Pembangunan Bundaran Tugu Khatulistiwa Parigi Moutong Mulai di Bahas

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.comPembangunan jalan bundaran tugu Khatulistiwa di Desa Khatulistiwa Kecamatan Tinombo Selatan, mulai dibahas pemda Parigi Moutong.

Upaya pembangunan daerah wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong, terus dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda), melalui DPUPRP. Kali ini, kondisi jalan yang ada di Desa Tada Timur dan Desa Khatulistiwa Kecamatan Tinombo Selatan, yang potensi kecelakaannya cukup tinggi, Jadi lirikan Pemda Parigi Moutong.

Selain itu, pembangunan jalan bundaran pada dua wilayah tersebut, dianggap dapat mendorong peningkatkan kepariwisataan yang ada pada dua wilayah tersebut itu.   

Bertempat di Pantai Mosing, melalui Video Confrence. Pelaksana tugas harian DPUPRP Parigi Moutong, Rivai, mendampingi Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu. Membahasan hal tersebut dengan pimpinan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu, Sulawesi Tengah, Muhammad Syukur.

Melansir dari situs resmi Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPR) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Rivai mengatakan, selain pembangunan jalan bundaran tugu khatulistiwa, Bupati juga memaparkan rencana pembangunan jalan tugu bundaran untuk Desa Tada Timur.

“Dalam rapat ini pak bupati memaparkan rencana pembangunan bundaran tugu di desa khatulistiwa dan desa tada timur. Kedua wilayah tersebut merupakan ruas jalan yang merupakan kewenangan BPJN XIV Palu,” ujarnya, Rabu (29/7).

Menurut Rivai, pihak BPJN XIV Palu sangat mendukung rencana pembangunan kedua tugu tersebut. Pasalnya, kondisi kedua jalan wilayah itu, saat ini sangat rawan terjadi kecelakaan.

“Kepala BPJN XIV palu, pada  prinsipnya mendukung pembangunan ini. Tentunya, kegiatan ini harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” terangnya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Sony Candra. Serta Kepala Balai Perhubungan, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tengah dan kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Parigi Moutong.

Pasca Demo Bupati, Sinyal Aspirasi ‘Teriris Konspirasi’ Mencuat

Parigi Moutong Lagu berjudul ‘Kemesraan’ yang dinyanyikan ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Sayuin Budianto. Terkesan memberi sinyal aspirasi ‘teriris konspirasi’, bebarapa saat pasca aksi demonsreasi menuntut Samsurizal Tombolotutu mundur dari jabatan Bupati Parigi Moutong digelat.

Sepintas, lagu yang dinyanyikan Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong. Pada salah satu warung kopi di Kota Parigi, merupakan sebuah hal yang normal dan sah-sah saja.

Namun, hal ini menimbulkan ‘efek’. Ketika Sayutin Budianto yang sedang menyanyikan lagu itu, berada dalam rangkulan hangat Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu.

Spekulasi terkait ‘indikasi upaya konspirasi untuk menjaga konstalasi’ disinyalir terbangun disela kondisi ‘mesra’ itu. Sehingga, aspirasi warga bakal ‘ternodai’

Pasalnya, kemesraan antara kedua pemimpin lembaga daerah ini, nampak kembali terbangun dan tersorot kamera, pasca sejumlah gejolak terkait tugas dan fungsi Samsurizal Tombolotutu selaku Bupati dipersoalkan.    

Padahal, Sayutin Budianto beberapa kali terkesan memperlihatkan sikap geramnya atas tindakan Bupati Parigi Moutong.

Seperti aksi walk-out Sayutin Budianto dari salah satu agenda sidang paripurna yang dipimpinnya beberapa waktu lalu.

Kepada awak media, Sayutin Budianto mengaku marwah DPRD seakan dicoreng Pemerintah Daerah (Pemda).

Bupati dan Wakilnya dianggap telah memandang remeh DPRD dalam sidang paripurna dengan agenda yang menurutnya sangat penting dalam pembangunan daerah.    

