Sejumlah Titik Poyek BPPW Sulteng Bernilai Miliaran Amburadul?

oleh -95 Dilihat
Sejumlah Titik Proyek BPPW Sulteng Bernilai Puluhan Miliar, Amburadul?
Sebuah kondisi pengerjaan Bangunan Insfastruktur sarana sekolah milik BPPW Sulteng pada salah satu titik proyeknya

Palu, KabarSAURUSonline.com – Proyek pembangunan infrastruktur sarana sekolah bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2021-2022 melalui Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Sulteng, disinyalir kuat dikerjakan secara amburadul.

Pengerjaan proyek dengan total anggarannya mencapai Rp.72 Miliar lebih ini, telah berjalan sekitar lima bulan. Namun, berdasarkan kondisi lapangan pada sejumlah titik pekerjaan sekolah tersebut seakan lelet. Selain itu, kualitas pekerjaan diduga kuat tidak sesuai spesifikasi teknis seperti diisyaratkan dalam kontrak.

Proyek yang didanai nominal sebesar Rp 72 Miliar lebih dari APBN tersebut, untuk pembangunan infrastruktur sarana sekolah dengan total sebanyak 31 titik berbeda yang tersebar pada Empat Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah.

Adalah PT. Karya Bangun Mandiri Persada dengan PT Karya Putra Mandiri Adisarana selaku KSO.

Masing – masing sekolah mendapat kucuran dana untuk pembangunan serta rehabilitasi sarana dan prasarananya dengan tingkat kerusakan yang bervariatif.

Sayangnya Kondisi pelaksanaan dilapangan terkesan serampangan, bahkan minim pengawasan.

Seperti pada sekolah Satu Atap (Satap) 7 Sigi, yang terletak di Dusun Tompu, Desa Ngatabaru, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi. Pondasi sekolah yang dibangun dengan metode penggunaan FootPlat atau cakar ayam nampak masih ditemukan memakai material seadanya untuk susunan batu pondasi. Parahnya, beton sisa bongkaran gedung sebelumnya, dipakai menjadi material batu pondasi.

Demikian pula dengan penempatan posisi bangunan sekolah, lokasi yang dipakai sebagai lokasi pembangunan sekolah baru berada dibekas tanah perbukitan yang telah diratakan. Kondisi itu berpotensi terhadap pergeseran tanah saat curah hujan tinggi.

Kontraktor pelaksana seakan berburu waktu bobot volume kerja dengan mengabaikan spesifikasi teknis. Kedalaman pasangan batu pondasi yang kedalamannya bervariatif, bahkan diantara pasangan cakar ayam pun, lolos dari pengawasan konsultan dan pengawas internal BPPW Sulteng.

Kemudian, pada pasangan dinding sekat ruangan menggunakan material Batako yang kualitasnya diragukan. Pasalnya, kontraktor hanya mengandalkan kemampuan tukang lokal dalam memproduksi batako.

PPK, Kontraktor dan Konsultan Pengawas Pada Proyek BPPW Sulteng Ini, ‘Bersandiwara’?

Pengerjaan Pondasi Yang Menggunakan Material Dari Sisa Bangunan Sebelumnya

Dilapangan juga ditemukan adanya retakan panjang dipasangan batu pondasi di sisi barat gedung sekolah SDN Tompu.

Retakan tersebut terjadi pada struktur badan pondasi sekolah, panjangnya mecapai 5 Meter lebih. Struktur batu pondasi yang mengalami retakan sudah tampak menggantung ditanah yang dipadatkan tersebut.

“Batako kami cetak sendiri pak. Satu sak, bisa jadi 90 buah batako,” ungkap salah seorang tukang batu yang ditemui dilokasi pembangunan, Sabtu (21/05/2022).

Sedangkan, untuk penggunaan beton sisa bongkaran bangunan sebelumnya sebagai material batu pondasi, para pekerja dilokasi mengakui bahwa material tersebut sebagai alternatif, karena minimnya material yang disiapkan Kontraktor.

“Batu pondasi jenis batu kali susah disini, kontraktor hanya pakai batu yang diambil dari gununng disekitar saat buka jalan kemari. Sedangkan semen, kami irit pakainya,” lanjutnya.

Ditemui dikantornya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, olahraga & pasar II Wilayah Sulawesi Tengah, Rachman Dg.Tinri, bersikeras pihaknya telah mengawasi ketat pelaksanaan proyek tersebut.

“Untuk beton bekas yang dijadikan batu pondasi sudah kami suruh bongkar,” kelitnya.

Sementara itu, Hotman selaku kontraktor pelaksana mengatakan, pihaknya tidak pernah menyuruh para pekerja memakai material yang tidak sesuai spek. Hotman bahkan terkesan berdalih jika kekeliruan terjadi karenanya. Sehingga, ia menganggap tindakan tersebut murni kesalahan para pekerja.

“Tukang punya kerjaan itu, kami tidak pernah memerintahkan pakai batu pondasi dari tembok bekas,” terangnya.

Kemudian, Syamsir dari pihak PT. Ciriajasa Enggineering Consultan, selaku konsultan pengawasan pada proyek BPPW Sulteng tersebut, beralasan pihaknya sangat sedikit personil dalam melakukan tugas pengawasan.

“Saya baru sembuh operasi, nanti temuan itu kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Kuat dugaan, dalam melakukan pemasangan batu Pondasi, pekerja mengabaikan pekerjaan dasar berupa penggunaan lantai kerja dengan mempergunakan pasir urug. 

Bahkan kedalaman galian pondasi pada beberapa sudut, jelas tampak “bermain” ukuran yang disyaratkan dalam kontrak., 

TIM

BACA JUGA : https://kabarsaurusonline.com/2021/03/04/ferdinan-kana-lo-jabatan-itu-amanah-dan-kepercayaan-pimpinan/

KUNJUNGI JUGA : https://t.v.kabarsaurusonline.com/2022/05/16/pasca-gempa-2018-sd-inpres-binangga-belum-dapatkan-gedung-sekolah-baru/