutong untuk Pemeliharaan Taman

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comRatusan Juta ABT milik DPUPRP Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2020, untuk kegiatan pemeliharaan dan pembenahan sejumlah taman yang tersebar di beberapa wilayah daerah ini.

Pantauan Redaksi kabarSAURUSonline.com sekitar dua pekan kemarin. Sejumlah taman yang saat ini dalam tanggungjawab Bidang Tata Ruang DPUPRP Parigi Moutong, nampak terkesan jauh dari kata terawat.

Tumbuhan rumput hijau mulai meninggi hampir seukuran betis orang dewasa pada sejumlah taman wilayah Ibukota Kabupaten. Pemandangan yang sama, juga terlihat pada Taman Tombolotutu wilayah Kecamatan Tinombo.

Beberapa bagian sisi taman yang terdapat Paving Blok serta coran yang menjadi lantai, juga mulai muncul rumput hijau. Kondisi tersebut seakan jadi berkat santapan segar bagi sejumlah hewan ternak yang berkeliaran pada sekitar lokasi taman.

Terkait hal itu, DPUPRP bakal memfokuskan Ratusan Juta Anggaran Belanja Tambahan (ABT) pada APBD-P tahun 2020 untuk kegiatan pemeliharaan serta pembenahan sejumlah taman yang ada.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Tata Ruang DPUPRP Parigi Moutong, I Wayan Sukadana, kepada Redaksi kabarSAURUSonline.com saat menyambangi ruang kerjanya, Senin (09/10).

“Kemarin karena anggaran lain teralihkan ke Covid-19, maka dana untuk pemeliharaan taman itu terpotong sampai bulan oktober 2020 ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, Bidang Tata Ruang mendapat kucuran ABT pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) tahun 2020 sebesar Rp 100 juta lebih.

Ratusan juta ABT itu kata I Wayan Sukadana, untuk pemeliharaan serta pembenahan seluruh taman yang menjadi tanggungjawab bidang yang ia pimpin.

Selain Pemeliharaan Taman, Ratusan Juta ABT yang Bersumber dari APBD-P tahun 2020 DPUPRP Parigi Moutong Untuk Bayar Gaji Tenaga Honor   

“Kami fokuskan untuk pemeliharaan taman-taman pada daerah ini. Selain itu, kami gunakan juga untuk menutupi gaji honorer yang sempat terpotong kemarin,” ungkapnya.

Pasalnya kata ia, sekitar Tiga bulan sebelumnya, terdapat pemotongan gaji tenaga honor yang anggarannya teralihkan untuk penanganan Covid-19.

Lanjut I Wayan Sukadana, saat ini pihaknya sementara melakukan kegiatan pemeliharaan, seperti perbaikan dan pembenahan.

“Jadi kita sementara perbaikan taman, kita lihat apa yang perlu pembenahan, namun penganggarannya tidak pada kegiatan fisik. Untuk taman yang kami tangani itu ada taman Kampal, Masigi, alun-alun Kantor Bupati, PMK, Maesa, Toraranga dan taman Tinombo,” terangnya.

Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/dak-dpuprp-parigi-moutong-tahun-2020-untuk-sembilan-pekerjaan/

Dua ‘Pejabat Teras’ Kabupaten Parigi Moutong Jadi Tergugat PMH

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com Dua pejabat teras Kabupaten Parigi Moutong yaitu PLT DKP dan Kepala Inspektorat, jadi tergugat dalam perkara perdata atas Perbuatan Melawan Hukum (PMH) di Pengadilan Negeri (PN) Parigi.

Melansir dari situs resmi SIPP PN Parigi. Tercatat, Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu, Cq Plt Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Parigi Moutong, Muhammad Nasir sebagai tergugat Satu. Selain itu, Kepala Inspektorat Parigi Moutong, Sakti Lasimpala, menjadi tergugat Dua dalam perkara yang terdaftar pada Kamis, 22 Oktober 2020.

Masih berdasarkan situs resmi PN Parigi, Dua pejabat teras Parigi Moutong tersebut menjadi tergugat dalam perkara perdata nomor perkara 55/Pdt.G/2020/PN Prg terkait PMH.