Selain itu, dibeberapa kesempatan Sayutin Budianto sering memberikan satetmen kekesalannya, terhadap tindakan Bupati Parigi Moutong saat ini.

Saat daerah diminta fokus menangani pandemi Covid-19 misalnya. Sayutin Budianto, seakan menilai Bupati Parigi Moutong tidak peduli terhadap warganya saat itu dengan tetap ‘bersemedi’ di Pantai Mosing.

Diketahui, Pantai Mosing yang terletak di Desa Sinei Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong.

Mulai ramainya Pantai Mosing diperbincangkan, pasca indikasi pembukaan lahan serta pembangunan fasilitas didalammnya menggunakan APBD mencuat.

Sementara, berdasarkan pengakuan Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu  seperti yang diterbitkan media online. Lahan di pantai mosing merupakan milik pribadi Samsurizal Tombolotutu.

Sinyal Aspirasi ‘Teriris Konspirasi‘ Tersirat Dalam Bazar Amal

Sayutin Budianto yang saat menyanyikan lagu ‘Kemesraan’ berada dalam rangkulan ‘mesra’ Samsurizal Tombolotutu. Menguatkan dugaan aspirasi yang ‘teriris konspirasi‘.

Diketahui, lagu berjudul ‘Kemesraan’ itu, dilantunkan Sayutin Budianto dalam kegiatan Bazar amal dan malam donasi yang digelar Sabtu pekan kemarin (25/7 red).

Kegiatan itu terkesan menjadi fasilitas untuk mempertemukan kedua pimpinan lembaga di Kabupaten Parigi, yang belakangan ini seakan memperlihakan ‘perang urat saraf’ kepada publik Parigi Motong.

Pertemuan yang terkesan ‘mesra’ diantara keduanya, hanya beberapa hari rselang DPRD Parigi Moutong menyatakan sikap mengambil Hak Interpelasi terhadap jabatan Bupati yang melekat pada Samsurizal Tombolotutu.

Palu sidang memutuskan hak interpelasi itu, di ketuk langsung Sayutin Budianto selaku pimpinan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di ruang sidang paripurna DPRD Parigi Moutong.

Diketahui, RDP yang digelar secara tiba-tiba itu menyusul desakan ratusan warga mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Peduli Pemberhentian Bupati (Ampibi) Parigi Moutong berdemonstrasi.

Sinyal aspirasi masyarakat yang berpotensi ‘teriris kosnpirasi’, Kuatkan Anggapan Sejumlah Kalangan

Anggapan aspirasi masyarakat berpotensi ‘teriris kosnpirasi‘, menguatkan opini sejumlah kalangan yang tidak menyaksikan langsung pertemuan dua pimpinan lembaga daerah ini dalam kegiatan tersebut.

Sebelumnya, saat aksi demonstrasi di gedung DPRD Parigi Moutong, Massa aksi meminta agar seluruh anggota legislatif mendengarkan dan melaksanakan aspirasi mereka yang ingin Samsurizal Tombolotutu dituntut mundur dari jabatannya.

Mereka menilai, Samsurizal Tombolotutu telah lalai dalam menjalan tugas dan fungsi atas jabatan sebagai Bupati yang saat ini dilekatkan padanya.

Sebagai Bupati, Samsurizal Tombolotutu dianggaap telah melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang, melanggar sumpah janji jabatan serta melanggar norma etika.

Puluhan perwakilan massa aksi saat itu berhasil masuk bertemu dengan 40 anggota DPRD untuk mendengar aspirasi masyarakat melalui RDP.

Perwakilan massa aksi itu menuntut DPRD menggunakan hak angketnya sebagai lembaga yang memiliki tugas dan fungsi melakukan pengawas Pemerintah Daerah (Pemda).

Sayangnya, puluhan warga tersebut tidak mampu berbuat banyak, saat Sayutin Budianto yang memimpin RDP tersebut, mengambil keputusan DPRD akan menggunakan hak interpelasi.

