Budidaya Benur Vaname DKP Hasilkan PAD Rp10 Juta Per Bulan

Budidaya Benur Vaname DKP Hasilkan PAD Rp10 Juta Per Bulan
FOTO : pembibitan benur vaname (KS/Kiki)

Parigi Moutong, kabarSAURUSonline.com- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Parigi Moutong, menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari budidaya benur vaname.

Benur vaname tersebut, diperjualbelikan kepada para petambak lokal dan menghasilkan PAD rata-rata sebesar Rp10 juta per bulan.

Bacaan Lainnya

“Untuk PAD kalau kita hitung rata-rata perbulannya itu 10 juta ,” ujar  Kepala Satelit PT. Esaputli, Ahmad Suhail, kepada redaksikabarsauruson@gmail.com Rabu, (06/07).

Melihat potensi itu, pemerintah Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah mendorong komoditas udang vaname menjadi primadona di sektor budidaya perikanan. Oleh sebab itu, DKP memberikan fasilitas untuk melakukan pembudidayaan udang vaname melalui penggelondongan bibit.

Ahmad Suhail mengatakan, bibit udang tersebut diambil dari luar daerah sesuai dengan pesanan konsumen.

“Bibit udang ini diambil langsung dari tambak PT. Esaputli Prakarsa Utama yang ada di Barru Provinsi Sulawesi Selatan, sesuai dengan permintaan konsumen dengan harga Rp55 per- ekornya,” terangnya.

Ia mengatakan, jumlah permintaan konsumen beragam sehingga pemesanan disesuaikan dengan daya tampung.

“Kalau permintaan konsumen itu rata-rata sekali order 3-4 juta ekor, menyesuaikan dengan kapasitas kolam kita juga,” katanya.

Kemudian bibit-bibit itu akan diadaptasikan ke perairan Parigi Moutong melalui tempat penggelondongan tersebut.

“Bibit-bibit itu akan diadaptasikan di perairan sini melalui tempat ini, baru setelah itu dijual ke pembudidaya yang ada di Kabupaten Parigi Moutong,” tuturnya.

Ia menjelaskan, ada serangkaian proses yang perlu dilakukan untuk mengadaptasikan bibit udang vaname sehingga siap untuk diperjualbelikan kepada pembudidaya.

“Untuk proses awalnya kita ada tarik air dari laut yang langsung masuk ke tandon, lalu diolah dulu airnya dengan kaporit, kemudian untuk menetralkannya kembali kita kasih yang namanya tiop, setelah itu baru kita transfer langsung airnya untuk mengisi kolam yang akan di tempatkan bibit udang vaname,” bebernya.

Ia melanjutkan, proses tersebut memakan waktu dua hari dan paling lama empat hari, dengan waktu panen empat sampai lima kali per-bulan.

Ahmad Suhail menjelaskan, dalam sekali tebaran sebanyak 500 ribu ekor untuk satu kolam, dengan hasil panen sebanyak 450 ribu ekor atau lebih.

“Yang menjadi kendala kita itu adalah penyakit vibrio sehingga menyebabkan bibit udang itu tidak mau makan dan masa pemulihan yang sedikit lebih lama,” ungkapnya.

Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya akan menambah dosis kaporit dalam air dan proses pemeliharaan akan menggunakan probiotik yang lebih banyak dari sebelumnya.

“Pada umumnya, yang paling banyak permintaan bibit itu di wilayah selatan yaitu Dolago,” tutupnya.


Eksplorasi konten lain dari kabarSAURUSonline.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.