Penggugatnya, merupakan Anggota Legislatif dari partai PDI Perjuangan yang juga sebagai Wakil Ketua Dua DPRD Parigi Moutong, Sugeng Salilama, dengan Rahman, selaku kuasa hukumnya.

Pantauan Tim media ini pada Senin (9/11), Dua pejabat teras Parigi Moutong itu hadir dalam sidang kedua yang digelar PN Parigi.

Sidang tersebut dipimpin langsung Wakil Ketua PN Parigi, Dwi Sugiarto SH, selaku Hakim Ketua dalam perkara itu.

Sidang kedua itu beragendakan, penentuan hakim mediator antara penggugat dan tergugat sesuai dengan ketentuan hukum acara perdata.

“Sesuai dengan mekanisme beracara perdata, wajib hukumnya melakukan proses mediasi sebelum kelangkah persidangan. Semoga, para pihak dapat memanfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Dwi Sugiarto.

Sebelum menentukan hakim mediator, Dwi Sugiarto sempat mempertanyakan apakah para pihak sudah menyiapkan perwakilan mediator masing-masing. Namun, para pihak yang terlibat mengaku tidak memiliki perwakilannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada ketua majelis hakim terkait hal tersebut.

Iin Fatimah SH MH Sebagai Hakim Mediator antara Dua Pejabat Teras Parigi Moutong dengan Sugeng Salilama

“Kami menunjuk Iin Fatimah SH.MH, selaku mediator dalam perkara ini. Nanti setelah ketemu mediator, silahkan menyusun jadwal pertemuan terkait perkara ini. Para pihak boleh bertemu dengan mediator secara sepihak saja tanpa sepengetahuan pihak lain,” terangnya.       

Untuk proses mediasi ini kata Dwi Sugiarto, pihaknya memberikan waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal penetapan tahapan mediasi.

“Harapan kami mediasi ini berhasil. Tapi, jika hal itu tidak terjadi, berarti kita lanjut pada proses selanjutnya,” jelasnya.

Hasil penelusuran Redaksi kabarSAURUSonline.com, salah satu tuntutan dalam petitum penggugat pada perkara tersebut adalah, menghukum dan memerintahkan Tergugat I dan Tergugat II, secara tanggung renteng untuk membayar nilai kerugian Materil dan Inmateril Penggugat atas pemberian beban pembayaran PAD kepada penggugat sebesar Rp 666.350.000 dan sebesar Rp 100.000.000.000.

DAK DPUPRP Parigi Moutong Tahun 2020, Untuk Sembilan Pekerjaan

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comDana Alokasi Khusus (DAK) DPUPRP Parigi Moutong tahun 2020 dengan total Rp 28 Miliyar, untuk sembilan paket pekerjaan.

Sebanyak Rp 28 Milyar anggaran DAK DPUPRP itu, untuk Sembilan paket pekerjaan jalan yang pengelolaannya berada pada bidang Bina Marga.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. I Wayan Mudana, kepada Redaksi kabarSAURUSonline.com, diruang kerjanya belum lama ini.    

Ia menyebutkan, Rp 28 Miliyar DAK DPUPRP itu terkucurkan untuk pekerjaan jalan ruas Tolai – Balinggi, Balinggi – Sausu serta ruas Kasimbar – Goteng.

“Kemudian, ruas jalan Desa Silampayang, ruas Desa Silabia, ruas jalan Desa Ongka, serta ruas jalan Desa Taopa. Ada juga ruas Sinei – Pkmt dan ruas Mensung – Tinombala,” sebutnya.

Ia menuturkan, saat ini progress masing – masing pekerjaan jalan itu telah mencapai 60 sampai 75 persen.

Kata dia, pihaknya berupaya pada akhir November 2020, progres pada Sembilan paket pekerjaan jalan itu sudah mencapai 75 persen.  