“Kami menyikapi aspirasi rakyat hari ini. Maka sesuai mekanisme yang ada, hak interpelasi kami ambil. Ini mekanismenya, kita laksanakan dulu hak interpelasi, baru hak angket,” terang Sayutin Budianto.

Puluhan warga yang hadir diruang sidang paripurna DPRD Parigi Moutong itu, tidak dapat berbuat banyak dan menerima keputusan DPRD.  

Sementara, sembari menanti sikap DPRD dalam RDP tesrsebut. Ratusan warga diluar gedung wakil rakyat, masih mendesak agar DPRD segera mengeluarkan hak angket.

Massa kemudian bubar setelah ditemui kembali Sayutin Budianto dan sepakat menunggu hasil putusan atas hak interpelasi yang disampaikan setelah 14 hari setelah pertemuan tersebut.

BKPAPM: Empati Warga Parigi Moutong Tidak Pudar

Parigi MoutongKolaborasi antara BKPAPM dan Satuan Karya Pramuka (Saka) Wira Kartika jadi saksi rasa empati warga Parigi Moutong tidak pudar.

Hal itu disampaikan salah seorang pencetus Badan Koordinasi Pecinta Alam Parigi Moutong (BKPAPM), Idrus, kepada KabarSAURUSonline.com, via gawai (gadget versi https://lektur.id/) belum lama ini.

Dia menuturkan, BKPAPM dan Saka Wira Kartika menyaksikan dan merasakan sendiri, antusias warga Parigi Moutong, terhadap aksi sosial untuk membantu korban bencana di Kabupaten Luwu Utara. 

“Alhamdulillah, meski sempat jadi daerah yang juga merasakan bencana banjir. Hal itu ternyata tidak serta merta menurunkan rasa empati warga Parigi Moutong terhadap korban bencana di Kabupaten Luwu Utara,” ujarnya.

Dia mengatakan, aksi penggalangan dana tersebut dimulai sejak Selasa (21/7) dan berakhir pada Jumat (24/7).

Kata dia, kegiatan penggalangan dana ini memfokuskan pada lima lokasi berbeda di wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

”Jadi ada yang focus di Pertamina wilayah Kelurahan Kampal, Lampu Merah Kelurahan Kampal, Lampu Merah depan UTD Rumah Sakit Anuntaloko, di Desa Tolai ada juga. Selain itu, ada juga yang trun langsung dor to dor, kerumah dan kios milik warga wilayah ibukota Kabupaten.” terangnya.

Alhasil, kegiatan sosial tersebut berhasil mengumpulkan uang tunai sebesar Rp 12 juta. dan telah dibelanja sejumlah bantuan logistik, yang akan diserahkan ke posko bencana Pemda Luwu Utara.  

Dia mengungkapkan, BKPAPM bersama dengan Saka Wira Kartika Kabupaten Parigi Moutong, nantinya bakal melibatkan diri dalam kegiatan pembersihan dirumah warga.

“Jadi bukan hanya antar bantuan, tapi juga mengantarkan tenaga jika diizinkan dari pihak BPBD disana. Karena kami tentunya harus satu Komando dengan BPBD. Rencananya, kami akan stay selama tiga hari disana,” tandasnya.

“Terima kasih atas kepercayaan masyarakat Parigi Moutong dan para pengguna jalan yang sempat melintas diwilayah Parigi. Karena, sudah mempercayaai kami sebagai perpanjangan tangan kalian untuk menyentuh korban bencana di Luwu Utara,” tutupnya.

Baca Juga: https://kabarsaurusonline.com/gelondongan-kayu-sungai-boyantongo/kabar-daerah-konten-berita-dan-peristiwa-kedaerahan/parigi-moutong/

Deucker Ambruk Bikin Jalan Mengangah, Perbaikannya Secara Swadaya

Parigi MoutongPerbaikan badan jalan yang mengangah akibat plat deucker ambruk pasca bencana 28 September 2018 di Desa Kayuboko, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, dilakukan secara swadaya.

