Sritini Haris Edukasi DPRD dan Korban Gempa Parigi Moutong

  • Whatsapp
Sritini Haris Edukasi DPRD dan Korban Gempa Parigi Moutong
Sritini Haris saat dimintai keterangan usai rapat bersama dengan anggota DPRD Parigi Moutong dan sejumlah penyintas gempa Parigi Moutong. Editing Foto : KabarSAURUSonline.com
Advertisements

Parigi Moutong – Soal ‘Gegap Gempita’ bantuan dana bencana 28 September 2018 di Sulawesi Tengah tak kunjung tuntas. Dari arah pesisir teluk Palu, hadir sosok Sritini Haris memberikan edukasi berharga bagi DPRD dan warga di Kabupaten Parigi Moutong.

Menoleh penanggulangan bantuan dampak bencana gempa bumi dan tsunami dibeberapa daerah di Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Parigi Moutong. Banyak menyimpan pertanyaan bagi setiap penerima manfaat bantuan.

Bacaan Lainnya

Pada akhirnya, setahun lalu tepatnya 2019 di Kabupaten Parigi Moutong, gerakan-gerakan masyarakat penerima bantuan mulai menyuarakan hak mereka. Bahkan saat itu, oleh DPRD setempat membentuk Panitia Khusus (Pansus) menelusuri kisru dana bantuan bencana tahap I kategori rusak berat.

Nilai bantuan kurang lebih Rp 21 milyar itu untuk kategori rusak berat sempat menjadi viral dipublik. Pasalnya, sistim bantuan non tunai banyak dikeluhkan warga dengan persoalan beragam. Mulai dari soal pencairan kerekening penerima, suplay bahan bangunan hingga material oleh pihak suplayer menjadi aduan ke DPRD.

Belum lagi, persoalan yang muncul terkait data layak dan tidak layak, kembali menjadi sorotan sejumlah kalangan. Kini season kedua, bantuan tahap II dengan Rp66 milyar kategori rusak sedang dan ringan, kembali terjadi permasalahan.

Menarik untuk disimak. Anggaran yang cukup besar itu hingga saat ini belum tuntas dipergunakan untuk kepentingan perumahan warga yang terdampak bencana. Belum lagi, masih ada sejumlah warga disejumlah desa mengeluh persoalan pendataan, hingga menggunakan tenaga pendamping hukum.

Lagi-lagi, bagi masyarakat yang belum tersentuh bantuan tersebut, terkesan disuguhkan  angin segar dari pihak terkait di Kabupaten Parigi Moutong. Hembusannya, bakal ditindak lanjuti ketahap berikutnya yang belum pasti keberadaannya.

Bahkan mereka mensinyalir adanya upaya mengaburkan Miliyaran anggaran bencana untuk PADAGIMO bersumber dari bantuan Negara luar yang sampai saat ini belum tuntas tersalurkan.

Sritini Haris Penyintas Gempa 28 September 2018 Kota Palu, Edukasi Penyintas Parigi Moutong

Menjawab gunda-gulana dana bantuan bencana di Kabupaten Parigi Moutong, Sritini Haris dari Sulteng Bergerak kepada KabarSAURUSonline.com menyuarakan foto satelit ala Geogle solusinya.

“Terpenting bagi kita, agar tidak menyalahkan siapa-siapa hadirkan saja foto satelit itu. Disitu sangat jelas dibuktikan jika rumah yang akan dibantu itu benar-benar ada,” ujarnya.

Sritini menerangkan, meski memiliki surat tanah, namun hingga saat ini dirinya belum mendapatkan bantuan. Bahkan, dia mengungkapkan jika saat ini dirinya bersama keluarga masih tinggal ditenda pengungsian.

Diyakinkannya kepada publik, Huntara Kelurahan Talise dekat Hutan Kota adalah saksi jika dirinya bersama keluarga masih  di tenda pengungsian.

Diketahui, Sritini adalah salah seorang ibu rumah tangga warga Jalan Komodo, Kelurahan Talise Kota Palu, yang sempat viral karena aksinya yang berani geruduk sendiri kantor BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk menyuarakan haknya sebagai penyintas bencan 28 September 2018 silam.

“Saya ini korban, karena waktu itu saya ditabrak runtuhan rumah yang dibawah hanyut gelombang tsunami,” bebernya.

Ketua DPRD Parigi Moutong, Sayutin Budianto yang memimpin rapat kunjungan dan aspirasi dari Aliansi Masyarakat Parigi Moutong mengakui mendapat edukasi.

Dia mengatakan, foto satelit ala Geogle yang disampaikan oleh Sritini Haris itu tidak sempat terlintas dalam benaknya selama ini. Hal itu kata Sayutin, sangat tepat dijadikan solusi dalam proses pendataan bantuan rumah terdampak bencana 28 September 2018 silam.

“Kami mengapresiasi apa yang disampaikan oleh ibu. Itu benar-benar sebuah solusi yang tepat,” terang Sayutin.

Advertisements
banner 970x90

Pos terkait