“Karena anggaran bersumber dari DAK, DPUPRP harus menggenjot agar progresnya harus mencapai 75 persen akhir bulan ini. Saya harap tidak ada kendala, agar progres itu bisa kami capai,” ujarnya.

Selain DAK, DPUPRP Juga Punya Pekerjaan Reguler Untuk Jembatan Lemusa – Olobaru Senilai 4,5 Miliar Rupiah

Lanjut Mudana, masih ada paket jembatan yang menjadi salah satu pekerjaan reguler tahun 2020, yakni jembatan Olobaru – Lemusa.

Meski demikian tuturnya, untuk pekerjaan pada tahun ini DPUPRP baru mengerjakan substruktur dan pengadaan gelder.

“Progresnya sudah sekitar 50 persen, karena baru setengah geldernya yang dating. Mungkin, kalau geldernya telah datang semua, bisa saja progresnya mencapai 95 persen,” terangnya.

Ia menambahkan, dana yang terpakai untuk pembangunan jembatan itu bersumber dari hibah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah senilai Rp 4,5 Miliar.

“Tahun ini, jembatan itu belum bisa fungsional karena kalau untuk fungsional kita membutuhkan tambahan anggaran kurang lebih Rp 2 Miliar lagi. Pasalnya, pasca bencana kemarin salah satu agutmen yang ada pada jembatan itu rubuh,” tandasnya.

Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/jatah-apbd-perubahan-dpuprp-parigi-moutong-fokus-infrastruktur/

SMKN 1 Parigi Gelar Workshop Pendampingan SMK CoE Kompetensi Keahlian TKJ

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – SMK Negeri 1 Parigi sebagai sekolah center of excellence (CoE) atau pusat keunggulan kompetensi keahlian teknik komputer jaringan (TKJ), gandeng industri dan dunia kerja (IDUKA) susun dokumen pembelajaran. Terkait itu, digelar workshop pendampingan yang dihadiri pendamping nasional Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pengawas mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, IDUKA dari PT Telkom Indonesia di Parigi, Sabtu (7/11/2020).

SMK Negeri 1 Parigi menjadi satu-satunya sekolah di Parigi Moutong yang dipercayakan sebagai CoE kompetensi keahlian teknik komputer jaringan. Sedangkan untuk keseluruhan Sulawesi Tengah, hanya ada dua sekolah. Tujuan diselenggarakannya workshop, selain sosialisasi juga untuk penyusunan draf dokumen pembelajaran SMK CoE berbasis industri dan dunia kerja.

Workshop tersebut dibuka oleh Kepala SMK Negeri 1 Parigi Mirsan dan menghadirkan pemateri pendamping nasional, Wahyudin dari Direktorat SMK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pengawas Pembina Wate Irawan dan mewakili IDUKA, Amar dari PT Telkom Indonesia di Parigi Moutong.

Kepala SMK Negeri 1 Parigi Mirsan mengatakan, pihaknya merasa bangga dipercayakan menjadi sekolah pusat keunggulan kompetensi keahlian teknik komputer jaringan. Sehingga kata dia, kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik.

Lanjut dia, sebagai pusat keunggulan kompetensi keahlian teknik komputer jaringan, SMK Negeri 1 Parigi nantinya bisa jadi pusat pelatihan untuk sekolah lain di bidang TKJ. Itulah pentingnya ada dokumen pembelajaran sesuai dengan standar dunia kerja yang dihasilkan dari workshop tersebut.

Sementara itu, pendamping nasional Wahyudin dalam sambutannya mengatakan, pihaknya mengapresiasi upaya SMK Negeri 1 Parigi yang sudah menggandeng perusahaan skala nasional seperti PT Telkom. Sebab kemitraan tersebut membawa keuntungan bagi siswa lulusan dari SMK Negeri 1 Parigi.

“ Sertifikat dari perusahaan skala nasional akan diperhitungkan di dunia kerja,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, Pengawas Pembina Wate Irawan mengatakan, dalam pengembangan kurikulum selain memperhatikan aspek pencapaian ilmu pengetahuan penting juga memasukan nilai-nilai karakter.