Gempa Bumi yang terjadi 28 September 2018 silam, diketahui tidak hanya membuat kerusakan ribuan rumah warga diwilayah Kabupaten Parigi Moutong. Sejumlah infrastruktur diwilayah ini pun turut terkena imbasnya.

Sampai saat ini, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascca bencana. Seakan memberikan sinyal jika Pemda Parigi Moutong terkesan masih tutup mata terhadap perbaikan infrastruktur yang nota bene sangat dibutuhkan oleh masyarakat pedesan.

Bosan menanti tindakan Pemda Parigi Moutong, membuat masyarakat Desa Kayuboko secara swadaya memperbaiki badan jalan yang mengangah di desa tersebut.

Pasalnya, jalan tersebut merupakan akses utama tranportasi warga untuk keluar –masuk atau sekedar melintas di Desa Kayuboko.   

Mengangah nya badan jalan itu, disebut-sebut akibat Plat Deucker yang berada dibawahnya lebih dulu ambruk beberapa saat pasca diguncang gempa berkekuatan sekitar 7,4 SR.

Hal itu disampaikan Ketua BPD Desa Kayuboko, Herry Susanto Pinari kepada KabarSAURUSonline.com, disela kesibukannya yang terlibat dalam perbaikan Plat Deucker dan badan jalan yang mengangah itu.

Dia mengaku, pengerjaan infrastruktur yang sebenarnya menjadi tanggungjawab Pemda melalui APBD itu dilaksanakan sejak Jumat (25/7) Pagi. Dengan sejumlah warga desa, BPD serta Pemdes Desa Kayuboko.  

Sebelumnya kata dia, Pemdes Kayuboko telah beberapa kali melaporkan kepada OPD terkait tentang kondisi badan jalan diatas Plat Deucker yang ambruk tersebut.

Pasalnya lanjut dia, beberapa warga Desa Kayuboko nyaris jadi korban tunggal laka tunggal akibat permukaan badan jalan yang sudah tidak rata (Pasca bencana 28 September).

Meskipun Plat Deucker Ambruk Lebih Dulu, Badan Jalan Mengangah Baru Sekitar Dua Bulan Terakhir

Diterangkannya, kondisi badan jalan diatas plat deucker yang lebih dulu ambruk itu, semakin memperihatinkan karena sering dilalui kendaraan.

“Puncaknya, sekitar dua bulan terakhir ini. Bukan hanya tidak rata lagi, tapi badan jalan tersebut sudah mengangah dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua saja,” ujarnya.

Kondisi ini tutur dia, membuat warga pemilik kendaraan roda empat, terpaksa harus memutar. melewati jalan alternatife.

“Selain ke OPD terkait, kita juga sudah beberapa kali mengeluhkan ini kepada Anleg dalam rerses. Entahlah, apakah Pemda yang sengaja tutup mata dengan hal ini. Atau, porsi anggaran APBD yang memang kurang. Sehingga lebih mempertimbangkan kegiatan yang menjadi skala prioritas untuk penanganan Covid-19 ini,” terangnya.

Diketahui, terdapat anggaran hibah rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tahun tahun 2019, untuk infrastruktur sebesar Rp 8 Miliyar lebih, yang dijadikan Silpa APBD Tahun tersebut.

Pantauan media ini dilokasi pengerjaan plat deucker ambruk tersebut, satu buah alat berat didatangkan untuk mempercepat proses pengerjaan. Selain itu, terdapat 8 buah gorong-gorong ukuran L40 dan dua batang pipa berukuran 10 medium A.

Ditanya terkait sumber anggaran pengerjaan badan jalan diatas Plat Deucker tersebut, Herry Susanto Pinari mengungkapkan, segala hal terkait kegiatan tersebut bersumber dari hasil swadaya masyarakat Kayuboko.