“Seperti integritas atau nilai-nilai yang menunjang kepribadian yang baik. Hal itu dibutuhkan didunia kerja,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, pihak SMK Negeri 1 Parigi dan IDUKA dari PT Telkom menandatangani perjanjian kerjasama dan disaksikan semua peserta workshop yang diantaranya, Ketua Komite Haerudin Masri, para kepala program keahlian SMK Negeri 1 Parigi, guru dan staf.

 “Kami sudah ada penyerapan tenaga kerja siswa SMK yang diterima dibagian teknisi. Untuk soft skill dari SMK akan dibina kembali, mempelajari penyambungan optik di lapangan,” kata Amar perwakilan PT Telkom, dalam sambutan singkatnya.

Adaptasi Masa Pandemi, Sunarti : Guru Jangan ‘Gaptek’

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com – Sejak pandemi virus corona metode pembelajaran mengalami perubahan. Awalnya semua proses pendidikan berlangsung dengan cara tatap muka (luring).

Tetapi, sejak adanya virus yang mematikan ini, hampir semua sekolah melakukan adaptasi. Ada yang melakukan proses secara daring (Online), ada yang membagi siswa dalam kelompok kecil dengan metode tatap muka. Namun, proses belajarnya dari rumah bukan di sekolah.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling terdampak dengan adanya virus corona ini. Tidak mungkin siswa harus diliburkan selamanya, itu sama saja menghilangkan hak mendapatkan pendidikan.

Itulah mengapa pandemi ini  ‘memaksa’ semua guru belajar, agar melek ilmu teknologi. Sehingga bisa beradaptasi dan melanjutkan proses belajar mengajar.

Bagaimana tidak, pembelajaran daring menggunakan perangkat elektronik dengan dukungan jaringan internet yang membutuhkan keahlian untuk mengoperasikannya. Itulah mengapa guru jangan gagap teknologi (Gaptek).

Agar Guru Tidak ‘Gaptek’ Disdikbud Parigi Moutong Bentuk Tim

Agar pembelajaran tetap berlangsung meski pandemi belum berakhir, guru tidak boleh ‘Gaptek’. Menyikapi itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, membentuk tim Guru Peduli Pendidikan.

Tim itu, tugasnya mensosialisasikan dan melatih guru-guru lainnya dalam proses belajar mengajar menggunakan metode daring di 23 Kecamatan se Kabupaten Parigi Moutong.


Demikian yang penyampaian Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan  (GTK) Sunarti, kepada kabarSAURUSonline.com di ruang kerjanya, Senin (02/11). Ia mengatakan, Guru Peduli Pendidikan melatih guru lainnya melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PPJ) dengan memahami pemanfaatan aplikasi Google Class Room.

Pelaksanaan Bimtek melalui komunitas guru di kecamatan. Selanjutnya, guru yang telah mengikuti Bimtek tersebut akan melatih guru-guru lainnya di wilayah masing-masing.

Menurut Sunarti, berdasarkan evaluasi sementara, guru-guru yang sudah mendapat pelatihan mengakui penerapan metode pembelajaran daring sangat bagus, efisien dan menarik.

“Kemungkinan tidak hanya dalam masa pandemi, kegiatan belajar daring ini akan terus berlangsung. Sebagaimana kegiatan belajar ini sudah para guru-guru mendengungkan untuk menghadapi 4.0 (era digital),” ungkapnya.

Ia berharap, setiap sekolah sudah harus memperhatikan fasilitas pendukung pembelajaran daring. Bersamaan dengan pemenuhan fasilitas itu, guru-guru harus siap melatih diri beradaptasi dengan kemajuan zaman, sehingga lambat laun tidak melulu menggunakan metode pembelajaran konvensional.

“Kami berharap para guru terlebih dahulu menguasai ilmu. Tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti jaringan internet itu bukan menjadi sebuah kendala. Soalnya, fasilitas android sudah menjadi program pemerintah pusat, sehingga guru-guru sudah harus menguasai ilmunya,” tandasnya.

Exit mobile version
%%footer%%