“Alhamdulillah, warga kami paham dengan kondisi APBDes kita di tahun ini, yang sebagaian besarnya dialokasikan untuk penanganan bencana Covid-19. Kalaupun ada APBDes, toh tidak bisa dialokasikan untuk pengerjaan jalan ini. karena ini gawean Pemd. Jadi saya tegaskan, kegiatan ini, bukan bersumber dari APBDes,” tandasnya.     

Baca Juga : https://kabarsaurusonline.com/2020/07/24/dpc-pkb-parigi-moutong-rayakan-harla-bersama-santri/         

DPC PKB Parigi Moutong Rayakan Harla Bersama Santri

Parigi Moutong- Rayakan hari kelahiran (Harla) partainya yang ke 22 tahun. Sejumlah anggota DPC PKB Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar syukuran bersama puluhan anak santri dari yayasan Pondok Pesantren K.H Soleh Damar.

Bertempat di kantor sekretariat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Parigi Moutong, yang terletak di Kelurahan Loji, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. Syukurang yang dilangsungkan Kamis malam (24/7), berlangsung khidmat

Pantauan KabarSAURUSonline.com, meskipun perayaan (Harla) partai yang saat ini dipimpin oleh Muhaimin Iskandar (Cak Imin Sapaan akrabnya), hanya berlangsung secara sederhana bahkan jauh dari kata megah.

Namun, lantunan ayat suci alqur’an dari puluhan anak yatim piatu yang hadir saat itu, serta doa yang dipanjatkan, menjadi kehidmatan tersendiri bagi para kader.

Menariknya, dinahkodai Haris Julianto sebagai Ketua DPC PKB Kabupaten Parigi Moutong, ikatan kekeluargaan yang kuat dari masing-masing kader tergambar jelas, jelang pemotongan kue ulang tahun bertulis Harla ke 22.

Pasalnya, sebelum diberi kesempatan untuk memotong kue tersebut, Haris Julianto meminta agar seluruh kader mendekat kepadanya.

“Mari sini, saudara. Ini bukan hanya perayaan hari kelahiran Partai. Tapi ini juga hari kelarihan kita bersama dari rahim PKB,” tutur Haris sembari mengajak rekan-rekannya.

Tidak sampai disitu, Haris kemudian menyerahkan potongan – potongan kue tersebut kesejumlah anggota DPC PKB Parigi Moutong. Sambil memberi doa dan dukungannya kepada sejumlah kader yang saat ini menjadi Anggota Legislatif (Anleg) DPRD Parigi Moutong.

“Semoga sadaraku selalu dalam lindungan Allah. Sehingga kita bisa sama – masa berjuang untuk membangun serta menjaga amanah rakyat yang mengantar kita kegedung DPRD Kabupaten Parigi Moutong,” ucap Haris Julianto menyerakan potongan kue terakhir kepada H. Wardi, yang saat ini mendapat kesempatan sebagai wakil rakyat.

Perayaan Harla tersebut ditutup dengan foto bersama dan penyerahan santunan kepada puluhan anak-anak santri dari yayasan pondok pesantren K.H Soleh Damar.

Dinahkodai Haris Julianto, Sekretariat DPC PKB Parigi Moutong Bakal Jadi Rumah Aspirasi Rakyat

Ditemui usai perayaan Harla partainya. Haris Julianto mengatakan, di usianya yang ke 22, para kader PKB diseluruh Indonesia diminta agar lebih bisa bermanfaat lagi bagi masyarakat.

“Tentunya hal ini dalam upaya masyarakat bangsa kita. Tentunya. bagi kami kader partai diwilayah Parigi Moutong. Harapan saya kesolidan kita yang terbangun saat ini. dapat memberi manfaat bagi masyarakat guna membangun daerah kita,” terangnya.

Selain itu dengan posisi sekarang ini. Alhamdulillah untuk kedua kalinya PKB Kabupaten Parigi Moutong mendapatkan porsi empat kursi di gedung DPRD Parigi Moutong.

“Tentunya saya berharap, saudara – saudara saya yang kini duduk dikursi wakil rakyat dapat amanah dan peka terhadap kondisi masyarakat saat ini,” katanya.

Untuk diketahui sejak tahun 2009 Partai PKB mendapat porsi dua kursi di gedung DPRD Parigi Moutong.

Kemudian, pada periode 2014-2019 mendapat empat kursi. Dan dapat mempertahankan empat kursi tersebut pada periode saat ini.

“Atas Instruksi Pimpinan Pusat, seluruh struktur DPC dapat lebih fokuskan perjuangan bagi masyarakat di sektor pertanian. Dan Insyaallah, dengan dipercayakan kepada saya menahkodai DPC PKB Parigi Moutong. Tempat ini (Sekretariat) DPC PKB Parigi moutong, dapat dijadikan tempat bersama, untuk masyarakat menyampaikan aspirasi   mereka. Sejenis rumah rakyat Insyaallah.   

‘Diamuk’ Massa, Pagar Rujab Bupati Parigi Moutong Nyaris Roboh

Parigi Moutong – Serbu Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Parigi Moutong, Pagar Rujab Bupati Parigi Moutong, jadi sasaran amuk Massa sebelum bergerak ke gedung DPRD Parigi Moutong.

Hal itu terpantau KabarSAURUSonline.com, saat Aliansi Masyarakat Peduli Pemberhentian Bupati Parigi Moutong (AMPIBI), menggelar demonstrasi menuntut Bupati Parigi Moutong, Samsuruzal Tombolotutu, mundur dari jabatannya.

Aksi demonstrasi yang digelar Rabu (22/7), membawa ratusan Massa yang notabene merupakan warga Kabupaten Parigi Moutong dari sejumlah kalangan.

Bergerak dari titik kumpul awal di Lapangan Sepakbola Permata Masigi, Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong sekitar pukul 10:00 Wita. Massa aksi kemudian melakukan Konvoi berkeliling wilayah Ibukota Kabupaten.

Dalam aksi konvoi tersebut, Massa aksi singgah di Rujab Bupati Parigi Moutong yang terletak di Kelurahan Loji, Kecamatan Parigi.

Megahnya Rujab Bupati Parigi Moutong, namun jarang melihat Bupatinya di Rujab tersebut, membuat massa aksi terkesan geram. Bahkan, sempat memancing emosi Massa aksi.

Pagar Rujab Bupati Parigi Moutong pun, jadi sasaran amukan massa aksi, sehingga nyaris roboh. Beruntung, Koordinator aksi masih dapat meredam emosi Massa yang dipimpinnya.

Kemudian, para Demonstran melanjutkan aksinya ke gedung DPRD Parigi Moutong. masa aksi yang terhalang aparat keamanan di depan gerbang gedung DPRD,  menyerukan agar Ketua DPRD keluar menemui mereka.

Menyahuti seruan demonstran, tiga unsur pimpinan yang sebelumnya sedang menggelar sidang Paripurna, akhirnya menunda sidang tersebut untuk bertemu dengan Demonstran.

Selain Pagar Rujab Bupati Parigi Moutong Sasaran Amuk Massa, Aksi Bakar Ban Terjadi di Halaman Gedung DPRD Parigi Moutong

Ratusan massa aksi yang mendapat kesempatan untuk masuk ke halaman gedung DPRD Parigi Moutong, melakukan aksi bakar-bakar Ban.

Aksi bakar-bakar Ban tersebut, seakan memberikan sinyal kemarahan warga Parigi Moutong yang meminta seluruh wakil rakyat di gedung DPRD, mendukung aksi mereka menuntut Samsurizal Tombolotutu mundur dari jabatannya.

Aksi Bakar Ban di Halaman Gedung DPRD Parigi Moutong. Sumber Foto : KabarSAURUSonline.com

Sementara itu, didalam ruang sidang DPRD Parigi Moutong, sejumlah perwakilan Massa aksi yang melakukan dengar pendapat dengan puluhan anggota legislatif yang hadir, memaparkan dasar hukum (versi AMPIBI) dan sejumlah bukti yang menyatakan Samsurizal Tombolotutu layak lepas jabatan sebagai Bupati Parigi Moutong.

Selain menyerahkan dokumen bukti dan dan dasar hukum mereka kepada ketua DPRD Parigi Moutong, Sayutin Budianto. Perwakilan Massa aksi juga menyerahkan sekitar dua pack obat cair penolak masuk angin.

“Obat ini, agar para anggola legislatif tidak masuk angin dalam menanggapi tuntutan kami,” seruan sejumlah perwakilan Massa aksi.    

Situasi diruang sidang Paripurna tersebut sempat memanas antara perwakilan massa aksi dengan sejumlah anggota legislatif.

Seakan, perwakilan Massa aksi merasa DPRD Parigi Moutong enggan bersikap tegas terhadap kondisi daerah dan tidak pro terhadap rakyat.

Sempat alot dalam mengambil keputusan terhadap tuntutan Massa aksi. DPRD Parigi Moutong akhirnya bersepakat untuk mengambil langkah Interpelasi terhadap Bupati Parigi Moutong.  

Baca Juga: https://kabarsaurusonline.com/2020/07/22/samsurizal-tombolotutu-diminta-mundur/

Laporan : CR1

Samsurizal Tombolotutu Diminta Mundur, DPRD Gunakan Interpelasi

Parigi Moutong – Walaupun awalnya sempat ragu-ragu. Tuntutan demonstran terhadap Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu, diminta mundur dari jabatannya, akhirnya mendapat dukungan DPRD.

Pantauan KabarSAURUSonline.com, Rabu (22/7), ratusan demonstran mengatasnamakan AMPIBI, menggelar demonstrasi menuntut DPRD bersepakat agar Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu diminta mundur dari jabatatannya.  

Di depan gedung DPRD Kabupaten Parigi Moutong, massa aksi yang coba masuk ke halaman gedung DPRD mendapat halangan dari aparat kepolisian yang bertugas, sehingga terjadi proses negosiasi.   

Dalam negosiasi dengan aparat keamanan, massa aksi meminta pimpinan DPRD, Sayutin Budianto menemui mereka. Walhasil, ketiga pimpinan lembaga wakil rakyat itu akhirnya menemui demonstran.

Negosiasi itu juga melahirkan kesepakatan agar DPRD memberikan ruang kepada perwakilan massa aksi untuk menyampaikan aspirasi diruang sidang DPRD Parigi Moutong.

Demonstran yang dipimpin oleh Rahman P. Ondo menyampaikan tuntutan, kalau DPRD segera menggunakan hak-hak lembaga untuk memberhentikan Samsurizal Tombolotutu.

“Kami tidak akan meninggalkan kantor ini, sebelum DPRD menyahuti permintaan masyarakat,” ujar Amran Soda salah satu utusan aksi.

Sayutin Budianto yang memimpin jalannya penyampaian aspirasi meminta fraksi-fraksi untuk memberikan tanggapan. Mulanya, dari tujuh fraksi yang ada, lima diantaranya meminta berkomunikasi terlebih dahulu.

Namun, fraksi Nasdem melalui anggotanya Fery Budiutomo menyatakan sikap untuk menggunakan hak interpelasi. Begitupun halnya dengan fraksi Bintang Indonesia melalui ketua fraksi Wawan Setiawan.

Belum mendapat respon secara keseluruhan dari fraksi yang ada, demonstran sekali lagi menyatakan akan menduduki lembaga itu.

Akhirnya, secara utuh lembaga rakyat menyatakan sikap dengan ketukan palu sidang dengan keputusan interpelasi, terhadapat tuntutan masa aksi, yang ingin adanya desakan terhadap Samsurizal Tombolotutu untuk mundur dari jabatannya.

Interpelasi akan dilakukan selama 14 hari kerja kedepan atau batas waktu 10 Agustus 2020.

Exit mobile version
%%footer%%